APAKAH KESULITAN EKONOMI MEMBUAT ORANG TUA (TERPAKSA) HARUS MENGEKSPLOITASI ANAKNYA? Skip to main content

APAKAH KESULITAN EKONOMI MEMBUAT ORANG TUA (TERPAKSA) HARUS MENGEKSPLOITASI ANAKNYA?

APAKAH KESULITAN EKONOMI MEMBUAT ORANG TUA (TERPAKSA) HARUS MENGEKSPLOITASI ANAKNYA

Acara reunian sekolah kemarin tiba-tiba mengingatkan saya pada kenangan masa lalu. Yaitu kenangan ketika saya masih remaja. Saat itu adalah masa yang paling indah, namun juga menjadi masa tersulit dalam perjalanan hidup saya.

Saya duduk dibangku SMP antara tahun 1991 - 1993. Dan pada waktu itu saya termasuk siswa yang bermasalah disekolah. Penyebabnya adalah karena saya sering tidak masuk kelas (membolos).

Ya! Ketika itu saya sering bolos sekolah karena sibuk membantu pekerjaan orang tua saya.

Ayah saya adalah seorang penjahit Tailor. Beliau membuka usaha penjahit pakaian dipinggir Jalan Raya Bogor. Lokasi kiosnya berdekatan dengan markas pasukan elite Koppasus, Cijantung Jakarta Timur. Ayah saya biasanya menerima orderan menjahit pakaian formal/semi formal. Selain itu, ayah saya juga menerima jasa permak pakaian Jean's/Levi's

Artikel Menarik Lainnya : RUNTUHNYA ERA PENJAHIT TAILOR DAN BERGANTI MENJADI USAHA PERMAK PAKAIAN/JEANS/LEVIS

Ketika ayah membuka usaha menjahit ini, saya masih duduk dikelas 3 SMP (tahun 1993). Saat itulah saya diwajibkan oleh ayah untuk menunaikan tugas membantu semua pekerjaannya. Ayah mewajibkan semua tugas tersebut kepada saya, karena ketika itu dia tidak mampu mempekerjakan seorang karyawan.

Pada saat itu keluarga saya baru 3 tahun hijrah (merantau) dari kampung halaman kami di Padang Pariaman ke kota Jakarta. Setelah hijrah, tentu saja kondisi ekonomi keluarga kami masih sangat sulit. Karena keluarga kami baru saja merintis usaha dan itu membutuhkan proses yang tidak mudah. Apalagi, persaingan hidup di kota Jakarta sangat keras dan kejam. Oleh karena itulah, sebagai putra tertua saya merasa berkewajiban untuk membantu meringankan beban orang tua saya.

Namun (disisi lain) sayangnya ayah kurang memahami posisi anaknya yang masih bersekolah. Sehingga beban yang diberikan kepada saya malah melampaui dari yang semestinya. Anak remaja yang baru berumur 15 tahun diberikan beban layaknya seperti orang dewasa yang sudah punya anak lima. Ya jelas jadi 'over kapasitas'. 😂

Coba Anda bayangkan : saya berangkat ke sekolah pukul 06.30 pagi dan pulang sekolah pukul 12.30 siang. Sepulang sekolah saya langsung menuju kios jahit, ganti baju dan makan siang. Nah setelah itu mulailah semua tugas harus saya kerjakan. Mulai dari menyetrika semua orderan pakaian, menjahit, pergi mengobras/membeli alat jahitan ke pasar rebo, dan berbagai tugas lainnya. Semua pekerjaan tersebut berlangsung hingga tutup kios pukul 21.00 malam. Selang 1-2 kemudian barulah saya bisa tidur untuk beristirahat.

APAKAH KESULITAN EKONOMI MEMBUAT ORANG TUA (TERPAKSA) HARUS MENGEKSPLOITASI ANAKNYA
Inilah foto saat saya menjadi seorang tukang jahit.

