Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mencuri Sendirian Itu Dilarang dan Melanggar Hukum, Kecuali Kalau Rame-rame

 


Alkisah ada sebuah desa terpencil yang hampir belum tersentuh peradaban.

Sebagian besar penduduknya masih bertipikal bar-bar, dan sering terjadi peperangan antar suku diantara mereka.

Mereka suka menyamun dan merampok para musafir (yang kebetulan sedang lewat di desa terpencil itu). 

Mereka punya sifat keras, kasar, dan kejam.

Hanya segelintir kecil saja dari penduduk desa itu yang tidak kasar, yaitu orang-orang yang berprofesi sebagai petani. Dan kaum petani ini sering sekali diganggu, serta di tindas oleh sebagian besar penduduk desa tersebut.

Pada suatu malam, tiba-tiba suasana di desa itu mendadak gaduh.

Bunyi kentungan terdengar bertalu-talu dan bersahutan. Semua warga desa itu tiba-tiba terbangun dan keluar dari rumahnya masing-masing.

Tidak lama kemudian, tampak seorang pemuda yang sedang digelandang oleh beberapa penjaga keamanan desa.

“Hey Pencuri! Dasar kau pencuri! Langsung dihukum gantung saja!!” teriak warga desa ke arah si pemuda itu.

Sepanjang jalan, berbagai cela dan hardikan terus tertuju ke diri si pemuda (yang dituduh mencuri).

Sang pemuda tampak tenang menghadapi semua celaan warga desa.

Sesungguhnya pemuda itu adalah anak salah seorang petani di desa tersebut. 

Orang tua pemuda itu sering sekali ditindas dan diperas hartanya oleh Marbuk, salah seorang tokoh yang terpandang dan kaya, namun zalim di desa itu.

Marbuk ini merupakan tangan kanan pak kepala desa. Dia sering di tugasi untuk menarik upeti dari para petani miskin dan lemah di desa itu.

Penindasan yang dilakukan oleh Marbuk dan kepala desa telah berlangsung lama, yaitu sejak sang pemuda masih kecil, hingga sekarang dia mulai beranjak dewasa. Sehingga dendam kesumat si pemuda sudah sampai ke ubun-ubun kepada dua orang tokoh di desa itu.

Hingga suatu ketika, harta orang tua si pemuda sudah habis, karena terus dipaksa untuk membayar upeti. Sedangkan di saat itu ibunya sedang sakit keras, sehingga membutuhkan biaya berobat yang tidak sedikit.

Sang pemuda pun berfikir keras bagaimana caranya agar bisa mendapatkan uang dalam jumlah besar, demi untuk mengobati ibunya.

Tiba-tiba timbul ide gila di kepala sang pemuda. Yaitu merampok dan mencuri harta Marbuk atau kepala desa itu. Rencana itu nekat dilakukannya, sekaligus untuk membalas semua kejahatan mereka kepada kedua orang tuanya.

Setelah beberapa kali mempertimbangkan dan menyusun rencana, akhirnya sang pemuda lebih memilih untuk mencuri harta milik Marbuk. Alasannya karena rumah kediaman pak kepala desa sangat sulit ditembus, sebab penjaganya sangat banyak. Berbeda dengan Marbuk yang penjagaan rumahnya tidaklah seketat pak kepala desa, sehingga lebih memungkinkan bagi sang pemuda untuk menyelinap masuk ke dalamnya.

Maka pada suatu malam yang telah direncanakan secara matang, akhirnya si pemuda memulai aksinya.

Dia menyelinap dan masuk dengan cara memanjat bagian atap di belakang rumah Marbuk. Kemudian si pemuda membuka atap itu secara pelan-pelan, lalu turun ke bagian dekat dapur dan tempat pemandian. Lokasi ini tentu sangat sepi ketika ditengah malam hari, sehingga memudahkan pemuda itu untuk menyelinap masuk ke lokasi penyimpanan harta si Marbuk.

