CATATAN PERJALANAN USAHAKU Bagian 3 (Hijrah total ke Jakarta) Skip to main content

CATATAN PERJALANAN USAHAKU Bagian 3 (Hijrah total ke Jakarta)

CATATAN PERJALANAN USAHAKU Bagian 3 (Hijrah ke Jakarta)
Ke jakarta aku 'kan kembali.

Assalamualaikum teman-teman semua.

Jumpa lagi sama Bang izal ☺

Setelah 3 hari vakum menulis karena dalam beberapa hari ini saya sangat sibuk mengurus toko offline. Alhamdulillah sekarang ada waktu senggang sedikit, sehingga bisa saya manfaatkan untuk kembali menulis artikel.

Pada artikel CATATAN PERJALANAN USAHAKU Bagian 2 (Jualan kaset VCD) telah saya kisahkan perjuangan saat-saat awal merantau. Ya, tujuan perantauan saya yang pertama kali adalah ke Pasar Pandeglang Banten. Bagi teman-teman yang belum membaca kisah sebelumnya, silahkan klik saja link diatas.

Masa awal merantau ini sungguh benar-benar perjuangan yang sangat sulit. Banyak sekali kendala yang saya hadapi, yang paling utama sekali ketiadaan modal dan masih minimnya skill yang di miliki. Maklum saja, namanya orang masih newbie alias anak baru di rantau, tentu saja saya masih 'cupu', belum tahu apa-apa hehehe 😢😢😢

Ciri paling utama orang yang baru merantau itu adalah, masih kaku dalam bersosialisasi dan belum pandai melobi orang lain (gak pinter ngomong). Sedangkan kalau 'medan tempur' di pasar itu banyak sekali terjadi intrik-intrik di dalamnya, ya kurang lebih hampir sama seperti orang yang main politik dalam konteks perebutan kekuasaanlah hehe ☺.

Mungkin ada di antara teman-teman yang penasaran dan bertanya : "Penuh intrik gimana sih bang izal?"

Teman-teman masih ingat tidak? Pada bagian alinea terakhir artikel sebelumnya, saya katakan : "ada suatu kejadian yang akhirnya menjadi pemicu saya memutuskan untuk hijrah total ke jakarta".

Apakah sebabnya?, nah pada artikel inilah akan saya ceritakan ☺.

Lapak terkena penertiban. 

Di kisah sebelumnya telah saya jelaskan, bahwa di pasar pandeglang itu tiap 6 bulan sekali pasti selalu ada penertiban pedagang kaki lima. Jadi semua pedagang kaki lima yang di emperan jalan harus di pindahkan ke tempat khusus di bagian belakang pasar yg kurang strategis.

Nah, pada penertiban yang pertama lapak saya masih bisa lolos (tidak kena penertiban) karena posisi lapak berada di dalam gang, bukan di pinggir jalan. Tapi tiba pada saat penertiban berikutnya, lapak saya tetap 'kena libas' dan harus di pindahkan juga. Jadi penertiban yang kedua ini adalah penertiban besar-besaran. Semua pedagang kaki lima yang di pinggir jalan ataupun di dalam gang harus dipindahkan semua tanpa pengecualian!

Nah, di sinilah terjadi banyak intrik. Main kekuatan uang dan perang urat syaraf untuk melobi 'orang dalam' (pasar).

Maksudnya begini teman-teman,,,, Memang harus saya akui bahwa posisi lahan atau lapak dipasar itu tidak bisa di klaim seenak kita. Tapi idealnya kalau mau secara adil, cara yang terbaik seharusnya dengan sistem undian.

Jadi siapa saja yang mendapat tempat yg strategis ataupun kurang strategis (hasil dari undian itu), ya harus rela menerimanya. Harus fair dan adil. Apapun hasilnya, berarti memang begitulah ketentuan rezekinya.

Tapi seperti apakah praktek yang terjadi di lapangan?
Kenyataan yg berlaku : Barang Siapa yang punya modal paling kuat dan punya kenalan dekat orang dalam (pasar), dialah yang akan mendapat tempat paling depan! Kalau perlu pas di pintu masuk!.

Nah, masalahnya siapalah diri saya ini pada saat itu? Cuma 'anak bawang' yang belum punya skill, belum punya pengalaman, belum punya koneksi, apalagi uang!
Saat itu modal yang saya punya hanya ada 3, yaitu semangat, kemauan, sepasang kaki dan tangan ☺

Begitulah yang terjadi.

