Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ibu, Mengapa Kasih Sayangmu Menjadi Penghalang Untuk Mendidik Aku?

 IBU, MENGAPA KASIH SAYANGMU MENJADI PENGHALANG UNTUK MENDIDIK AKU.


Pada suatu hari terjadi perampokan bank yang terbilang nekat di salah satu kota negara timur tengah. Perampokan itu terjadi ditengah hari. Pelakunya adalah seorang anak muda yang berusia sekitar 35 tahunan.

Dikatakan nekat, karena perampokan itu dilakukannya hanya seorang diri. Bersenjatakan sebuah senjata rakitan, dia mengancam 2 orang security bank untuk mengunci pintu masuk. Kemudian memaksa pimpinan cabang bank itu untuk menunjukan dan membuka brankas tempat penyimpanan uang.

Setelah sebagian besar uang telah dimasukan sampai penuh ke dalam tasnya, perampok muda itu kemudian memerintahkan salah seorang security untuk mengikat para pegawai dan semua karyawan bank itu.

Untung tak bisa diraih malang tak dapat ditolak, entah kenapa salah satu security lainnya nekat menekan tombol darurat sebagai tanda bahaya. Sontak suara sirine tiba-tiba meraung-raung dengan keras.

Sang perampok kontan panik bercampur marah melihat tindakan security itu, dan secara reflek menembaknya hingga tewas.

Sekitar 15 menit kemudian polisi pun berdatangan dan segera mengepung bank itu. Polisi mencoba mengambil sikap persuasif dan membujuk pemuda itu agar supaya dia menyerah saja.

Namun pemuda itu sudah terlanjur kalap dan kehilangan kontrol diri. Sehingga bukannya menyerah, tapi dia malah meminta agar semua polisi itu bubar dan membiarkannya pergi. Jika tidak dipenuhi, maka dia mengancam akan membunuh semua karyawan bank yang telah dia jadikan tawanan itu.

Polisi akhirnya segera menyusun strategi dan siasat agar dapat meringkus perampok muda itu. Kepala tim kemudian meminta denah bangunan bank itu kepada pihak terkait. Setelah ditelusuri, akhirnya ditemukan jalur darurat yang akan disusupi untuk jalan masuk ke dalam gedung bank itu.

3 orang polisi bersenjata lengkap kemudian diperintahkan untuk melakukan penyusupan.

Sementara itu sang perampok tampak masih mondar mandir dalam keadaan panik di dalam gedung itu. Sembari mengarahkan senjatanya kepada para tawanan, dia terus berteriak-teriak agar polisi segera bubar.

Para polisi tadi rupanya berhasil masuk ke gedung bank, kemudian menyelinap perlahan-lahan menuju ruang utama bank itu. Tampak si perampok muda masih berteriak-teriak dan pandangannya terus fokus ke arah luar gedung yang dibatasi pintu kaca. Ketiga polisi tadi pun bergerak perlahan dari belakang menuju si perampok muda itu.

Saat jarak ketiga polisi dan si perampok hanya beberapa meter saja dan telah siap untuk memukul dan melumpuhkannya. Entah kenapa, tiba-tiba si perampok itu mendadak reflek dan tersadar kalau ada yang sedang menyelinap dibelakangnya. Saat itulah sang perampok segera membalikkan badan, bertepatan dengan ketiga polisi tadi secepat kilat memegangi tangan dan berusaha merebut senjatanya.

Sangat panik karena senjatanya akan direbut, perampok itu kemudian menembakan senjatanya secara membabi buta. Muntahan peluru pun menyasar kesana kemari, salah satunya mengenai pundak kiri salah seorang polisi yang sedang meringkusnya itu.

Untungnya polisi itu masih selamat dan tidak tewas seperti security sebelumnya.

Akhirnya si perampok itu berhasil diringkus, dan berakhirlah peristiwa perampokan/penyanderaan yang berlangsung secara dramatis itu.

Beberapa waktu kemudian, sang perampok itu mulai di adili di pengadilan. Selama pengadilan berlangsung, ternyata terungkap bahwa perampok muda itu punya riwayat kriminal yang panjang dari kepolisian (pada saat sebelumnya).

Beberapa diantaranya berisi catatan kenakalan yang dilakukannya disaat berumur 15 tahun, yaitu pencurian yang dilakukan disekolahnya.

Kemudian ketika berumur 17 tahun dia juga pernah melakukan tindak kriminalitas lainnya, yaitu mencuri sepeda tetangganya. Setelah itu masih banyak lagi rentetan kasus pencurian lain yang pernah dilakukannya. Hingga peristiwa terakhir yang paling parah, yaitu pencurian bank yang di iringi dengan pembunuhan security tersebut.

Dengan semua riwayat kelam itu, akhirnya menjadi faktor yang memberatkannya di pengadilan. Pemuda itu kemudian dijatuhi hukuman berat, yaitu hukum pancung.

