IBUKU PAHLAWAN KELUARGA Skip to main content

IBUKU PAHLAWAN KELUARGA

IBUKU PAHLAWAN KELUARGA

Diatas adalah foto ibu saya saat tahun 2003.


Ketika itu ibu berdagang kaki lima di emperan telepon umum yayasan Sekolah SD Islam PB. Jend. Soedirman Cijantung.

Ibu mulai merintis usaha dengan menjual aksesories. 
Modal awalnya sekitar 50 ribuan Rupiah di tahun 2000.
Kini 16 tahun kemudian usaha yang dirintisnya dengan susah payah itu telah berkembang menjadi 6 toko mainan lengkap. (Dikembangkan oleh 6 orang anaknya, tapi perintis awalnya adalah ibu saya)

Bukan perkara mudah bagi ibu saya untuk merintisnya.

Setiap hari selama bertahun-tahun beliau rela berjemur menantang panas, dan basah kuyup dibawah guyuran air hujan, demi ngumpulin duit recehan untuk bakal modal.
Sampai pada akhirnya beliau berhasil membentuk dan membina semua anak-anaknya sehingga bisa jadi orang juga.

Seorang ibu yg hebat! ☺

Kisahnya akan saya ceritakan selengkapnya.


Dalam hal rasa hormat, hampir semua orang akan sepakat lebih menghargai sejauh mana kesungguhan proses kerja keras kita. 
Jadi bukan ukuran berapa banyaknya uang atau kekayaan yang kita punya.
Karena kalau hanya banyaknya uang yang menjadi ukuran patokan, seorang anak konglomerat, walau tidak pernah bekerja keras, tetep saja duit warisan dan segala fasilitas yang dimilikinya sudah banyak, sebab orang tuanya kaya raya.

(Note : tapi setahu saya, seorang konglomerat yang punya prinsip akan tetap mendidik anak-anaknya dengan etos kerja keras, karena sebagian besar konglomerat itu memulai usahanya juga dari bawah).

Kisah nyata pada ibu saya, beliau adalah seorang perempuan yang sejak saya masih kecil, remaja, hingga sekarang saya dewasa, telah rela menantang panas terik matahari dan basah dibawah guyuran hujan ketika berdagang, demi mencari nafkah untuk anak-anaknya.



Sebenarnya ibu saya sudah biasa berdagang sejak masa gadisnya.

Setelah beliau menikah dengan ayah, kami sekeluarga pindah dari pariaman ke dumai provinsi riau. Keluarga kami pun menetap disana sejak tahun 1977 sampai tahun 1985.

Ketika di dumai itu ibu saya berdagang apa saja yg bisa dijual. Dulu beliau sering berjualan buah-buahan yang sedang musim, seperti rambutan, mangga, duku dan lain-lain.

Kebetulan keluarga saya tinggal di wilayah pelabuhan dumai yang ramai, sehingga buah-buahan yang ibu jual selalu laris manis.

Tahun 1985 usaha ayah bangkrut karena suatu hal, kami pun kembali pulang ke kampung halaman di pariaman sumatera barat.

Tahun 1989 keluarga kami pergi hijrah ke jakarta.

Waktu itu karena keluarga kami adalah orang yang baru datang di jakarta sehingga masih bingung harus memulai usaha darimana, apalagi kehidupan dijakarta yang begitu keras dan kejam. 
Walaupun keadaan sangat sulit, alhamdulillah waktu itu kami sekeluarga bisa sabar dan tegar menjalaninya.

Tahun 1990 ibu saya mulai mencoba membuka usaha apa saja. 
Dimulai dengan berjualan kelontong kecil-kecilan dirumah kontrakan, namun akhirnya usaha itu kandas karena sangat ketatnya persaingan. 

Tahun 1995 ibu mencoba usaha keripik singkong. 

Jadi ibu membeli singkong mentah ke pasar induk Kramat Jati, setelah itu singkong tersebut diparut dan digoreng sendiri dirumah, maka jadilah keripik singkong. 
Setelah dibungkus kecil-kecil kemudian diantar ke warung-warung kelontong.

Dalam proses pembuatan keripik singkong ini, ibu yang menggoreng dan saya kebagian tugas sebagai pemarut singkongnya. Bagian ini cukup berbahaya, kadang-kadang tangan tergelincir dan melesat ke pisau parutannya.