Akhirnya saya harus menerima kenyataan (lagi-lagi) mendapatkan posisi lapak yang paling belakang, malah posisi yang sekarang ini lebih parah dan 'lebih mati' dibandingkan dengan lapak sebelum terkena penertiban. Lapak yang dulu memang berada didalam gang, tetapi lokasinya masih dekat pinggir jalan.

Nah, kalau lapak yg sekarang?

Sudahlah tempat penampungan kaki limanya terisolasi, jauh dari jalan raya, pembeli yang datang mesti naik tangga dan ditambah posisi lapak saya yang paling belakang!
TAMATLAH SUDAH RIWAYATNYA! wkwkwkwkwkwk 😢😢😢😢

Dalam kondisi pahit dan sulit seperti itu, saya sempat bertahan selama 3 bulan. Selama kurun waktu itu, tahukah teman-teman cuma berapa keping kaset VCD yang terjual perharinya?
Rata-rata cuma laku 5 Pcs per hari, kadang malah tidak penglaris sama sekali!
Pediiiiiiiiiih!! hehehe 😢😢😢

Mulai berfikir mencari jalan keluar/hijrah (2003).

Setelah 3 bulan berjalan, saya mulai berfikir,,,,,,,,,
Tidak mungkin selamanya saya akan begini terus. Bisa-bisa tua dan habis di sini saja umur saya, sedangkan nasib tidak akan pernah berubah.

Buat apa bertahan terus kalau kenyataannya memang tidak memungkinkan ada perubahan? Daya beli di sana juga sangat rendah, masa-masa penjualan yang paling ramai hanyalah pada saat lebaran.

Atau kalau orang dari gunung berhasil panen. Nah berapakah kali kah panen dalam setahun?
Seingat saya di pandeglang itu panen hanya 2 kali setahun.
Itupun kalau panennya berhasil!

Kalau panen gagal?
Ya para pedagang tetap saja gigit jari! 😢

Satu lagi yang jadi pertanyaan : Memangnya pasar cuma ada di pandeglang saja?
Tidak adakah pasar lain?

Buat apa kita biarkan diri dan usaha kita menjadi statis, buntu dan tidak berkembang?
  • Peluang dan pasar dalam bisnis itu sangat luas, kalau kita 'mati' di satu tempat (lokasi), maka kita harus berani pindah ke lokasi lain. 
  • Begitu juga kalau kita tidak cocok dalam satu jenis usaha, harus berani belajar dan mendalami jenis usaha lain, sampai ketemu yang paling cocok dan sesuai dengan passion kita. 
  • HARUS BERANI HIJRAH!

#Seorang pebisnis yang tulen itu harus bersifat dinamis dan penuh improvisasi! Karena di situlah salah satu kunci kesuksesan!

Kembali ke topik.

Akhirnya mulai terbetik ide di kepala saya untuk pergi melakukan survey ke jakarta, kenapa pada saat itu jakarta jadi pilihan saya untuk hijrah?
Sebab telah saya dengar informasi, bahwa para pedagang kaki lima di jakarta banyak yang berhasil dan sukses.

Akhirnya saya pergi ke jakarta, untuk sementara jualannya di libur dulu. Saya survey pertama kali ke Mall Cijantung kemudian ke pasar kramat jati, kemudian berputar lagi ke arah depok bahkan sampai ke bogor!

Setelah survey selama kurang lebih 2 minggu, saya melihat perbedaan yang sangat mencolok antara pangsa pasar di pandeglang dengan jakarta. Jauuuuuuuh sekali bedanya.

Di jakarta, rata-rata bagi pedagang kaset VCD kalau cuma laku 20 keping per hari, itu termasuk hitungan sepi. Bagi pedagang di jakarta, kalau sudah laku 50 keping perhari, itu baru bisa di sebut standar omset normal.

Sebenarnya, tidak mengherankan kalau pedagang di jakarta lebih banyak persentase omsetnya, karena jakarta adalah pusat kota dan tingkat pertumbuhan ekonominya tentu jauh berbeda dengan daerah.