Setelah ketuk palu dijatuhkan, sang pemuda diputuskan akan menjalani hukuman mati 3 bulan kemudian. Untuk sementara (hingga tiba waktu eksekusi), pemuda itu pun tinggal di dalam penjara.

Selama dipenjara pemuda itu banyak merenung. Dia tampak pasrah, dan sepertinya ada sesuatu yang tiba-tiba baru kini di sadarinya. Aneh bin ajaib, di sisa umurnya yang hanya tinggal 3 bulan itu, dia malah berubah menjadi orang yang lembut dan santun. Dia juga tampak rajin beribadah dan sholat malam, suatu hal yang sama sekali belum pernah dilakukan sebelumnya selama hidupnya.

Akhirnya waktu hukuman itu pun datang,,,,

Sebelum dirinya menghadapi algojo, sang pemuda itu meminta sebuah pena dan secarik kertas kepada petugas.

Dan ia kemudian mulai menulis :

Ibuku tersayang,,,,, Jika hukum itu adil, tentu saat ini kamu juga berada disini, duduk disebelahku menunggu hukuman pancung ini. Tapi karena hukum itu buta, maka saya dinyatakan bersalah atas kesalahan yang kita lakukan bersama-sama.

Ibu,,,, masih ingatkah engkau ketika anakmu ini masih berumur 3 tahun? Ketika itu aku mencuri permennya kakak? Saat itu ibu tidak membetulkanku. Ibu tidak pernah bilang bahwa perbuatanku ketika itu salah dan hal yang aku lakukan itu tidak baik.

Aku juga ingat dengan baik waktu aku berumur 5 tahun, pada hari itu aku mencuri mainan milik tetangga dan menyembunyikannya di rumah, sedangkan ibu mengetahuinya. Tapi ibu bilang kepada mereka ; mainan itu tidak ada di rumah.

Ibu.. ketika aku berumur 12 tahun, ibu tahu aku menyembunyikan bola sepupuku di garasi ketika dia datang bermain ke rumah, tapi ibu malah bilang kepada sepupuku itu ; Ibu memang melihatnya sebelum bola tersebut hilang.

Apakah ibu juga masih ingat di hari ketika aku dikeluarkan dari sekolah? Yaitu ketika aku berumur 15 tahun, karena kasus pencurian perangkat sekolah yang aku lakukan?

Pada saat itu ayah ingin menghukumku, tetapi ibu melarang keras. Dan pada hari itu ibu bertengkar sangat hebat dengan Ayah, hanya karena ibu ingin membelaku. Ibu bilang aku masih muda. Ibu juga bilang bahwa para gurulah yang salah, karena sudah mengatakan aku mencuri di kelas. Ibu sangat membelaku, ibu selalu bilang belum waktunya aku tahu bahwa aku salah. Ibu bilang aku benar. padahal ibu tahu aku salah.

Ibu pasti juga masih ingat dengan baik, ketika ibu melihatku mencuri sepeda tetangga saat aku berusia 17 tahun. Tapi ibu tidak pernah melaporkan bahwa aku sudah menjual sepeda itu, ibu hanya diam saja. Ibu sangat sangat menyayangiku, ya,,,, ibu sangat begitu sayang padaku. Tapi ibu, mengapa kasih sayangmu menjadi penghalang untuk mendidik aku? Ibu tidak pernah membetulkan aku, dan malah terus memanjakanku.

Itulah bagaimana semuanya berawal,,,, dan selesai perlahan-lahan sampai hari ini, yaitu ketika aku akan di hukum mati karena perampokan dan pembunuhan yang telah aku lakukan. Aku masih muda ibu, aku hanya butuh perlindunganmu saja, agar engkau mendidikku menjadi orang yang benar. Dan saat ibu membaca surat ini, aku sudah mati di tebas pedang algojo.

Salam, dari anakmu tersayang.

~Sebuah catatan untuk semua orang tua~

Pesan moral : Tugas seorang ibu bukan hanya sekedar melahirkan, tapi juga mendidik anaknya.

Terkadang ada seorang ibu yang salah memahami tentang arti kasih sayang. Kasih sayang diartikan dengan tidak menegur atau tidak memarahi anaknya ketika melakukan kesalahan. Padahal sikap seperti itu justru menjerumuskan anaknya, sebab anaknya jadi sulit membedakan mana hal yang salah dan mana hal yang benar.

Dan ketika sang anak telah dewasa, karakternya sudah terlanjur rusak, dan semua baru dia sadari setelah semuanya telah terlanjur/terlambat.

Setiap orang tua yang paham makna mendidik dan pentingnya pendidikan karakter anak, pasti bisa menangkap apa pesan dari narasi kisah tragis diatas.
Yunita
Yunita Saya seorang ibu rumah tangga yang gemar menulis.

Post a Comment for "Ibu, Mengapa Kasih Sayangmu Menjadi Penghalang Untuk Mendidik Aku?"