CATATAN PERJALANAN USAHAKU Bagian 5 (Persaingan tidak sehat di pasar malam) Skip to main content

CATATAN PERJALANAN USAHAKU Bagian 5 (Persaingan tidak sehat di pasar malam)

CATATAN PERJALANAN USAHAKU Bagian 5 (Persaingan tidak sehat di pasar malam)
Foto by : Pixabay. com


Assalamualaikum teman-teman semua.
Jumpa lagi cerita bareng bang izal ☺

Alhamdulillah kembali berkesempatan ada waktu luang untuk menulis artikel. Biasanya saya mulai menulis artikel di saat sore hari, karena saat pagi sampai siang hari saya selalu sibuk membuka dan mengurus toko fisik (RC.Toys).

Demikianlah,,,, jika sedang ada waktu senggang dan santai, saya kembali menuliskan semua catatan, ide-ide dan pemikiran di blog ini. Kegiatan menulis mengalir apa adanya, tanpa beban, paksaan ataupun dikejar-kejar waktu. 
Sehingga kegiatan menulis ini menjadi suatu kenikmatan tersendiri bagi saya pribadi. Mungkin juga karena pada dasarnya saya memang hobi menulis, sehingga selalu bisa menikmatinya.

Baiklah, mari kembali kita lanjutkan seri napak tilas kisah perjalanan usaha saya.

Pada artikel CATATAN PERJALANAN USAHAKU Bagian 4 (Berpetualang di pasar malam) telah saya ceritakan masa-masa senang dan sukanya berdagang kaset Vcd di pasar malam pada tahun 2003an.

Ditahun 2003 itu pasaran harga Kaset Vcd masih bagus. Pedagang kaset Vcd biasanya terdiri dari tiga tipe, yaitu pedagang yang mangkal di counter Mall, lapak pasar tradisional dan emperan kaki lima di pasar malam.

Pedagang di counter Mall dan lapak pasar tradisional biasanya menjual kaset Vcd lengkap dengan kemasan kotak tempat piringan cakram Vcd nya. 
Sedangkan para pedagang yang mengobral di emperan kaki lima seperti pasar malam kebanyakan menjual dengan tanpa kotak kemasan. Jadi hanya cakram Vcd di bungkus plastik dengan sampul covernya.

Waktu itu kaset Vcd yang pakai kotak kemasan seingat saya harganya 7.000 - 8.000 ribu per keping.
Sedangkan kalau yang tanpa kotak kemasan biasanya di jual dengan cara di obral. Saat tahun 2003 itu rata-rata di obral dengan harga 10.000 rupiah per 3 keping kaset Vcd.

Saat itu, seingat saya modal perkeping Vcd adalah 1.350 rupiah, sedangkan modal kotak kemasannya berbeda-beda tergantung bahannya. Kotak Vcd dari bahan yang bagus(mika) modalnya 800 rupiah, dan yang biasa(plastik) modalnya 500 rupiah.

Jadi total modal untuk satu keping Vcd dengan kotak kemasan sekitar 2.150 rupiah. Jadi para pedagang di Mall dan lapak pasar tradisional bisa mendapatkan margin sekitar 5.000 rupiah per keping Vcd.

Sedangkan pedagang yang menjual secara obral 3 pcs 10.000 dengan cara mengemper di pinggir jalan atau pasar malam, juga bisa mendapatkan margin sekitar 5.000 rupiah per 3 keping Vcd tersebut.

Pokoknya sepanjang tahun 2003 itu berdagang kaset Vcd terasa manis sekali bagi saya. Bahkan dari hasil bersih berdagang sepanjang tahun itu, saya bisa membeli sebuah motor Honda GL second dan tabungan senilai 10 juta rupiah.

Kembali memasuki masa sulit.

Namun masa 'bulan madu' itu hanya sebentar, hanya berjalan kurang lebih selama enam atau delapan bulan.

Apa sebab?

Memasuki pertengahan tahun 2004 sudah mulai banyak 'virus-virus' yang merusak.

Yah seperti biasalah,,,, 
Virus yang banyak terjadi dan menggerogoti jenis usaha dengan produk yang murah, barangnya mudah di dapat dan di tiru orang seperti kaset Vcd ini.
Virusnya apalagi kalau bukan fenomena Hancurin Harga!