Alhasil ujung jari saya pun menjadi korban sampai berdarah-darah...,,,,hehehehe ☺

Pernah juga ibu membeli kue-kue kering yang sudah jadi di pabrik keripik. 
Kemudian kue itu dibungkus kecil-kecil, setelah itu dianter ke warung-warung kelontong.

Jangan pernah teman-teman berpikir kami mengantarnya pakai motor ya. ☺☺☺
Boro-boro pada saat itu keluarga kami mampu punya motor, lha wong buat makan saja susah!

"Lah trus nganternya pake apa bang?"

Diantar pakai apalagi kalau bukan BERJALAN KAKI...!! hehehe.... ☺☺

Pernah suatu waktu saya membantu menemani ibu mengantarkan dagangannya itu.
Rutenya keluar masuk kampung, dari warung-warung sekitar daerah Pasar rebo, tembus sampai daerah sekitar gudang air pasar induk Kramat Jati, terus hingga ke Condet.
Semuanya dengan berjalan kaki!

Alhasil setelah balik sampai rumah kontrakan di daerah ciracas, kaki nyut-nyutan pada gempooorr semua...!!! heheheh ☺

Pada awal tahun 2000 ibu mencoba berdagang aksesories dan mainan anak di emperan SD 01 pagi, Gang makmur ciracas. 

Modal awalnya sekitar 50 ribuan Rupiah. 
Waktu itu dagangan ibu yang paling laris adalah kartu yugi-oh, kertas file dan kartu uno. Ternyata dagangannya terus berkembang pesat., sehingga ibu bisa menyisihkan uang untuk ditabung.

Pada tahun 2003 ibu pindah lapak ke emperan SD Islam yayasan PB. Jend. Soedirman Cijantung. 
Disinilah awal perkembangan usaha mainannya semakin pesat, karena SD Islam soedirman adalah yayasan sekolah kalangan menengah ke atas, sehingga daya belinya cukup tinggi.

Yang saya kagumi dari sosok ibu, beliau adalah seorang wanita yang taat dalam mendirikan sholat. Walau ibu berdagang dilapak kaki limanya, ketika terdengar suara azan zuhur, beliau tidak ragu-ragu untuk segera meninggalkan lapaknya.

Ibu cukup berikhtiar dengan cara menutupi sekeliling lapaknya dengan terpal atau plastik putih, kemudian menitipkan kepada pedagang di sebelahnya.

Prinsip ini pulalah yang selalu di wanti-wanti oleh beliau kepada saya. 
Waktu saya masih dagang dipasar malam dulu, beliau sering berpesan : Amri, jangan sekali-sekali meninggalkan sholat walau kita sedang berdagang dilapangan. 
Titipkan saja kepada pedagang sebelah, insya Allah aman. 
Tidak mungkin sesama pedagang akan mengambil barang pedagang lain, itu pamali, pantangan, apalagi di titipkan untuk sholat" kata beliau.

Ada satu lagi kata-kata beliau yang selalu teringat sampai sekarang."Amri,,,,perkara sholat itu adalah perkara niat. Kalau niat telah kuat, orang perang saja yang taruhan nyawa masih bisa sholat" kata beliau. Jleeeeb!

Saya juga sangat bersyukur dianugrahi seorang ibu yang punya kebiasaan menabung. 
Beliau bukanlah seorang yang berpendidikan tinggi, tapi walau tidak berpendidikan tinggi, uniknya beliau punya pemikiran dan visi jauh ke depan, beliau pekerja keras, selagi mampu, beliau akan tetap "teguh berdiri dikaki sendiri" 

Pada tahun 2007 berkat kerja kerasnya, tabungan ibu semakin banyak, dan akhirnya beliau mencoba melebarkan sayap dengan membuka toko mainan di daerah condet. 

Alhamdulillah jalan kemajuan itu semakin terbuka, setiap lebaran tokonya selalu "meledak", sehingga ibu bisa menabung uang lebih banyak lagi. 

Tahun 2010 saya sendiri juga mulai membuka toko mainan. 
Dengan modal dari tabungan saya sendiri sebanyak 10 juta Rupiah. 
Ditambah dengan meminjam uang dari tabungan ibu saya senilai 20 juta Rupiah, dan pinjaman dari tabungan mazri (adik laki2 saya) senilai 5 juta Rupiah. 
Maka berdirilah sebuah toko mainan dengan label : Toko Mainan Serba Murah di daerah Pekayon Kalisari Jakarta timur.

