Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML Atas

Bantu Kucing Saya Melawan Virus FIP yang Mematikan

 

Bantu Kucing Saya Melawan Virus FIP


Hai #OrangBaik 

Mohon izinkan saya menyampaikan sebuah kisah persahabatan. 

Saya adalah seorang pedagang mainan. Toko saya berlokasi di jalan Kalisari Jakarta Timur. 

Pada suatu hari di pertengahan tahun 2018, toko saya kedatangan seekor anak kucing dengan corak bulu mirip seperti British Shorthair. 

Anak kucing itu berumur sekitar 2 bulanan, tubuhnya sangat kurus dan tampaknya sedang kelaparan. Ternyata dugaan saya benar, terbukti saat saya beri makanan anak kucing itu pun makan dengan sangat lahapnya. 

Sejak saat itu, anak kucing tersebut jadi merasa betah berada ditoko mainan saya. Tiap pagi saat saya akan membuka pintu toko, anak kucing itu terlihat sudah nongol disana. Saya kemudian memberinya nama Si Popo.

Namun sekitar 2 minggu kemudian, tiba-tiba si Popo sempat menghilang sekitar 3 bulan. 

Penyebabnya karena anak kucing itu dibuang ke belakang pabrik tahu oleh si mbak Warteg sebelah toko saya. Pabrik tahu itu jaraknya cukup jauh, sekitar 100 meter dari toko saya.

Memang si Popo suka melipir ke Warteg sebelah itu. Yah namanya juga kucing tentu saja merasa tertarik dengan aroma makanan yang ada disana. 

Saya tanyakan "kenapa dibuang?" 

Dia jawab "karena kucing itu suka pup (BAB) sembarangan" katanya. 

Kemudian saya coba cek ke belakang pabrik tahu itu, tapi kucing itu tidak berhasil saya temukan. 

Namun tampaknya si Popo ini memang sudah "berjodoh" untuk diasuh oleh saya. Karena tiba-tiba sekitar 3 bulan kemudian (sejak kehilangannya), pada suatu malam dia datang sendiri ke toko saya. 

Tentu saja saya merasa surprise. Langsung saya gendong dia dan mengusap-ngusap kepalanya sambil berkata: "Habis berkelana kemana aja kamu Popo?" 1f60a.png

Sejak saat itu saya memutuskan untuk benar-benar mengadopsinya. Si Popo sudah tidak tinggal secara liar diluar toko lagi. Saya membawanya ke rumah dan memperlakukannya seperti anggota keluarga sendiri. 

Dia saya rawat dengan sebaik-baiknya, rutin dimandikan dan selalu saya beri makanan kesukaannya.

Dibawah ini foto Si Popo saat berumur sekitar 6 bulanan. Bulunya tampak sudah bersih dan badan lebih terawat.

 

9648ace7-82d1-41c0-a239-56083cfe9d1e.jpg

 

Demikianlah waktu terus berjalan dari tahun ke tahun. Si Popo tumbuh makin ganteng, badan lebih berisi dan corak bulunya semakin eksotik.

Dibawah ini beberapa foto Popo saat berumur sekitar 3 tahunan.

 

3ef21e23-30b7-4658-8be1-254fe5bb1ae8.jpg
7a43da0b-7001-46b9-bcec-83ea8d4b1499.jpg

 

Si Popo telah menjadi sahabat yang sangat setia menemani saya,,, baik saat berada dirumah maupun ketika di toko mainan saya.

Namun setelah hampir 5 tahun kebersamaan kami, tiba-tiba kini kembali datang ujian berat melanda.

Ujian itu bahkan bisa memisahkan persahabatan antara saya dengan kucing berwajah kyut dan lucu itu. Kini bukan perpisahan sementara lagi seperti dulu (hanya terpisah selama 3 bulan saja), kini kami terancam akan berpisah selama-lamanya.

Penyebabnya karena Popo positif didiagnosa oleh dokter terinfeksi virus FIP yang sangat berbahaya (dapat menghilangkan nyawanya jika tidak diobati)

Sejak sekitar sebulan yang lalu, Popo yang biasanya sangat ceria dan suka bercanda dengan saya, tiba-tiba berubah menjadi pemurung, pendiam, wajahnya sangat lesu dan tubuhnya semakin kurus. Dia lebih sering duduk mojok di bawah lemari atau bersembunyi di sudut rumah saya. 

Kondisinya makin aneh karena beberapa hari kemudian si Popo mulai sulit berjalan dengan seimbang. Jalannya terus miring ke kanan dan ke kiri, kemudian jatuh. Saat dia berdiri dan coba berjalan lagi, kembali badannya condong ke kiri dan kanan, kemudian jatuh kembali. Kondisi itu sempat saya rekam di video hp. Berikut foto screenshot nya:

 

71e0fe27-58b8-48ca-8b35-e2ba74f4b8d3.jpg

 

Merasa heran dengan perubahan kondisi Popo, kemudian saya membawanya untuk berobat ke klinik hewan Ciyo Pet Care yang berlokasi di daerah Kalisari Jakarta timur. 