Besoknya pukul 06.00 pagi saya bangun lagi, kemudian mandi untuk selanjutnya berangkat ke sekolah pukul 06.30 WIB. Begitulah siklus kehidupan saya setiap hari sepanjang dekade tahun 90an itu! Nah bagaimana menurut anda? Mirip seperti siklus hidup orang dewasa yang beranak 5 bukan? Hhhhh!! 😂😅😰

Akibat jalan hidup yang terlalu berat dan keras, membuat saya sering ketiduran (karena kecapean). Akibat selanjutnya saya jadi sering terlambat datang ke sekolah. Alhasil efek selanjutnya saya jadi sering kena setrap (hukuman) dari guru. Karena terlalu sering hal ini terjadi, lama kelamaan saya jadi malas berangkat ke sekolah (bolos). Sebab, karena terlalu sering terjadi dan sering terkena hukuman, tentu saya jadi merasa malu terhadap guru dan teman-teman saya. Jadi kalau sedang terlambat, solusi yang paling simple ketika itu didalam fikiran saya adalah===>>"daripada telat lagi, mending sekalian aja gak masuk ke sekolah". 😁

Puncaknya, saya jadi tinggal kelas selama satu tahun akibat kejadian tersebut. Demikianlah kisah pilu yang pernah terjadi pada masa lalu saya. Belakangan, setelah saya dewasa dan sering membaca buku-buku tentang parenting, barulah saya tahu apa yang saya alami itu termasuk kategori eksploitasi terhadap anak. Sehingga telah cukup lama timbul sebuah pertanyaan didalam batin dan fikiran saya, yaitu : Apakah kesulitan ekonomi membuat orang tua (terpaksa) harus mengeksploitasi anaknya?

Sebenarnya, kewajiban untuk membantu orang tua adalah hal yang sangat baik.

Hanya saja,,,, ayah saya telah salah paham dengan doktrin yang pernah diajarkan oleh almarhum kakek saya, bahwa seorang anak harus membantu orang tuanya, apapun situasinya.

Di masa lalu, ketika ayah saya masih remaja, dia juga diwajibkan oleh kakek saya untuk membantu semua pekerjaannya (kakek saya juga seorang penjahit). Dan ayah saya juga menghabiskan sebagian besar waktu dan hari-harinya untuk membantu semua pekerjaan kakek di kios jahitnya.

Nyaris tidak ada waktu bermain, dan tidak ada waktu untuk belajar untuk ayah saya. Persis seperti yang juga terjadi pada diri saya (dikemudian hari).

Kekeliruan utama kakek saya adalah : beliau tidak mampu menetapkan porsi yang adil dan seimbang tentang tugas dan kewajiban seorang anak dalam membantu orang tuanya. 

==>>Apakah seorang anak harus menanggung beban diluar tanggung jawab dan kapasitasnya?

==>>Apakah karena kondisi ekonomi yang sulit, membuat orangtua harus 'memaksa' anaknya untuk membantu semua pekerjaannya?

==>>Sehingga sang anak tidak memiliki kesempatan lagi untuk belajar dan bersekolah?

==>>Jadi tidak memiliki waktu bermain dan tidak ada kesempatan lagi untuk bersosialisasi dengan teman-temannya?

Sungguh ini adalah sebuah kekeliruan!

Dengan melakukan semua itu, tanpa sadar kakek telah mengeksploitasi ayah saya. Dan sayangnya ayah juga mengulang melakukan hal yang sama terhadap saya.

Kesalahan mereka berdua adalah: mereka berpikir bahwa anak mereka harus mengalami hal yang sama seperti pengalaman mereka. Jadi ada semacam cara berpikir yang salah. Mungkin ini terjadi karena ketidaktahuan mereka. Orang tua di masa lalu biasanya tidak berpendidikan tinggi, sehingga mereka tidak mengerti banyak hal tentang parenting dan tugas-tugas anak.

Sesungguhnya setiap orang telah memiliki tugas dan fungsinya masing-masing.

