Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cara Sederhana Berbuat Baik Dengan Berbelanja ke Warung Tetangga

Berbuat baik kepada sesama, tidak mesti harus menunggu perihal yang dianggap besar (bakti sosial, penguburan jenazah, gotong royong, dll).

CARA SEDERHANA BERBUAT BAIK DENGAN BERBELANJA KE WARUNG TETANGGA


Berbuat baik dapat dilakukan dengan cara-cara yang sederhana, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Berbuat baik secara tidak langsung salah satu contohnya adalah : ketika kita membuang duri yang kita temukan ditengah jalan. Dengan kita membuang duri itu, sehingga kita telah menyelamatkan orang lain terkena celaka (luka) akibat terinjak duri itu.

Sedangkan berbuat baik secara langsung diantaranya adalah memberikan senyuman, dan membantu tetangga kita yang punya warung kelontong dengan cara berbelanja ke sana.

Ketiga perbuatan baik diatas itu adalah contoh yang sederhana, namun memberikan efek yang sangat besar. Membuang duri dan memberikan senyuman ikhlas adalah termasuk bernilai ibadah dihadapan Allah ta'ala. Oleh karena itu, hendaknya perbuatan baik nan sederhana ini sebaiknya di amalkan oleh setiap muslim.

Dalam tulisan ini saya ingin mem-fokuskan pembahasan tentang cara sederhana berbuat baik dengan berbelanja ke warung tetangga.

Mungkin saja anda akan bertanya : "Apakah saya salah jika berbelanja ke minimarket seperti Alfa mart, Indomaret, Alfa midi, dan yang lainnya?"

Oowh tentu saja tidak salah,,,, anda sama sekali tidak salah, karena itu adalah hak anda. 😉

Hanya saja,,,, tentu tidak ada pula salahnya jika anda lebih memprioritaskan untuk berbelanja ke warung-warung tetangga anda. Ada beberapa alasan kuat yang menjadi dasar ajakan ini.

Diantaranya sebagai berikut dibawah ini.

Dengan melakukan hal yang sederhana seperti berbelanja ke warung kelontong milik tetangga, sesungguhnya anda telah melakukan 2 kebaikan besar, yakni :

#1. Membantu menghidupkan usahanya.

Pada era dibawah tahun 90an adalah masa-masa keemasan bagi warung-warung kelontong di Indonesia. Ketika itu belum ada minimarket. Yang ada ketika itu masih sebatas pasar swalayan yang jumlahnya hanya terbatas dikota-kota besar. Sehingga persaingan yang dihadapi warung kelontong tidaklah 'segila' sekarang.

Karena saya sendiri (penulis) sudah pernah menjalani kehidupan di era tahun 80an, sehingga saya tahu persis betapa jayanya pemilik warung kelontong ketika itu. Pada masa itu warung kelontong ada 2 tipe, yaitu yang berjualan dirumah, dan yang berjualan dipasar tradisional.

Warung kelontong yang berjualan dirumah biasanya dalam skala kecil, dalam arti jenis barang/produk yang dijual benar-benar untuk kebutuhan pokok sehari-hari. Contohnya seperti beras, minyak goreng, gula, garam, rok*k, dll. Pernahkan anda menonton warung mak nyak di film si Doel anak sekolahan? Nah kira-kira seperti itulah gambaran warung kelontong ketika itu. 

Jenis warung kelontong yang kedua adalah warung kelontong skala besar yang ada dipasar tradisional. Warung ini biasanya menjual secara grosir (biasanya juga melayani eceran). Contohnya seperti warung kelontong di pasar rebo.

Pasar rebo merupakan pasar tradisonal didaerah tempat tinggal saya, Cijantung Jakarta timur. Nah warung-warung kelontong yang ada dipasar itu pasti selalu ramai pembeli setiap hari. Karena warung kelontong rumahan berbelanjanya ke pasar rebo tersebut. Bagaimana kalau saat lebaran? Wuiih! Jangan ditanya lagi, saking ramenya sampe ngantri yang berbelanja!