Setelah dilakukan cek kimia darah dan hematologi, betapa terkejutnya saya. Popo positif didiagnosa terkena virus FIP yang menurut keterangan dokter sangat mematikan bagi kucing. Popo terkena virus FIP tipe dry (kering) yang ditahap awal menyerang sistem saraf dan lama kelamaan akan merusak organ tubuhnya

Penyakit itu disebabkan oleh virus yang menyerang organ dalam seperti ginjal, liver, dan usus. Kucing yang terinfeksi virus ini akan digerogoti dari dalam dan mati secara pelan-pelan. Tentunya dengan keadaan yang sangat tersiksa sampai ajal menjemputnya.

Berikut ini beberapa dokumen hasil diagnosis dan cek darah lengkap si Popo.


fef0970b-8905-4476-abc5-e29ae6f6699f.jpg
e6fcaa27-cf33-4752-82e8-1d80553380d9.jpg
8b830d9c-8cea-4f4c-a93e-74957c8645b5.jpg
87621f6c-30d5-4a9c-bc67-b0f54fcf67e4.jpg

 

Hal yang membuat saya makin terkejut, sedih dan sangat terpukul yaitu setelah mendengar keterangan dokter bahwa hanya ada 1 jenis obat pada saat ini yang bisa mengobati penyakit FIP tersebut. 

Dokter bilang obat itu awalnya berasal dari amerika, tapi kini sudah mulai tersedia di negara malaysia. Dan belakangan ini sudah ada satu website di Indonesia yang menyediakan dan menjual obat FIP itu secara online. 

Website itu beralamat di www.basmifipid.com 

Yang jadi masalah utama yaitu: Harga obat untuk virus FIP tergolong sangat mahal sekali. 

Untuk satu vial (botol) obat FIP dengan konsentrasi 20mg/7ml harganya Rp.1.400.000 

Dokter klinik Ciyo mengatakan bahwa kalau ingin sembuh total, maka Popo harus menjalani terapi suntik obat itu secara rutin tiap hari (selama 84 hari). 

Dokter menjelaskan tiap sekali suntik membutuhkan sebanyak 1,5ml obat. Berarti tiap satu botol yang berisi 7ml obat bisa digunakan untuk 4 kali suntik (untuk selama 4 hari). 

Jika penyuntikan dilakukan selama 84 hari, maka Popo membutuhkan sekitar 20 vial obat FIP. 

Bila dikalkulasikan, maka berikut ini besaran biayanya: 

1 vial obat FIP harganya Rp. 1.400.000 

Maka 20 vial obat membutuhkan total biaya: 20 x 1.400.000 = 28 juta. 

Jujur saja setelah mendengar kalkulasi biaya dari dokter itu, saya langsung terdiam seketika. Cukup lama saya tercenung memikirkannya. 

Uang sejumlah 28 juta itu bukanlah jumlah yang sedikit bagi saya, terlebih dimasa-masa krisis saat ini. Sejak 2 tahun belakangan omset toko mainan saya cukup menurun drastis. Bahkan saat tahun pertama pandemi omset toko saya seringkali tekor, sehingga banyak uang tabungan yang terpakai untuk "menyiram'' kembali stok produk mainan ditoko saya. 

Saya kemudian coba bertanya ke dokter tentang alternatif pengobatan lain. Misalnya dengan menggunakan herbal, vitamin, atau obat merek lain yang harganya lebih murah.

Bu dokternya kemudian menjawab: "Sampai saat ini belum ada pengobatan yang efekti selain memakai obat yang saya sebutkan pak!" Kalaupun pun pakai vitamin, biasanya hanya bisa untuk support sementara,,, tapi biasanya kucing akhirnya mati juga karena daya tahan tubuhnya makin menurun dan kalah oleh virus FIP itu." 

Makin terdiam saya mendengarnya,,, situasi saya seperti sedang dipaksa memakan buah simalakama. Jika tidak diobati, maka kucing saya bakal tersiksa mati pelan-pelan, tapi bila ingin diobati, apa daya saya tidak punya kemampuan untuk menanggung biaya berobat sampai sebanyak itu. 

Bingung sekali saya memikirkannya. 

Tapi untungnya ibu dokter hewan itu memberikan sebuah solusi yang bisa saya lakukan. Yaitu saya disarankan untuk membuat kampanye donasi atau penggalangan dana di web kitabisa.com. 

Nantinya uang hasil donasi dari kitabisa.com itu bisa digunakan untuk membeli obat di website basmifipid.com. Bu dokter juga menjelaskan bahwa website Basmifipid juga mengadakan program BasmiCare

 

 

Program itu bertujuan untuk membantu pecinta kucing yang terkendala dana untuk mengobati kucing kesayangannya. 

Jadi program BasmiCare itu akan memberikan gratis 1 vial obat FIP tiap pembelian 1 vial obat (berlaku kelipatannya). Artinya kalau beli 10 vial, maka akan mendapatkan gratis 10 vial pula. 

