SEPATU RODA STORY, Prolog (Rugi Bandar) Skip to main content

SEPATU RODA STORY, Prolog (Rugi Bandar)

Kemarin ba'da zuhur, seorang teman yang juga punya toko mainan didaerah pasar Ciracas datang berkunjung ke toko saya.

Dia datang untuk bersilaturahmi, sambil berdiskusi tentang tips dan trik dalam dunia bisnis mainan.

Nah, dalam diskusi itu kemudian dia bercerita kepada saya tentang salah satu kompetitor alias pesaingnya.

SEPATU RODA STORY, Prolog (Rugi Bandar)

Ceritanya begini :


Ada seorang oknum pedagang mainan dipasar Ciracas Jakarta timur sedang mengalami galau berat. Disinyalir dia hampir mendekati stres, penyebabnya karena ulah dia sendiri.

Oknum ini sepertinya kurang memahami ilmu dalam berdagang. Hitung-hitungan pembukuannya kacau.

Tidak jelas hitungan berapa laba, berapa modal pokok yang keluar seperti modal untuk isi barang, berapa biaya operasional, berapa gaji karyawan, dan berapa biaya tak terduga yang telah dikeluarkan. Semuanya campur aduk!

Teman saya ini pernah diam-diam mengorek info dari mantan karyawan si oknum pedagang itu. Kebetulan karyawan itu bekerja dibagian kasir.

Dari pengakuan karyawan itu diperoleh informasi bahwa si oknum pedagang mainan ini sejak pertama kali buka toko dipasar itu memang sengaja menjatuhkan harga, supaya pangsa pasar mainan di ciracas itu sepenuhnya dikuasai olehnya.

Dari mantan karyawannya itu akhirnya terbongkar pula bahwa cara hitungan margin si oknum amburadul.

Misal sepasang sepatu roda modalnya adalah 200 ribu Rupiah.

Nah jika para pedagang lain biasanya menjual dengan kisaran harga standar eceran, yaitu rata-rata 250 ribu sampai 275 ribu Rupiah.

Tapi si oknum ini 'agak sedikit unik'.

Sepasang sepatu roda dijualnya hanya 230 ribu Rupiah, kadang 220 ribu juga dilepas.
Dia cuma mengambil keuntungan rata-rata 10%,

Dan satu yg pasti!
Berarti margin 10% itu masih laba kotor lho!

Entah bagaimana cara hitungan si oknum untuk membayar sewa tokonya dan membayar gaji karyawan serta biaya dia sehari-hari dengan keluarganya.

Mungkin sawah dan tanah dikampungnya luas.
Jadi nanti kalau kepepet 'kan tanah dikampung itu bisa dijual buat kembali nyiram modal toko mainannya. Nah dari situlah sumber dana untuk menutupi biaya operasional tokonya sehari-hari. Cerdas!

Dan saya mencoba untuk berprasangka baik saja. 
Mungkin dia ini buka toko mainan dipasar itu motifnya untuk membantu orang-orang yang kurang sanggup beli mainan didaerah sana.

Yah semacam aksi bakti sosial dibidang mainan anak. Demikian menurut hemat saya, mudah-mudahan bener.
Wwkwkwkwk 😢😢😢

Sebenarnya pedagang mainan lain disekitar pasar ciracas itu juga sudah lama resah dan kesal dengan tindakan si oknum yang suka menjatuhkan harga ini. Pernah ditegur secara baik-baik supaya jangan suka menjatuhkan harga pasaran, eh malah ngeyel!

Sudah dijelaskan secara baik-baik bahwa kalau harga terus dia rusak dan jatuhkan, maka bisa memicu pedagang mainan lain juga menjatuhkan harga. Akhirnya timbulah persaingan yang tidak sehat. 
Tapi dia tidak mau perduli.

Ya terang saja dia tidak mau perduli, lha wong niat awalnya saja sudah jelek. Karena serakah dan ingin semua orang hanya membeli ditokonya saja.

Akhirnya pedagang lain membiarkan saja.

Menurut teman saya yang juga pedagang mainan itu, dia mengimbangi cara tidak sehat si oknum tadi dengan cara memberikan servis terbaik dan bonus khusus kepada setiap pembeli di toko mainannya. 
Jadi bila pelanggannya membeli mainan dalam jumlah tertentu maka akan mendapat bonus khusus, biasanya berupa mainan atau potongan harga.

Dia juga memberikan pelayanan servis gratis untuk mobil remote tipe tertentu (ukuran besar). Jadi jika pelanggannya membeli jenis mobil remote tertentu, dan bila suatu saat mengalami kerusakan, maka akan mendapat pelayanan servis gratis.

Dengan semua pelayanan servis maksimal yang diberikannya itu, walau harga banderol yang ditetapkannya adalah harga standar, pelanggannya tetap setia pergi berbelanja ke tokonya.
Sangat berbeda sekali dengan si oknum toko mainan tadi.