Itu adalah kisah dulu,,,, kisah masa kejayaannya warung kelontong. Tapi kondisinya saat ini? Duh,,, sangat miris dan menyedihkan sekali. Saya masih sering berbelanja kebutuhan dapur bareng istri saya ke pasar rebo tersebut. Saat ini pasar itu nyaris seperti kuburan, karena saking sepinya orang yang berbelanja.

Itu level pasar lho,,,,

Nah bagaimana lagi dengan kondisi warung-warung kelontong rumahan? Sudahlah, sedih banget kalau diceritain mah,,😢 

Apa sebab?

Karena saya sendiri punya tetangga (disebelah toko mainan saya) yang punya warung kelontong. Hasil usahanya hanya cukup untuk biaya makan sehari-hari. Usaha mereka mati karena di jepit oleh 3 minimarket yang jaraknya masing-masing hanya sekitar 15-20 meteran saja.

Dengan kondisi yang miris seperti diatas, apa salahnya jika kita membantu mereka, dengan cara berbelanja ke warung tetangga kita itu. Toh, tindakan kita itu tidak akan sampai mematikan semua minimarket diatas. Sebab mereka (minimarket itu) sudah menggurita dimana-mana, level mereka sudah besar (modal raksasa), jadi tidak akan ngefek hanya karena kita berbelanja ke warung tetangga kita.

#2. Menyambung tali silaturahmi.

Keutamaan lainnya berbelanja di warung tetangga adalah : dapat menyambung tali silaturahmi.

Ketika individualisme semakin menjangkiti keseharian (terutama masyarakat perkotaaan), maka dengan berbelanja ke warung tetangga ini, dapat kembali menyuburkan rasa kebersamaan dan semangta gotong royong seperti era 80 - 90an dulu.

Ketika kita berbelanja ke warung tetangga, maka komunikasi lebih dapat terjalin di lingkungan kita. Pada beberapa daerah, tradisi ini masih ada sampai sekarang. Contohnya seperti di kampung halaman penulis (Pariaman Sumatera barat). Disana masih kuat tradisi berbelanja dan silaturahmi ke lapau (istilah warung dalam bahasa minang).

Dilapau itu biasanya ada palanta (semacam tempat duduk memanjang) untuk bersantai. Di lapau itulah masyarakat minang sering berinteraksi diantara sesama mereka dalam bertetangga. Disanalah tempat obrolan santai sampai ke obrolan serius. Dengan masih terjaganya tradisi berbelanja ke warung tetangga pada masyarakat minang ini, sehingga rasa kebersamaan mereka dalam satu kampung (maupun antar kampung) masih terjalin erat sampai sekarang.

Nah, alangkah lebih baiknya jika orang-orang di perkotaan besar seperti jakarta dan lainnya kembali ke tradisi mereka dahulu. Karena sebagaimana masyarakat minang, sesungguhnya suku dan etnis lainnya dahulunya juga punya tradisi yang sama. Hanya saja, karena tergerus oleh perkembangan zaman yang cenderung semakin individualis, sehingga tradisi lama yang luhur itu kini semakin langka di kota-kota besar.

Oleh karena itulah, (melalui tulisan ini) saya ingin mengajak kepada teman-teman semua : marilah kita mulai berbelanja ke warung tetangga kita.

Biarlah selisih lebih mahal 500, 1000, atau 2000 perak, niatkanlah itu sebagai sedekah. 

Semoga dengan berbuat baik secara sederhana ini, dapat menjadi amal yang bernilai ibadah bagi kita. Sebab, dengan cara itu, sesungguhnya kita telah membantu perekonomian mereka. Setidaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari (makan), dan dapat membiayai sekolah anak-anak mereka.

Semoga Allah selalu memberkahi setiap langkah, dan meridhoi setiap niat baik kita, Aammiin.
Yunita
Yunita Saya seorang ibu rumah tangga yang gemar menulis.

Post a Comment for "Cara Sederhana Berbuat Baik Dengan Berbelanja ke Warung Tetangga"