"Jadi bapak harus berusaha menggalang dana di kitabisa.com senilai 14 juta rupiah untuk membeli 10 vial obat FIP di website basmifipid.com, nanti bapak akan mendapatkan gratis 10 vial lagi secara gratis. Syaratnya hanya satu: yaitu bapak harus memberikan foto bukti hasil pencairan penggalangan dana dari kitabisa.com" ujar bu dokter tersebut. 

Setelah mendengar penjelasan bu dokter hewan itu, sontak semangat saya langsung kembali muncul. Beberapa hari kemudian langsung saya turuti saran bu dokter itu dan saya pun mulai menulis kampanye donasi penggalangan dana ini untuk pengobatan Si Popo. 

Oh iya,,, saya sudah membeli 2 vial obat FIP dari web basmifipid.com senilai 2.800.000 dari uang pribadi saya sendiri. (Lihat fotonya dibawah). 


3e10ef6d-d75e-11ec-8cab-125851df9711_2C862358A13B8006.jpg

 

Untuk tahap awal pengobatan tentu saya harus membelinya dari dana saya sendiri, karena dana dari kampanye penggalangan dana kitabisa.com ini tentu akan membutuhkan waktu, sedangkan si Popo membutuhkan pengobatan di tahap awal sesegera mungkin. 

Sementara ini total uang pribadi yang saya keluarkan untuk biaya pengobatan Popo sudah lebih dari 4 juta rupiah. Karena untuk biaya cek darah dan vitamin di klinik Ciyo Pet Care sebelumnya saya sudah mengeluarkan biaya 1.400.000an rupiah. 

Berikut ini foto struk pembayaran cek darah dan obat tersebut. 

 

6774f247-1801-4c2b-8584-5a4625255a55.jpg

 

Untuk biaya pengobatan selanjutnya yang cukup besar, saya sangat mengharapkan bantuan dan uluran tangan dari teman-teman semua.

Berikut rincian biayanya:

Biaya yang paling besar adalah untuk membeli 20 vial obat GS441524 dari web BasmiFIP. 

Nah berhubung saya sudah berencana akan mengikuti program BasmiCare dari website www.basmifipid.com, maka jumlah biaya yang harus dikumpulkan jadi lebih ringan. 

Program bantuan itu akan memberikan gratis 1 vial obat FIP tiap pembelian 1 vial nya (berlaku kelipatan). 

Karena kucing saya membutuhkan 20 vial obat FIP, sehingga saya cukup membeli 10 vial saja + bonus 10 vial = total 20 vial. 

Total uang yang saya harapkan bisa terkumpul sebesar 20 juta rupiah. Dana yang dibutuhkan untuk membeli obat senilai 14 juta rupiah. 

Sisa uang 6 jutanya akan digunakan untuk biaya cek darah, jasa injeksi dokter, dan biaya-biaya lainnya. 

Cek darah akan dilakukan per 2 minggu sekali (untuk observasi pasca treatment). Total waktu pengobatan sekitar hampir 3 bulan (84 hari), jadi kalau cek darahnya tiap 2 minggu sekali, maka akan membutuhkan total 6 kali cek darah. 

Pada saat di awal pemeriksaan Popo di klinik Ciyo Pet Care saya mengeluarkan biaya pribadi untuk cek darah lengkap (kimia darah dan hematologi) dan menghabiskan biaya sekitar 900 ribu rupiah. Saya asumsikan uang 6 juta itu bisa mencukupi untuk biaya 6 kali pemeriksaan darah dan biaya-biaya sekunder lainnya.

Tentunya harapan saya bisa terkumpul uang penggalangan dana sebesar 20 juta rupiah hingga batas waktu 60 hari yang telah saya tetapkan. Namun bila tidak tercapai jumlah sebanyak itu, saya tetap bersyukur dan berterima kasih atas bantuan yang telah teman-teman berikan. Tentu saya akan mengeluarkan uang dari kantong pribadi saya sendiri untuk melengkapi semua biaya pengobatan kucing saya hingga dia benar-benar sembuh.

Akhir kata, dengan cara penggalangan donasi inilah ikhtiar paling maksimal yang dapatkan saya lakukan untuk kucing saya. 

Saya sangat memohon kepada semua #OrangBaik dimanapun berada; tolonglah beri bantuan dan solusi kepada kucing saya. Jangan biarkan saya terpisah dari kucing saya secepat ini untuk selama-lamanya. 

Yuk, bantu Si Popo agar dia bisa sembuh dengan cara klik tombol DONASI SEKARANG di link berikut: https://kitabisa.com/bantupopomelawanvirusmematikanfip?utm_source=socialsharing_campaigner_web_025cf23d8ae2c3e9317b4990f2aac946&utm_medium=share_campaign_copas&utm_campaign=share_detail_campaign

Sebesar apapun nilai donasi yang teman-teman berikan akan saya terima dengan penuh ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya. Semoga amal bantuan dari teman-teman semua bisa menjadi syafaat yang dapat menghantarkan Anda ke dalam Syurga Allah Ta'ala kelak, 

Aammmin ya robbalalamiin. 1f607.png<img class="

Post a Comment for "Bantu Kucing Saya Melawan Virus FIP yang Mematikan"