Tidak bisa di pungkiri, memang begitulah praktik yang terjadi pada kebanyakan pedagang dikaki lima. Menjatuhkan harga bagi mereka adalah cara yang paling cepat dan instan untuk mengalahkan pedagang lain didalam kancah persaingan. 

Tapi tanpa mereka sadari, cara bersaing dengan menghancurkan harga itu, juga menjadi bumerang dan senjata bunuh diri paling mematikan bagi para pedagang itu sendiri.

Bayangkan saja, jika di tahun 2003an harga satu keping Vcd dengan kotak kemasan di Mall dan lapak pasar tradisional masih rata-rata 7.000-8.000an. Maka pada tahun 2004 mulai anjlok harga pasarannya menjadi 6.000 rupiah per keping. Memasuki tahun 2005 makin terjun bebas harganya menjadi 5.000 rupiah per keping Vcd.

Fenomena lebih menyedihkan adalah yang terjadi di lapak kaki lima pasar malam. Jika pada tahun 2004 harga mulai rusak karena di obral 10.000 rupiah per empat keping Vcd, 
maka pada tahun 2005 harganya makin jatuh nyungsep menjadi 5.000 rupiah per tiga keping Vcd.
Rusak Parah! wkwkwkwkwk 😢😢😢😢

Nasib harga Vcd di counter Mall dan lapak pasar tradisional masih agak sedikit lebih baik daripada harga Vcd di pasar malam. Jika di Mall dan lapak pasar tradisional, pasaran harga serendah-rendahnya sampai 5.000 perkeping pun, masih ada sisa margin kotor bagi para pedagang disana sebesar 2.500 rupiah.

Kenapa harga di Mall dan pasar tradisional bisa bertahan? Pedagang disana berusaha menjaga harga supaya tidak terlalu jatuh, karena mereka harus membayar biaya sewa tempat yang cukup besar. 
Sebenarnya pedagang di Mall dan pasar tradisional ini dalam kondisi dilematis.

Mereka tetap berusaha bertahan menjaga pasaran harga agar bisa tertutupi semua biaya untuk sewa tempat dan biaya yang lainnya. Tapi di sisi lain ada pihak yang begitu gencar menjatuhkan harga pasaran.

Sehingga membuat omset pedagang Mall dan pasar tradisional jauh menurun, karena banyak pembeli yang lebih memilih untuk berbelanja pada pedagang di tempat lain itu.

Siapa dan dimanakah pedagang lain itu?
Ya, siapa lagi kalau bukan para pedagang di pasar malam!

Di pasar malam dari waktu ke waktu praktik banting harganya sudah benar-benar di luar batas kewajaran. Salah satu penyebab karena murahnya biaya sewa tempat di pasar malam itu, sehingga mereka tidak ada beban sebagaimana pedagang kaset Vcd di Mall dan lapak pasar tradisional. Juga karena kebanyakan para pedagang dipasar malam hanya memilih cara bersaing yang instan.

Pasaran harga semakin hancur.

Pada akhir tahun 2004 sudah mulai ada pedagang yang banting harga menjual 6.000 rupiah per tiga keping Vcd. Memasuki tahun 2005 ada yg lebih gila, mengobral 5.000 rupiah per tiga keping Vcd. 😢😢😢😢😢😢😢😢😢😢

Bagaimanakah cara hitungan para pedagang yang menjual 5.000 per tiga keping ini? 
Jika modal satu keping Vcd 1.350 rupiah di kalikan tiga, maka menjadi 4.050 modalnya.

Mungkin ada di antara teman-teman yang heran, dan bertanya :

"berarti tiga keping Vcd cuma dapat margin 950 rupiah dong?" 
"Masa mereka dagang cuma buat kerja bakti?"

Ternyata cara mereka begini teman-teman,,,,

Jadi di grosiran kaset VCD glodok itu ada yang namanya membeli stok per paket isi 10 keping. Misalnya satu jenis kaset Vcd penyanyi peterpen, di paket sebanyak 10 keping dengan harga 12.000 rupiah. Jadi pedagang itu bisa mendapatkan harga 1.200 rupiah per keping Vcd peterpan itu.

Jika dikalikan 3 keping berarti mereka terkena modal sebanyak 3.600 rupiah. Sehingga di tiap 3 keping Vcd mereka mendapatkan margin kotor 1.400 rupiah.