Akhirnya si pemuda berhasil masuk ke lokasi gudang penyimpanan harta. Dia sempat berdiam diri sejenak, dan memikirkan kira-kira harta apakah sebaiknya yang akan dicuri.

Tiba-tiba matanya tertumbuk pada salah satu benda antik, yaitu sebuah gelas yang terbuat dari emas. Firasat si pemuda mengatakan, bahwa gelas emas ini pasti adalah harta hasil rampasan, yang diambil paksa dari para musafir yang sedang lewat. Mereka adalah korban penyamun di desa itu (komplotan si Marbuk).

Akhirnya sang pemuda mencuri benda yang terbuat dari emas itu. Benda itu dipilihnya bukan tanpa alasan, tapi ada rencana dan taktik tertentu, serta alibi cerdas yang sudah dipersiapkannya secara matang. Dan sebagai tindakan jaga-jaga kalau dia tiba-tiba tertangkap.

Ternyata hal yang di duganya itu benar-benar terjadi. Saat dia berhasil keluar lewat belakang rumah Marbuk, dan sedang berjalan mengendap sekitar beberapa puluh meter, tiba-tiba ada seorang penjaga keamanan yang melihatnya.

Penjaga itu merasa curiga karena melihat si pemuda berjalan dengan gelagat mencurigakan sambil menenteng sebuah bungkusan. Penjaga itu pun segera menyergapnya sambil berteriak memanggil rekan-rekannya yang lain.

Menyadari dirinya telah ketahuan, maka si pemuda membiarkan semua penjaga keamanan itu datang meringkus dan menangkapnya.

Di sebuah balai desa, sang pemuda itu pun mulai di adili.

Seorang hakim kemudian bertanya : “Mana barang buktinya?”

Seorang aparat desa kemudian maju dan membawa sebuah bungkusan. “Ini, Pak!” Jawabnya.

Sementara itu, tampak dari luar balai desa ratusan warga terus saja berteriak :

"Hukum gantung!! Sikat! Habisi!"

Tiba-tiba semua suara teriakan itu sontak hening ketika hakim mulai membuka bungkusan.

“Hmm, apa ini?” tanya hakim kepada sang pemuda.

Pemuda itu menjawab pelan setengah berbisik : “Itu gelas emas, Pak!"

Kemudian hakim membuka bungkusan dan mengangkat benda yang ada di dalamnya. Tampaklah sebuah benda terbuat dari emas dan menyerupai gelas besar yang antik.

Gelas emas itu tentu bukan barang sembarangan. Dan semua warga desa tahu bahwa benda itu bukanlah berasal dari desa tersebut. Dari corak dan ukiran gelas emas tersebut, bercirikan seperti barang pusaka peninggalan kerajaan di seberang desa itu.

Kerajaan seberang itu pernah ada, dan pernah berjaya ratusan tahun yang lalu. Namun kemudian runtuh karena sering terjadi perang saudara. Kini hanya tersisa reruntuhan dan anak keturunan kerajaan itu. Mereka sering menjadi korban perampok dan penyamun, jika kebetulan sedang lewat di desa pemuda itu.

Para warga dan penduduk yang berkerumun di balai desa itu begitu takjub dengan barang bukti itu. Mata mereka tidak hentinya melotot menyoroti benda yang terbuat dari emas itu.

“Darimanakah kau mendapatkan benda ini?” tanya sang hakim selanjutnya.

“Itu persoalan rahasia!” jawab si pemuda spontan.

“Kenapa begitu?” tanya si hakim lagi.

“Karena di sana masih banyak lagi benda terbuat dari emas yang lebih bagus,” tegas si pemuda.

“Kalau begitu, kamu akan segera dijatuhi hukuman gantung!” gertak sang hakim.

“Silahkan saja!” jawab si pemuda dengan tenang.