Oleh karena itulah, sejak mengetahui semua fakta tersebut maka telah bulat tekad saya untuk hijrah total ke jakarta, dan,,,,, Selamat Tinggal Pasar Pandeglang,,,,,,😢😢😢

Namun teman-teman,,,,Bagaimanapun pahitnya selama saya berdagang di pasar pandeglang itu, tapi tetap di sanalah awal langkah perantauan saya. Di sanalah tempat saya belajar ilmu bisnis dan terdidik secara alami. Terdidik untuk tetap sabar ditengah kesulitan dan tetap suvive sesulit apapun keadaannya.

Karena di setiap kesulitan itu pasti ada sisi hikmahnya. Semakin sulit keadaan dengan sendirinya otak kita pun jadi berputar untuk mencari jalan keluar. Dan di sanalah sumber 'bahan bakar' untuk berimprovisasi dan sumber kreatifitas dalam berbisnis.

Buktinya,,, karena saking sulitnya keadaan saya berdagang di sana pada saat itu, akhirnya timbul ide di kepala saya untuk mencari tempat perantauan yang lebih baik! yaitu memutuskan hijrah ke Jakarta! Dan memang pada akhirnya di jakartalah kesuksesan itu dapat saya raih. Itulah sisi hikmahnya! 😢

Seandainya kondisi saya saat di pandeglang itu terbilang standar atau datar-datar saja, dalam arti di katakan maju tidak, di sebut terjepit pun juga enggak alias kondisi tanggung, nah,,,,mungkin saya masih tetap berdagang disana sampai sekarang.

Masalah baru pada awal hijrah ke jakarta.

Akhirnya saya benar-benar fix hijrah total ke jakarta. Semua kaset VCD, TV dan berbagai perlengkapan berdagang saya boyong semua ke jakarta.

Apakah setelah saya tiba di jakarta lantas semua langsung berjalan dengan mudah? BELUM!! Perjuangan masih panjang hehehe ☺.

Berbagai kesulitan baru yang saya alami pada awal hijrah ke jakarta adalah : masih bingung mau berbuat apa, langkah apa yang mesti di lakukan, dan mulai darimana! Ini memang masalah klasik yang pasti di alami oleh semua perantau yang baru hijrah.

Di kondisi seperti inilah mental kita benar-benar di uji. Apakah kita sanggup untuk sabar mencari jalan keluar dan memecahkan permasalahannya? Atau justru malah mundur ke belakang, tidak mau maju lebih jauh lagi.

Ya! 

Masalah itu antara lain rasa bingung dan canggung, karena kita belum tahu 'medan dan lapangan' di tempat yg baru, bingung mau cari lapak berdagang dimana, karena di jakarta tidak bisa berdagang kaki lima sembarangan. 

(Hmmm,,,Sebenarnya bisa saja sih langsung aja buka lapak kaki lima di pinggir jalan, tapi itu butuh keberanian dan cuma berani di lakukan oleh pedagang kaki lima yang sudah senior dan menguasai lapangan) 

Lah,,,,sedangkan saya waktu masih anak baru alias 'anak bawang' di jakarta, manusiawi sekali kalau masih ada timbul rasa canggung dan gamang di hati saya hehehe ☺☺☺.

Karena belum juga mendapatkan lapak, akhirnya (daripada terlalu lama tidak berdagang) saya pun berjualan di kios jahit ayah saya. Namun, karena lokasi kios ayah bukanlah di tempat yang ramai dan banyak orang yang lalu lalang, sehingga jumlah kaset VCD yg laku per harinya tidak jauh berbeda dengan di pasar pandeglang.

Saya pun memutar otak dan kembali berusaha berkeliling untuk mencari lapak kaki lima. Keliling dari pasar yang satu berpindah lagi ke pasar yang lain. Mulai berangkat dari rumah saya di daerah ciracas terus ke daerah cibubur, kemudian keliling ke arah depok. Setelah itu lanjut keliling tembus ke lenteng agung dan pasar minggu.

Kendala yang paling umum saya temui di tiap pasar yaitu : Harga sewanya mahal dan kebanyakan lapaknya telah penuh oleh pedagang yang lama, kalaupun ada tempat tersisa, posisi dan kondisinya hampir sama seperti di pasar pandegalang. Emoh! Ogah! hehehe ☺☺☺

Ada sekitar sebulanan saya berkeliling mencari tempat di sekitaran pasar ciracas - cibubur - depok - kramat jati - cibubur - pasar minggu. Sekali waktu dalam keletihan setelah berkeliling, saya beristirahat sambil termenung di depan BLK (balai latihan kerja) yang berlokasi dekat lampu merah Mall Graha Cijantung. 