Tugas seorang anak adalah pergi ke sekolah dan belajar dengan tekun, sehingga dia dapat berhasil di masa depan. Dan tugas orang tua adalah bekerja dan mencari nafkah untuk membiayai semua kebutuhan keluarganya.

Artikel Menarik Lainnya : IBUKU PAHLAWAN KELUARGA

Nah, apa yang terjadi pada kakek dan ayah saya? Yaitu, semua tugas dan fungsi itu tidak mereka tempatkan 'ditempat seharusnya'. Itulah kesalahan mereka.

Saya telah berjanji pada diri sendiri==>>jika saya memiliki seorang anak, maka saya akan menetapkan porsi yang adil untuk mereka. Yaitu keseimbangan antara hak dan kewajiban seorang anak. Mereka tidak dimanjakan, juga tidak dibebani tugas diluar kapasitas dan tanggung jawab mereka (tidak otoriter/mengeksploitasinya). Saya akan berusaha memberikan porsi yang seimbang antara hak dan kewajiban seorang anak.

Cukuplah sudah kakek, ayah, dan saya sendiri yang telah merasakan semua rasa sakit, akibat pemahaman yang salah dimasa lalu tersebut. Yaitu kesalahan (sebagian) orang tua memaksakan tugas dan kewajiban kepada anaknya. Mereka seolah memaksa anak-anak mereka menjadi terlalu cepat dewasa sebelum waktunya.

Dan sungguh itu sebuah kesalahan.

Apa sebab?

Karena ketika seseorang masih berusia anak-anak/remaja dipaksa bekerja, hal ini dapat menyebabkan sang anak merasa tertekan dan kehilangan keindahan masa kanak-kakak/remajanya.

Dan hal itulah yang sempat terjadi pada saya!

Itu pula sebabnya saya pernah mengalami depresi. Kisahnya telah pernah saya ceritakan lebih terperinci diartikel berikut ini : CATATAN PERJALANAN USAHAKU Bagian 9 (Masa Depresi)

Saya juga pernah menjadi seorang 'pemberontak' dan pemuda yang bermasalah.

Sejak tahun 1998 hingga pertengahan tahun 2002 saya sempat terjerumus pemakaian ob*t-ob*tan terlarang dan minuman keras. Namun, saya bersyukur karena Tuhan masih menyelamatkan saya.

Pada akhir tahun 2002, saya bertekad untuk meninggalkan semua 'turbulensi' (gejolak) dimasa remaja saya.

Sungguh,,,, ketika diakhir tahun 2002 itu saya mengalami semacam goncangan batin. Saya harus memilih di antara dua pilihan :

===>>Antara memuaskan gejolak masa remaja saya (karena masa remaja saya telah hilang shingga bawaannya ingin hura-hura dan berleha-leha saja, tetapi dengan konsekuensi masa depan saya semakin hancur).

===>> Atau mengikhlaskan semua kejadian yang telah berlalu, dan mulai mengatur serta mempersiapkan masa depan menjadi lebih baik.

Syukurlah,,,, saya diberi kekuatan oleh Tuhan untuk memilih jalan yang benar. Dan alhamdulillah akhirnya masa depan saya terselamatkan hingga sekarang. Kisah ini pernah saya tulis dalam artikel tersendiri. Inilah artikelnya : ANDA INGIN MERAIH SUKSES? COBALAH PERGI MERANTAU!

Kita kembali kilas balik sejenak, yaitu ke masa lalu saat saya masih duduk dibangku SMP dan SMA.

Jadi begitulah,,,,,, karena waktu saya banyak dihabiskan untuk bekerja membantu ayah saya, akibatnya sekolah saya menjadi berantakan. Setiap hari saya bekerja dan menjahit pakaian di kios ayah. Selain menjahit, pekerjaan lain adalah menyetrika baju atau pergi membeli bahan jahitan ke pasar. Semua itu saya lakukan setiap hari. Nonstop sejak pulang dari sekolah (pukul 13.00 siang) sampai kios jahit tutup (pukul 21.00 malam).