Cara seperti ini hanya mampu dilakukan oleh pedagang yang bermodal kuat. Bagi yang bermodal lemah, ya harus rela mati pelan-pelan. Hukum rimba, siapa yang kuat dialah yang menang!
Sekilas tampak pintar ya mereka?

Sebenarnya tidak terlalu pintar juga teman-teman,,,,,,,☺

Karena yang namanya praktik perang harga itu pasti akan memicu persaingan yang tidak sehat. Lama kelamaan pasti akan terus berlanjut menuju jurang yang paling bawah. 

Mereka memakai cara seperti itu, nanti akan banyak lagi pedagang lain yang meniru cara yg sama. Pada akhirnya tidak ada satupun dari mereka yang mendapatkan apa-apa. 

Mereka tampak berdagang tapi sebenarnya kerja bakti. Ibarat kata pepatah : Kalah jadi abu, menang menjadi arang! 

Fenomena banting harga ini pernah saya kritik cukup tajam di salah satu artikel saya, boleh dibaca : JURUS PENDEKAR MABOK (Banting harga)

Teman-teman, dalam kondisi berdagang dengan persaingan yang tidak sehat itu, saya hanya bisa bertahan sampai akhir tahun 2005. Memasuki awal tahun 2006 saya mulai berfikir untuk mencari lahan dan jenis bisnis yang baru. Berdagang kaset Vcd di pasar malam sudah tidak mungkin di pertahankan lagi karena pasaran harganya sudah terlanjur hancur dan rusak akut.

Tahun 2006 awal akhirnya pasar malam benar-benar saya tinggalkan.

Seperti yang telah saya sebutkan di artikel sebelumnya, bahwa kita harus punya keyakinan peluang dan pangsa pasar dalam bisnis itu sangat luas. 
Jika kita mentok di satu jenis usaha, maka harus berani mencoba, belajar dan mendalami jenis usaha yang lain. Hingga tiba pada suatu saat nanti ditemukan bidang usaha yang paling cocok dengan passion kita.

Terus terang sejak dari masa-masa awal, yaitu berprofesi sebagai penjahit diumur 15 tahun, sampai pada tahap saya telah berhasil menemukan bidang passion yang paling cocok, yaitu bisnis mainan sekarang ini, kalau di hitung-hitung ada sekitar 10 jenis usaha dan dagangan yang pernah saya coba dan jalani.

Berdagang kaset Vcd ini hanyalah salah satu jenis dagangan saya. Dan kita masih di pertengahan kisah perjalanan☺.

Jenis bisnis dan dagangan apa lagikah yang saya jalani ditahun 2006?
Medan lapangan mana lagikah yang saya jelajahi untuk meneruskan petualangan?

Kisahnya pasti akan di lanjutkan pada seri CATATAN PERJALANAN USAHAKU Bagian 6 (Belajar dagang sate padang)  ☺.

Baiklah teman-teman semua, sampai di sini dulu ya, lanjutannya akan segera saya tulis secepatnya.
Semoga sukses selalu untuk teman-teman semua.

Salam.

Penulis by : Bang izal.

Artikel Menarik Lainnya

Comments

Post a Comment

-Di izinkan untuk membagikan artikel/konten yang ada di blog Bang Izal Toy ini.
- Mohon maaf sebelumnya : no iklan, no spam, no titip link
Semua akan masuk folder spam
- Penjelasan aturan selengkapnya silahkan lihat T.O.S
Terimakasih atas kunjungan Anda.

POSTINGAN TERPOPULER

PUSAT GROSIR MAINAN ANAK DI JAKARTA Bagian 1 (Pasar Pagi Asemka)

BERAPAKAH MODAL AWAL BISNIS MAINAN?

PUSAT GROSIR MAINAN ANAK DI JAKARTA Bagian 3 (Pasar gembrong)

CARA MENGETAHUI HARGA GROSIR MAINAN TERMURAH DI ASEMKA

BEBERAPA JENIS USAHA MODAL KECIL DENGAN KEUNTUNGAN BESAR YANG PATUT ANDA COBA

Mau Berlangganan Artikel? Gratis!

Silahkan masukan e-mail anda dikotak, kemudian klik subscribe. Setelah itu jangan lupa anda cek link aktivasi yang kami kirimkan ke e-mail anda, kemudian klik dan aktifkan!

Delivered by FeedBurner