Sejenak sang hakim mulai merasa bimbang. “Baiklah,,, apa syaratnya agar supaya kami juga bisa mengetahui dimana lokasi emas-emas itu?” tanya sang hakim diplomatis.

Si pemuda pura-pura berpikir keras. Tidak lama kemudian, dia pun berkata :

"Bebaskan saya selama 3 hari, agar saya bisa mengurus dan mengobati ibu saya yang sedang sakit keras". Nanti setelah ibu saya sembuh, pasti akan saya beritahukan dimana letak semua emas-emas itu. Sebagai jaminan, pegang dan sitalah gelas emas ini.

Mendengar ucapan pemuda itu, semua warga yang hadir serentak berteriak :

“Huuuu!”

Untuk menghindari kegaduhan dan menenangkan warga, maka hakim memutuskan pada hari itu si pemuda mesti menginap dulu di penjara.

Pada malam harinya pemuda itu sempat tertegun, karena tanpa di duga, ternyata sang hakim tiba-tiba saja sudah berada di hadapannya. Dia agak kaget. “Pak Hakim??” serunya spontan.

“Besok kamu akan aku bebaskan dari semua tuntutan hukum. Asalkan kamu mau membocorkan di mana letak serta lokasi emas-emas itu berada,” ucap sang hakim setengah berbisik.

“Hmmmh,” tiba-tiba terdengar suara lain menelusup. Kepala keamanan penjara tiba-tiba sudah hadir di belakang hakim. “Tidak akan semudah itu! Karena aku akan jadi saksi yang bisa memberatkan perbuatan kalian berdua!” tegas kepala keamanan penjara dengan nada mengancam.

Sang hakim mulai berpikir.

“Hmmm,,,,Baiklah! Bagaimana kalau kita bertiga bekerja sama saja?” sahut hakim setengah berbisik ke telinga kepala keamanan.

“Setuju!” Jawab kepala keamanan.

Tiba-tiba, tampak seseorang bergegas masuk ke lokasi penjara. Ternyata dia adalah seorang asisten kepala desa yang datang untuk menyampaikan sebuah surat.

Isi surat itu menyatakan bahwa pak kepala desa ingin bertemu segera dengan sang pemuda pada malam itu juga. 

Pembicaraan empat mata!

Setiba di rumah kepala desa, si pemuda di sambut dan di jamu dengan sangat istimewa. Senyuman lebar merekah di bibir pak kepala desa. Sinar wajahnya tampak sangat bahagia dan sumringah.

“Jangan khawatir! Kamu akan saya jamin bebas!” ucap kepala desa kepada sang pemuda.

Di sebelah kepala desa tampak duduk si Marbuk, orang kepercayaan dan kaki tangannya. Kepala desa percaya dengan ucapan si pemuda, karena Marbuk menyatakan bahwa dia juga memiliki benda seperti gelas emas tersebut. Yaitu gelas emas yang didapatkannya dari hasil rampasan milik keturunan kerajaan seberang, yang pernah lewat di desa tersebut.

Rupanya sampai detik itu, Marbuk belum menyadari bahwa gelas emas si pemuda itu sebenarnya di curi dari rumahnya sendiri. Dia terlalu silau dan tergiur dengan pengakuan si pemuda tentang sumber emas-emas itu, sehingga tidak terpikirkan kalau emas itu sebenarnya di curi dari rumahnya.

Pertemuan di rumah kepala desa dilanjutkan dengan jamuan makan malam.

Setelah selesai makan, kemudian (sambil mengerlingkan mata) pak kepala desa dan Marbuk berbisik pelan kepada pemuda itu :

"Jadi, di mana letak barang itu…..??”

Belum tuntas ucapan kepala desa dan si Marbuk, tiba-tiba ratusan warga yang kemarin sangat semangat menghardik dan menyoraki sang pemuda, kini semuanya berkerumun dan berdemo persis di depan rumah kepala desa itu.

Di antara mereka ada yang membawa parang, potongan besi, batang kayu, dan batu.

