UJIAN DAN COBAAN HIDUP ADALAH SEBUAH BENTUK KASIH SAYANG TUHAN Skip to main content

UJIAN DAN COBAAN HIDUP ADALAH SEBUAH BENTUK KASIH SAYANG TUHAN

UJIAN DAN COBAAN HIDUP ADALAH SEBUAH BENTUK KASIH SAYANG TUHAN
Foto by : Pixabay. com

Assalamualaikum.

Hari ini telah masuk hari ke sembilan bulan puasa Ramadhan 1438 Hijriah. 
Semoga amal ibadah puasa kita diterima oleh Allah ta'ala, Aammiin.

Pada momen Ramadhan ini saya masih ingin menulis artikel bertemakan religi, sebagai suatu reminder bagi diri saya sendiri. Dan semoga hendaknya bisa bermanfaat juga untuk teman-teman semuanya, insya Allah.

Kali ini saya ingin mengulas secara mendalam tentang ujian dan cobaan hidup sebagai bentuk kasih sayang Tuhan. Ujian hidup itu ada bermacam-macam, ada ujian berupa kesenangan, ada pula ujian berupa kesusahan, kekurangan harta benda, penyakit, musibah, dan lain-lain. 

Pertanyaannya : mengapa ujian dan cobaan hidup itu justru adalah bentuk kasih sayang Tuhan?


Sekarang mari kita buat sebuah perumpamaan.

Ada sepasang suami istri yang memiliki dua orang anak laki-laki. Anak yang sulung bernama Rahmat dan adiknya bernama Hendra. 

Pada kedua anak itu mendapat perlakuan dan cara didikan yang amat jauh berbeda oleh ibunya. Sangat keras pada si sulung (Rahmat), dan terlalu lembek kepada si bontot. Ya, karena Hendra adalah anak bungsu sehingga terlalu dimanja oleh ibunya. Apapun keinginannya selalu dipenuhi, dan bila berbuat salah selalu dibiarkan oleh sang ibu. 

Ayahnya cukup adil dan tegas dalam mendidik kedua anak-anaknya, masalahnya hanya pada si ibu yang salah memahami makna kasih sayang. Kasih sayang menurut si ibu adalah menuruti semua kemauan anak dan membiarkan ketika dia berbuat salah.

Bila ayahnya memarahi si Hendra (ketika berbuat salah atau karena tidak pernah mau membantu pekerjaan dirumah), maka ibunya segera mati-matian membela. 

"Ayah ini suka marah-marah saja sama Hendra, kayak gak ada sayang-sayangnya sama anak!" 
"Si hendra 'kan anak bungsu, kalau dia salah ya dimaklumi saja! lagipula 'kan ada abangnya si Rahmat yang bisa mengerjakan semua pekerjaan dirumah!" Demikian pembelaan sang ibu.

Walau bagi Rahmat terasa sangat berat semua perlakuan yang jauh berbeda itu namun dia menjalaninya dengan sabar. Demi ibu, ayah dan adiknya dia ikhlas menerima semuanya. Pada dasarnya Rahmat memang anak yang patuh dan penurut.    

Waktu pun berlalu 20 tahun kemudian.
Si sulung Rahmat telah berumur 35 tahun, sedangkan adiknya si bungsu (Hendra) berumur 30 tahun.

Karena telah terbiasa mendapat perlakuan yang keras sejak kecil, ditambah didikan tegas dari ayahnya sehingga membentuk Rahmat menjadi pribadi yang mandiri dan sukses ketika masa dewasanya. 


Apalagi selama ini peranan dirumah selalu diambil alih olehnya, sehingga secara alami membentuknya menjadi pribadi yang memiliki rasa tanggung jawab. Seperti telah dijelaskan diatas, semua tugas rumah yang seharusnya menjadi kewajiban adiknya selalu dilimpahkan ibunya kepadanya, dengan alasan karena dia anak tertua.  

Semua itulah yang membentuknya menjadi matang secara mental ketika masa dewasanya.

Nah, apakah yang terjadi dengan adiknya?

Si Hendra tidak pernah menjadi apapun! 
Umurnya sudah 'tua', tapi jiwanya masih mentah alias masih seperti anak-anak remaja 15 tahun saja. Kuliah tidak mau, bekerja pun tidak mau. Sehari-hari pekerjaannya hanya nongkrong, merokok, dan 'minum-minum' bareng teman-temannya. Malam kerjanya begadang, siang tidur seharian. Persis seperti kalong!