Seperti itulah diri saya. Seorang remaja berusia 15 tahun, tetapi kehidupan sehari-hari saya ketika itu seperti orang tua dengan lima orang anak. 😁

Seperti yang telah saya sebutkan di atas, semua berawal dari kesalahpahaman orang tua yang ingin anak-anak mereka menjadi seperti mereka. ☺

Saya adalah anak sulung dan memiliki 5 orang saudara kandung.

Untuk ukuran anak remaja menjalani kehidupan seperti itu sungguh sangat berat. Selain itu, ayah saya saat itu seorang yang keras dan otoriter sekali. Nyaris tidak ada toleransi bagi saya. Tugas dan peraturan yang ditetapkannya sangat saklek, kaku! Ayah kurang bisa memahami perasaan putranya yang baru memasuki masa remaja. Kalau teringat mah sedih deh pokoknya. 😭

Saya percaya, bahwa ayah saya sebenarnya tidak pernah bermaksud menyakiti saya. Sikapnya kepada saya mungkin disebabkan oleh 'doktrin' dari kakek yang telah terlanjur tertanam di dalam dirinya. Atau bisa juga disebabkan oleh karena tekanan hidup yang sangat sulit ketika itu. Sehingga membuat ayah saya menjadi terlalu keras terhadap anak-anaknya.

Seperti yang telah saya jelaskan dipembukaan artikel ini, bahwa pada awal tahun 90-an itu kondisi ekonomi keluarga kami sangat sulit sekali, Bahkan untuk makan saja nyaris kami tidak mampu (sering kami makan hanya sekali dalam sehari).

Puncaknya terjadi pada tahun '97 - '98, yaitu ketika negara Indonesia mengalami krisis moneter. Pada saat itu karena saking tidak mampu untuk membeli beras, sehingga ibu saya diam-diam memasak beras yang berasal dari sisa-sisa nasi. Jadi nasi sisa itu dijemur terlebih dahulu (dikeringkan) dan setelah itu dimasak kembali (nasi aking).

Di akhir tahun 90an, saat itu saya telah duduk dibangku SMA. Pada masa ini saya semakin sering bolos sekolah. Semua itu terjadi karena saya terlalu sibuk bekerja untuk membantu ekonomi keluarga saya. Sehingga membuat saya tidak bisa lagi fokus untuk pergi ke sekolah.

Akibatnya prestasi saya disekolah semakin menurun, bahkan dimasa SMA ini saya kembali mengalami tinggal kelas. Setelah dimasa SMP saya juga pernah tinggal kelas (seperti yang telah diceritakan diatas)

Faktor yang membuat saya kembali mengalami tinggal kelas kali ini, adalah karena saya telah bolos sekolah selama 3 bulan. Lebih fatal lagi adalah karena saya juga sering tidak mengikuti ujian akhir nasional.

Kejadian berkali-kali tinggal kelas ini membuat saya sangat terpukul. Akibatnya saya cenderung menjauhkan diri dari teman-teman dan suka duduk menyendiri di belakang sekolah.

Tekanan hidup saya terus berlanjut ... ,, bahkan lebih berat dan semakin berat... ,,,,

Dan saya terus berjuang untuk tetap sabar..,,.. ,,,,,

Artikel Menarik Lainnya : CATATAN PERJALANAN USAHAKU Bagian 8 (Jatuh lagi, Bangun lagi)

Pada awal tahun 2000 ayah saya semakin otoriter, egois, dan penuh kekerasan. Akhirnya, pada tahun 2003 saya pergi dari rumah. Saya pergi merantau ke banten dan ke berbagai tempat yang jauh. 

Pada waktu itu saya bergabung dengan kelompok pedagang di acara bazaar dan pasar malam. Saat inilah saya mulai mencari pengalaman dan menimba ilmu dagang.

Kehidupan di pasar malam juga sangat sulit karena saya tidak tinggal di rumah.