Mereka semua berteriak keras :

"Pak kepala desa, segera bebaskan pemuda itu!! Bebaskan segera pemuda itu!! Dia tidak bersalah!!”

Sebagian lain ada yang bersorak :

"Tunjukkan kami dimana lokasi emas-emas itu!!!"

Melihat semua tingkat laku aparatur dan warga desanya itu, sang pemuda hanya tersenyum kecut. "Sungguh kalian ini adalah orang-orang yang serakah dan benar-benar hina!" Ucapnya didalam hati.

Sesuai dengan permintaan sang pemuda, bahwa dia hanya akan menunjukkan lokasi emas-emas itu jika di izinkan mengurus dan mengobati ibunya selama 3 hari. Pak kepala desa, Marbuk, aparat keamanan, dan warga desa pun memenuhi permintaan pemuda itu.

Setiba di rumah, sang pemuda benar-benar mengobati ibunya.

Di hari pertama ada beberapa penjaga yang mengawasi rumahnya. Di hari kedua, pemuda itu masih mengobati ibunya, dan hanya tersisa tiga orang saja yang mengawasi rumah itu. Di hari ketiga akhirnya tidak ada lagi yang menjaga rumahnya, karena semua penduduk desa itu sudah yakin bahwa pemuda itu benar-benar sedang mengobati ibunya.

Saat tiba malam hari ketiga, si pemuda mulai beraksi untuk mewujudkan semua rencana yang sudah jauh-jauh hari dirancangnya. Ketika tiba waktu tengah malam, dia dan kedua orang tuanya bergerak pelan-pelan pergi dari rumahnya. Menelusuri jalan setapak menuju negeri seberang, yaitu negeri kerajaan yang telah runtuh itu.

Akhirnya di pagi harinya, sang pemuda beserta ibu dan ayahnya selamat tiba di negeri seberang itu. 

Dengan tersenyum simpul dia berkata kepada ayah dan ibunya :

"Ibu dan ayahku tercinta, sesungguhnya aku telah berhasil 'mencuri' cincin pusaka milik kerajaan seberang ini dari gudang hartanya si Marbuk. Cincin ini akan aku kembalikan kepada ahli waris kerajaan. Sekaligus sebagai sarana untuk meminta suaka politik di negeri ini, sehingga kita tidak perlu lagi kembali ke negeri asal kita yang buruk itu.

Ayah dan ibu si pemuda kemudian tersenyum dan tertawa lebar, sambil berkata :

"Jadi gelas emas yang engkau curi itu, sengaja kamu tunjukkan sebagai siasat untuk mengecoh penduduk di negeri kita itu? Jangan-jangan kamu juga sengaja merancang agar diri kamu tertangkap?"

Iya betul ayah, ibu,,,,,, 😊

Aku sengaja memancing mereka dengan menunjukkan gelas emas itu. Dan agar perhatian mereka menjadi teralihkan, sehingga tidak memeriksa kantung kecil di celanaku yang berisi cincin emas bertahtakan permata ini. Dan supaya mereka tidak memeriksa gudang harta si Marbuk, karena telah terkesima dan tergiur dengan pengakuan sumber emas dariku itu.

Akhirnya sang pemuda dan kedua orang tuanya diterima menjadi tamu kehormatan di negeri kerajaan seberang itu. Dan mereka pun akhirnya hidup tenang dan damai di sana. Meninggalkan kepala desa, Marbuk dan seluruh kaumnya. Meninggalkan mereka dengan sumpah serapah tidak berkesudahan terhadap sang pemuda. Karena merasa telah tertipu dan dikerjai dengan cerdik oleh si pemuda cerdas tersebut. 😁

Tamat.
Yunita
Yunita Saya seorang ibu rumah tangga yang gemar menulis.

Post a Comment for "Mencuri Sendirian Itu Dilarang dan Melanggar Hukum, Kecuali Kalau Rame-rame"