Karena jurus andalannya hanya dengan menjatuhkan harga, sedangkan skill dan ilmu berdagangnya minim, sehingga dia tidak pandai cara melayani pembeli dengan baik.

Menurut informasi mantan karyawannya, si oknum itu sangat jutek ketika melayani pembeli. Tidak ramah dan sering cuek ketika melayani tiap pembelinya.

Mungkin karena dia merasa karena harga mainan dia sudah paling murah, sehingga dia merasa jumawa. Dari arti kata, dia merasa pembeli pasti membutuhkan dia dan pasti berbelanja ke tokonya. 
Padahal walau pun harga toko kita semurah apapun, tapi jika pelayanan mengecewakan tetap saja pembeli akan kabur.

Pemahaman seperti inilah yang tidak dimiliki oleh si oknum pedagang itu. Mungkin karena ilmu dan pengalamannya masih terbatas.

Nah, sekarang terdengar kabar bahwa si oknum pedagang mainan itu sedang 'menuai badai' akibat perbuatannya sendiri.

Pasal yang membuat dia galau karena pembeli yang datang ke tokonya itu sulit sekali untuk menerima kenaikan harga barang. (note : akhir-akhir ini harga modal mainan memang sering naik dari pusatnya).

Padahal harga mainan yang dia jual sudah sangat murah sekali, tapi tetap saja masih ada pembeli yang menawar.

Malahan ada pembeli yang menawar dibawah harga modal, piye toh,,,??

Lah! sedangkan sewa kontrak toko saya yang tiap tahunnya selalu naik mereka gak mau tau, setres aku, katanya wkwkwkwk ☺☺☺☺


"Demikianlah kabarnya si oknum pedagang mainan itu sekarang sedang galau berat" sahut teman saya meneruskan ceritanya.

Kabar dari teman saya ini cukup valid kebenarannya, sebab dia mendapatkan informasi dari cerita si ngkoh grosir/ pusat importir.

Importir ini adalah langganan si oknum itu setiap berbelanja stok mainan.

Kebetulan sekali teman saya ini kalau berbelanja stok mainan juga ke tempat importir yang sama. Nah, karena si ngkoh itu sudah cerita, sehingga dia jadi tahu semuanya.

Jadi lanjutan ceritanya begini : 
Si oknum toko mainan itu belakangan ini sering mengeluh ke importir mainan.

Dia berkeluh kesah kenapa mainan selalu naik ya harga modalnya?

Apalagi harga sepatu roda yang sekarang lagi ngetrend, tiap sebentar naik terus harga modalnya.

Dia mengeluh karena semua barang yang dia jual ditokonya selama ini hanya mengambil margin rata-rata 10-15%.

Sedangkan akhir-akhir ini harga modal mainan selalu naik, rata-rata kenaikannya mencapai 10%-15%.
Penyebab harga naik karena sekarang ada peraturan wajib SNI mainan.
Sehingga membuat proses birokrasi mainan sekarang semakin rumit.
Jadi barang impor makin sulit masuk, prosesnya lama + barang langka = harga naik.

Riweuh!!
Setreesss gue! katanya si oknum. wkwkwkwk ☺☺☺☺☺☺☺☺☺

Si ngkoh importir mainan itupun menimpali :
"Makanya maaas, kalo mau dagang itu cari ilmunya dulu".
"Lah kalo senjata andalannya cuma bisa main jual murah kayak sampeyan, semua orang pasti juga bisa dagang mainan mas" seloroh importir itu sambil setengah bercanda.
Si oknum itupun cuma bisa tersenyum gak ikhlas (kecut).

Demikian cerita si ngkoh importir, dituturkan kembali kepada saya oleh teman yang sedang berkunjung ke toko saya itu.

Jam 5 sore teman saya yang pedagang mainan itupun pamit pulang.

Meninggalkan cerita yang sangat bagus dijadikan sebagai pelajaran untuk semua pedagang, khususnya pedagang mainan.


Artikel Menarik Lainnya

Comments

POSTINGAN TERPOPULER

PUSAT GROSIR MAINAN ANAK DI JAKARTA Bagian 1 (Pasar Pagi Asemka)

BERAPAKAH MODAL AWAL BISNIS MAINAN?

PUSAT GROSIR MAINAN ANAK DI JAKARTA Bagian 3 (Pasar gembrong)

CARA MENGETAHUI HARGA GROSIR MAINAN TERMURAH DI ASEMKA

BEBERAPA JENIS USAHA MODAL KECIL DENGAN KEUNTUNGAN BESAR YANG PATUT ANDA COBA

Mau Berlangganan Artikel? Gratis!

Silahkan masukan e-mail anda dikotak, kemudian klik subscribe. Setelah itu jangan lupa anda cek link aktivasi yang kami kirimkan ke e-mail anda, kemudian klik dan aktifkan!

Delivered by FeedBurner