Apakah yang bisa diharapkan dari orang yang terlanjur salah asuhan seperti Hendra? Tidak ada!

Paling-paling sepanjang hidupnya hanya menghabiskan umur dan selalu menjadi beban bagi keluarganya. Untuk merubah karakternya disaat umur telah 30 tahun itu sudah amat sulit, karena dia telah salah didik dari awal. Karakter masih mudah dibentuk ketika seseorang masih kecil. Kalau karakter buruk telah terlanjur terbentuk hingga dewasa, biasanya sudah sangat sulit untuk diubah.

Nah, dari 2 contoh diatas, manakah bentuk kasih sayang sebenarnya?

Apakah bentuk kasih sayang itu : seperti si ibu yang membiarkan apapun perbuatan anaknya dan tidak pernah mendidiknya dengan alasan 'sayang kepada anak?'

Ataukah seperti ayahnya yang tegas memarahi kedua anaknya ketika berbuat salah dan menanamkan kewajiban pada anak tanpa tebang pilih?


Manakah bentuk kasih sayang sesungguhnya menurut teman-teman? 

Pastinya bentuk kasih sayang sesungguhnya adalah yang diterapkan oleh ayahnya! 
Buktinya anaknya yang sulung (si Rahmat) menjadi matang dan sukses ketika masa dewasanya!
Dan anaknya yang bungsu karena terlalu dimanja dan selalu 'dibela' mati-matian oleh istrinya, sehingga ketika dewasa tidak pernah menjadi apapun! Jiwanya 'mentah' dan hanya menjadi beban bagi semua orang! 

Nah, begitulah perumpamaan (makna, hikmah dan hakikat) sebenarnya dari ujian dan cobaan hidup.

Setiap ketetapan Allah ta'ala tidak akan pernah terlepas dari hikmah, hanya saja manusia terkadang tidak mampu memahami hikmah dibalik ujian tersebut.

Bukankah ketika kita diberi ujian dan cobaan bertubi-tubi membuat kita cenderung lebih khusyuk dan taat beribadah kepadaNya?
Sebaliknya, bukankah ketika kita dalam keadaan lapang dan bergelimang harta cenderung lupa dan lalai untuk beribadah kepadaNya?

Padahal semua kehidupan di dunia ini adalah ujian!
Dan pasti tiap-tiap manusia akan di mintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak!
Tiada seorangpun yang mampu berlepas diri dariNya. 

Dan, oleh karena itulah Allah lebih Maha Mengetahui siapa saja hambanya yang akan mampu melewati ujian berupa kesenangan dan kekayaaan. 

Dan Dia juga lebih Maha Mengetahui siapa saja dari hambanya yang lebih baik dicoba dengan ujian kesusahan hidup. Karena bisa jadi hambanya ini kalau diberi ujian dengan kesenangan, justru malah lupa dan lalai kepada Tuhannya.

Faktanya banyak orang yang bisa lulus ketika di uji dengan berbagai kesusahan dan kesulitan hidup, dibandingkan dengan orang yang lulus ujian ketika dicoba dengan berbagai nikmat dan kesenangan.

Amat sedikit orang yang bisa beriman dan bertaqwa serta dekat kepada Tuhannya ketika dimasa lapang penuh kesenangan, dan biasanya itu hanya ada pada orang-orang yang telah mendapat petunjuk dan hidayah.  

Oleh karena itu ada suatu ungkapan : "Janganlah meminta dijauhkan cobaan (kesusahan,penderitaan) kepada Allah, tapi mintalah agar diberi kekuatan hati untuk tabah menjalani setiap cobaan dan ujian hidup".


Meminta dijauhkan ujian dan cobaan hidup, justru itu adalah sikap yang tidak tepat! 

Analoginya : 

Bukankah anak sekolah ketika akan naik ke kelas lebih tinggi harus melalui ujian terlebih dulu?
Bukankah ketika orang akan mendapat gelar sarjana S1, S2, S3 masing-masing tingkat harus di uji dulu? 