Menemukan jalan keluar.

Dalam termenung memikirkan langkah apalagi yang akan saya tempuh, tiba-tiba saya di panggil oleh seseorang. Ternyata dia si iwan, saya kenal dia karena sama-sama mengontrak dikos-kosan. Waktu itu dia sedang akan pergi berdagang ke pasar malam, dan ketika lewat depan graha secara kebetulan dia melihat saya.

Saya pun bercerita dan sekaligus curhat sama si iwan ini, "bingung mau cari lapak kemana lagi,,,, sudah penuh semua, kalaupun ada sewanya mahal sekali" tutur saya.

Si iwan ini pun menimpali : "Kenapa harus bingung- bingung Am! (FYI dia memanggil saya 'am', karena nama asli saya adalah Amrizal ☺)
"Ikut dagang ke pasar malam bareng saya aja, soal lapak biar nanti saya yang urus, saya kenal baik sama pengurus group pasar malamnya, itu bisa di atur!" kata si iwan.

Teman-teman,,,,,Mendengar kata si iwan ini, perasaan saya saat itu kalau di ibaratkan seperti orang yang terdampar di padang pasir luas dan sangat kehausan, tiba-tiba secara tidak sengaja menemukan oase yang tersembunyi di balik sebuah bukit. Lega dan penuh dengan harapan baru!

Ternyata benar janji Tuhan itu, dibalik kesulitan itu pasti ada kemudahan. Setelah kita di uji sampai ke puncak usaha dan kemampuan kita, tiba-tiba di situlah datang jalan keluarnya ☺.

Sejak saat itulah saya mulai ikut group pasar malam dengan si iwan ini.

Ya! berpetualang dagang di pasar malam. Berpindah dari satu lapangan ke lapangan yang lain. Sekali acara pasar malam biasanya berjalan 2 minggu, tempatnya dilapangan kosong suatu daerah. Kalau acara besar (iedul fitri) biasanya acara bisa sampai satu bulan. Tempat acaranya jauh-jauh, keluar daerah bahkan luar provinsi.

Bagaimana kisah dan suka duka saya selama berdagang di pasar malam?

Sabar teman-teman,,,,Nanti akan saya lanjutkan kisahnya di Seri artikel CATATAN PERJALANAN USAHAKU Bagian 4 (Berpetualang di pasar malam) .

Kalau sekalian di ceritakan sekarang, nanti bisa jadi terlalu panjang artikelnya hehehe ☺ 
Oke, sampai di sini dulu kisahnya ya teman-teman, lanjutannya akan saya tulis dan release secepatnya.

Semoga sukses selalu untuk teman-teman semuanya.

Salam.

Penulis by : Bang izal.

Artikel Menarik Lainnya

Comments

  1. Pasar malam nya pernahkah transit di jateng bang?

    ReplyDelete
  2. Di Jawa daerah yg paling jauh yg saya ikuti saat itu baru nyampae Cirebon om, itu sekali2 Klo ada acara hari besar seperti lebaran aja.
    Klo acara pasar malam rutin biasanya di sekitaran Jabodetabek.

    ReplyDelete

Post a Comment

-Di izinkan untuk membagikan artikel/konten yang ada di blog Bang Izal Toy ini.
- Mohon maaf sebelumnya : no iklan, no spam, no titip link
Semua akan masuk folder spam
- Penjelasan aturan selengkapnya silahkan lihat T.O.S
Terimakasih atas kunjungan Anda.

POSTINGAN TERPOPULER

PUSAT GROSIR MAINAN ANAK DI JAKARTA Bagian 1 (Pasar Pagi Asemka)

BERAPAKAH MODAL AWAL BISNIS MAINAN?

PUSAT GROSIR MAINAN ANAK DI JAKARTA Bagian 3 (Pasar gembrong)

CARA MENGETAHUI HARGA GROSIR MAINAN TERMURAH DI ASEMKA

BEBERAPA JENIS USAHA MODAL KECIL DENGAN KEUNTUNGAN BESAR YANG PATUT ANDA COBA

Mau Berlangganan Artikel? Gratis!

Silahkan masukan e-mail anda dikotak, kemudian klik subscribe. Setelah itu jangan lupa anda cek link aktivasi yang kami kirimkan ke e-mail anda, kemudian klik dan aktifkan!

Delivered by FeedBurner