Alhamdulillah toko saya pun juga berkembang begitu pesat. 
Pada tahun 2012 semua uang pinjaman dari ibu dan adik laki-laki saya bisa terbayar lunas! 

Memasuki tahun 2017 ini, stok mainan di toko saya semakin penuh dan padat. 
Tabungan pun otomatis juga ikut-ikutan padat, alhamdulillah, hehehe.... ☺☺

Pada tahun 2012 adik laki-laki saya (mazri) juga buka toko mainan di jalan inerbang Condet Jakarta timur, dan sekarang usahanya semakin maju, malah dia bisa buka cabang didaerah Kampung kandang Ragunan Jakarta timur.

Tahun 2015 adik perempuan saya (Lina) juga buka toko mainan di jalan batu ampar 3 Condet, sekarang usahanya sedang berkembang.

Di pertengahan tahun yg sama 2015 adik perempuan saya (Ides) juga buka usaha baju-baju impor bekas di Ciracas jakarta timur, sekarang usahanya sedang berkembang juga.

Dan yang satu lagi di pandeglang banten adik perempuan saya (Linda) menjual pakaian, cukup maju usahanya.

Yang terakhir si bungsu (Mila) mengurus toko mainan yang pertama kali ibu saya dirikan di Condet itu. Jadi sekarang ibu saya hanya tinggal tunggu laporan keuangan dari semua anak-anaknya.
Sekarang beliau bisa pensiun dan menikmati semua hasil kerja kerasnya selama ini.

Nah,,,,,sekarang sudah enak kan bu,,....? Tidak sia-sia semua perjuangan ibu selama ini,,,,heheheheheheheheh ☺

Semua keberhasilan ini terwujud berkat dukungan dan didikan penuh dari ibu saya. 
Ibu berhasil mendidik semua anak-anaknya dengan sedikit modal, bahkan bisa dibilang modal dari NOL, hingga akhirnya bisa berhasil berkat kerja keras dan doa yang tiada putus-putusnya, Aammmiin.

Ke depannya kami kakak beradik bersaudara insya Allah harus bisa makin berhasil.

Malu dong sama ibu yang perempuan lemah saja bisa berhasil, masa kita-kita yang muda dan tenaga masih kuat ini tidak bisa berhasil pula??

Lihatlah bagaimana gigihnya beliau berusaha seperti yang saya kisahkan diatas, dengan benar-benar modal dari NOL tanpa bantuan dana dari siapapun, tapi akhirnya bisa juga men-sukseskan semua anak-anaknya.

Rahasianya kita tidak boleh patah semangat! 
Gagal satu usaha, kita coba lagi jalan lain! 
Gagal lagi, gagal lagi, kita coba lagi! 
Hingga akhirnya bisa berhasil! 

Kuncinya harus kerja keras! Kerja keras, kerja keras, kerja cerdas dan berdoa tanpa henti!


ALHAMDULILLAH IBU....

AKHIRNYA SEMUA PENGORBANAN DAN KERJA KERASMU TIDAK SIA-SIA.
SEMOGA SEMUA MENJADI AMAL BAGIMU,,,,,,,,Aammiiiiin.
IBUKU ADALAH PAHLAWANKU, PAHLAWAN KAMI SEMUA.
IBUKU PAHLAWAN KELUARGA
FOTO BARENG IBU, TAHUN 2016.

Kisah ini diceritakan oleh : Bang izal.

Artikel Menarik Lainnya

Comments

POSTINGAN TERPOPULER

PUSAT GROSIR MAINAN ANAK DI JAKARTA Bagian 1 (Pasar Pagi Asemka)

BERAPAKAH MODAL AWAL BISNIS MAINAN?

PUSAT GROSIR MAINAN ANAK DI JAKARTA Bagian 3 (Pasar gembrong)

CARA MENGETAHUI HARGA GROSIR MAINAN TERMURAH DI ASEMKA

BEBERAPA JENIS USAHA MODAL KECIL DENGAN KEUNTUNGAN BESAR YANG PATUT ANDA COBA

Mau Berlangganan Artikel? Gratis!

Silahkan masukan e-mail anda dikotak, kemudian klik subscribe. Setelah itu jangan lupa anda cek link aktivasi yang kami kirimkan ke e-mail anda, kemudian klik dan aktifkan!

Delivered by FeedBurner