Kalau tidak pernah di uji, tentu tidak akan mungkin ada kenaikan tingkat. Analogi yang mudah dipahami bukan? ☺ 

Di sisi lain, ketika seseorang berkali-kali berbuat dosa dan maksiat, sedangkan dia tidak pernah mau bertobat. Sehingga akhirnya Allah membiarkannya bergelimang dengan dosanya. Anehnya, hartanya semakin hari semakin bertambah dan terus bertambah. Maka sesungguhnya itu bukanlah sebuah nikmat melainkan istidraj. 

Allah membiarkan orang itu leluasa berbuat maksiat dengan segala perbuatan kufur nikmatnya. Tapi ingat : kelak tetap akan mendapat balasan dari semua perbuatannya di hari kiamat!

Nah, diantara dua keadaan diatas kira-kira kita mau pilih yang mana?  

Ketika kita banyak mendapat cobaan dan ujian hidup justru membuat kita semakin dekat kepada Allah, sehingga membentuk kita menjadi orang yang beriman dan bertaqwa. Jika tetap sabar dan istiqomah, kelak di akhirat akan diberi ganjaran oleh Allah yaitu surganya yang abadi.

Sedangkan di sisi lain ada orang yang ketika semakin jauh dari Allah dan bergelimang maksiat justru hartanya semakin bertambah banyak (istidraj). Jika tidak bertaubat, kelak di hari akhirat dia akan mendapat 'hadiah' ganjaran api neraka yang menyala-nyala. 😕😕

Bagi orang-orang yang mengerti tentang ilmu hikmah, pasti akan lebih memilih di uji oleh Allah dengan ujian dan cobaan hidup. 


Analoginya sama saja kalau kita disuruh memilih : Mau menjadi Rahmat ataukah Hendra pada ilustrasi sebelumnya diatas? 

Kalau orang-orang yang cerdas pasti akan memilih menjadi Rahmat. 

Kenapa?

Karena berkat berbagai gemblengan hidup dan didikan yang keras dari ayahnya itulah (walaupun pada awalnya terasa pahit) akhirnya berhasil membentuk si Rahmat 'menjadi orang'. Sedangkan adiknya (si Hendra) yang di biarkan (di 'istidraj') oleh ibunya, justru tidak pernah menjadi apa-apa, gagal dalam kehidupannya. 

Nah, adakah orang yang mau hidupnya gagal seperti si Hendra ini? Pastinya tidak akan ada seorang pun yang mau. Betul? ☺

Sesungguhnya setiap ujian dan cobaan hidup itu adalah cara terbaik untuk mendidik kita menjadi manusia yang seutuhnya! Semua ujian dan cobaan hidup adalah sebuah bentuk kasih sayang Tuhan!

Maka, sekali lagi saya tekankan : janganlah kita meminta dijauhkan dari ujian, tapi mintalah agar kita diberiNya kekuatan hati, sehingga tetap tegar menjalani semua ujian itu hingga sampai lulus (sampai ajal menjemput kita). Aammiin.

Demikianlah tulisan kali ini, sebagai reminder bagi diri saya pribadi. Dan mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi teman-teman semuanya. Semoga kita semua senantiasa berada dalam petunjuk, hidayah dan lindunganNya. Aammin.

Sampai jumpa lagi di artikel selanjutnya dan selamat menunaikan ibadah puasa. ☺

Mulai ditulis ba'da zuhur tadi, selesai pukul 18.30 ba'da maghrib.

Penulis by : Bang izal.

Artikel Menarik Lainnya

Comments

POSTINGAN TERPOPULER

PUSAT GROSIR MAINAN ANAK DI JAKARTA Bagian 1 (Pasar Pagi Asemka)

BERAPAKAH MODAL AWAL BISNIS MAINAN?

PUSAT GROSIR MAINAN ANAK DI JAKARTA Bagian 3 (Pasar gembrong)

CARA MENGETAHUI HARGA GROSIR MAINAN TERMURAH DI ASEMKA

BEBERAPA JENIS USAHA MODAL KECIL DENGAN KEUNTUNGAN BESAR YANG PATUT ANDA COBA

Mau Berlangganan Artikel? Gratis!

Silahkan masukan e-mail anda dikotak, kemudian klik subscribe. Setelah itu jangan lupa anda cek link aktivasi yang kami kirimkan ke e-mail anda, kemudian klik dan aktifkan!

Delivered by FeedBurner