Jika acara bazaar dan pasar malam diadakan di luar kota seperti provinsi Lampung, Cirebon, Banten, Pelabuhan ratu, dll, maka saya harus menetap dan tidur di tengah arena pasar malam. Terkadang saya menumpang tidur dibawah tenda seorang teman. 😌

Untuk menambah penghasilan, di pagi hari saya juga pergi berdagang ke pasar pagi (pasar sayur).

Kehidupan saya di pasar malam ini berlangsung dari awal tahun 2004 hingga akhir tahun 2005.

Pada tahun 2005 acara pasar malam mulai sulit. Ini terjadi karena lapangan terbuka untuk arena pasar malam semakin sulit ditemukan (karena semakin banyak bangunan yang didirikan). Penyebab lainnya adalah para pedagang saling menjatuhkan harga. Akibatnya perdagangan di pasar malam sudah tidak memiliki prospek yang bagus lagi. Sehingga dipertengahan tahun 2005 saya memutuskan untuk meninggalkan acara pasar malam.

Saya terus berpikir dan memeras otak : "Bisnis apakah yang akan saya jalani selanjutnya?"

Akhirnya saya putuskan untuk pulang ke kampung halaman saya, yaitu kota Padang. Tujuannya untuk belajar menjadi mekanik di bengkel ban milik suaminya bibi saya. Saya bekerja sambil belajar dibengkel ini selama 2 tahun, yaitu dari tahun 2007 hingga 2009. Setelah semua ilmu dan keterampilan sebagai mekanik telah saya kuasai, maka pada akhir tahun 2009 saya kembali ke Jakarta.

Saya memiliki isi tabungan yang jumlahnya cukup lumayan. Tabungan ini merupakan hasil dari kerja keras saya selama berdagang di pasar malam dan hasil upah sebagai mekanik dibengkel ban milik suaminya bibi saya tersebut.

Sebenarnya saya sudah punya rencana untuk membuka bengkel ban di Jakarta. Tetapi saya kesulitan mendapatkan tempat usaha dengan lahan parkir yang luas di Jakarta. Sementara usaha bengkel ban tentunya membutuhkan lahan parkir yang luas.

Akhirnya saya kembali ke dasar sebagai pedagang. Dan kali ini saya memilih meniti karir sebagai pedagang mainan. Pada tahun 2010 saya membuka usaha toko mainan pertama saya.

Diluar dugaan .. ,, .. ,,,, ternyata sejak menjadi pedagang mainan inilah awal dari kesuksesan saya. Toko mainan saya terus berkembang pesat hingga sekarang. Bahkan saya bisa membuka cabang toko mainan pada tahun 2014.

Terima kasih ya Allah,,,,,,, akhirnya Engkau berikan hambamu ini jalan keluar dan kemudahan rezeki, setelah terlebih dahulu melewati berbagi macam kesulitan dan ujian hidup.

Artikel Menarik Lainnya : UJIAN DAN COBAAN HIDUP ADALAH BENTUK KASIH SAYANG TUHAN

6 tahun yang lalu (3 bulan sebelum saya menikah), sambil menitikan air mata ayah saya meminta maaf atas semua kesalahan masa lalunya kepada saya. Dan saya pun dengan tulus ikhlas telah memaafkan semua kesalahannya.

Inilah kisah saya, jalan yang panjang dan berliku di lembah kehidupan. Di dalam artikel ini, saya telah menuliskan hampir semua perjalanan hidup saya.

Semoga kisah ini dapat bermanfaat bagi Anda semuanya.

Jika Anda menyukai artikel ini, maka bagikanlah. Semoga dari share yang anda lakukan itu, membuat artikel ini dapat bermanfaat pula bagi rekan-rekan Anda yang lainnya.

Salam.

Ditulis dan diceritakan oleh : Bang izal.

Artikel Menarik Lainnya

Comments

DIREKOMENDASIKAN UNTUK ANDA