CARA MENGATASI PRODUK MAINAN YANG TIDAK LAKU (Barang 'mati') Skip to main content

CARA MENGATASI PRODUK MAINAN YANG TIDAK LAKU (Barang 'mati')

Assalamualaikum.

Hai,,,hai teman-teman semua.
Kembali bersua lagi dengan bang Izal
he-he-he. 😉

Semoga teman-teman semua dalam keadaan sehat dan sukses selalu ya. 😉

Beberapa hari lalu telah selesai saya tulis artikel yang berjudul : CARA MEMILIH JENIS MAINAN YANG PALING LAKU UNTUK DIJUAL DITOKO KITA

Nah pada tulisan kali ini akan membahas kondisi kebalikan dari artikel diatas, yaitu ketika mengalami produk (mainan) yang tidak laku dan bagaimana cara mengatasinya.

Produk yang tidak laku pasti akan selalu ada disetiap toko manapun, termasuk toko mainan. Itu lumrah, asalkan jumlahnya tidak banyak.

Yang jadi permasalahan adalah ketika terlalu banyak sisa produk mainan yang tidak laku, kurang jalan alias bikin 'mendemin' modal.

Hal ini tidak efektif, karena dapat menghambat dan mengganggu perkembangan toko kita yang baru dirintis, terutama bagi pemula yang bermodal pas-pasan. Sayang sekali kalau modalnya yang terbatas itu harus banyak tertahan di produk yang tidak/kurang laku tersebut.

Seharusnya modal yang ada bisa terus diputarkan lagi untuk berbelanja jenis mainan lain, tapi karena 'nyangkut di produk mati' tersebut, modal itu terpaksa harus 'mendem gak jelas' deh. 😓

Faktor penyebab.


Faktor penyebab banyaknya sisa produk yang tidak/kurang laku ditoko kita diantaranya adalah :

#1. Belum cukup berpengalaman dalam berbelanja stok barang.

Hal ini sering terjadi pada pelaku usaha pemula yang masih dalam tahap meraba-raba atau masih mengira-ngira jenis produk apakah yang cocok dijual ditokonya. 

Oleh karena itulah masalah ini telah saya ulas secara mendetail sekali pada artikel sebelumnya (lihat internal link diatas), yaitu bagaimana sikap berbelanja yang paling tepat dan bagaimana trik/cara memilih produk paling laku. Mudah-mudahan artikel tersebut dapat bermanfaat bagi teman-teman yang baru merintis usaha.

Nah, sangat disarankan bagi pengusaha pemula yang masih sama sekali buta dengan segmen, market dan pangsa pasar (baca : selera pembeli) area disekitar tokonya supaya dapat bersikap bijak dan tidak terburu nafsu ketika berbelanja stok barang.

Lakukanlah 'trial dan error', yaitu berbelanja dalam jumlah secukupnya dan lihatlah bagaimana perkembangan produk tersebut, apakah berjalan (laku) dengan lancar, atau sebaliknya. Kalau ternyata laku, bolehlah ditambah lagi stoknya.

Sebaliknya kalau tidak jalan (baca : kurang/tidak laku), cukuplah sisa stok yang ada itu berfungsi sebagai pelengkap toko kita saja. Artinya sekedar jadi barang cadangan, kalau-kalau suatu saat ada pembeli yang 'kebeneran nanyain' barang tersebut. 😊

"Bagaimana kalau sudah terlanjur bang Izal?" Kita sudah terlanjur terlalu banyak membeli 'stok mati' itu, gimana solusi dan jalan keluarnya?"

Hmmmh, soal jalan keluar nanti saja sekalian saya bahas dibawah.
Sekarang saya mau bahas faktor penyebab yang kedua dulu :

#2. Salah spekulasi.

Yang dimaksud salah spekulasi disini adalah salah spekulasi dalam berbelanja barang musiman. Hal ini tidak hanya terbatas pada produk mainan, tapi juga berlaku pada produk apa saja, sering orang meleset dalam berspekulasi (umumnya terjadi pada pebisnis pemula).

Barang musiman memang sering membuat kita dilema. Ketika kita belanja stok cuma sedikit, eh ternyata laris bener kayak kacang goreng. Pas besoknya kita mau belanja stok lagi, eh grosirannya sudah kehabisan barang.

Giliran pas kita belanja dalam jumlah banyak sekalian, eh ternyata musimnya (baca : trendnya) tiba-tiba kendor, bahkan berhenti sama sekali.

Sehingga yang terjadi kemudian adalah banyak sisa barang yang menumpuk dan berubah jadi 'barang mati seketika'.

Fenomena ini pernah terjadi ketika musim mainan sepatu roda pada beberapa waktu yang lalu. Masalah ini pernah saya tulis dalam satu artikel khusus, ini dia : DILEMA MAINAN MUSIMAN : ANTARA SPEKULASI, BAHAN BERBAHAYA DAN MASALAH HUKUM

Saat itu banyak pedagang mainan yang bingung karena terlalu berani membeli stok sepatu roda hingga berpuluh-puluh lusin. Sedangkan pembeli sepatu roda tiba-tiba berhenti! Lah iya lah! Kalau anak-anak sudah pada punya semua, lantas buat apalagi mereka beli sepatu roda? Lha wong kakinya cuma dua! Mau dijual sama orang dewasa? Ya jelas kagak masuk! 😂

Begitu juga saat lagi hot-hotnya musim mainan spiner kemarin. Ketika lagi puncak masa musimnya, kita setengah mati susahnya untuk bisa mendapatkan produknya. Eh ternyata masa hebohnya cuma sebentar saja. Sekarang banyak grosiran dikota (yang kurang hati-hati main spekulasi) yang kelebihan sisa barang.

Nah seperti itulah sifat mainan musiman, disatu sisi mengandung madu yang sangat manis, disisi lain bisa seketika berubah jadi 'racun mematikan' kalau kita tidak hati-hati. Jadi kita harus punya kemampuan spekulasi yang tajam!

Bagaimana kalau kita terlanjur salah berspekulasi? Dan sisa barang terlanjur banyak? Hmmh,,,,Nanti deh jalan keluarnya juga sekalian saya tulis dibawah. 😉

Sekarang kita akan membahas faktor penyebab yang terakhir.

#3. Tersangkut bahan berbahaya dan masalah hukum.


Faktor penyebab ketiga ini terbagi menjadi 2 poin, yaitu:

- Bahan berbahaya.

- Masalah hukum.

(Note : dua poin ini sebenarnya sudah dibahas di dalam artikel pada internal link bagian kedua diatas, tapi sekarang akan saya bahas dengan sisi pembahasan yang berbeda)

Sekarang kita bahas penyebab produk 'mati' alias tidak laku gara-gara :

- Di vonis oleh isu terbuat dari bahan berbahaya.


Kasus ini sebenarnya sangat jarang terjadi, jadi untuk faktor penyebab yang satu ini teman-teman tidak usah terlalu khawatir. Kalaupun sempat jadi korban karena kasus ini, berarti memang sedang apes. 😂

Contohnya pada kasus gelang loom band yang sempat booming pada beberapa tahun lalu.

Saat itu gelang ini benar-benar laku keras karena warnanya yang cerah dan menarik perhatian anak-anak perempuan dan remaja putri.

Saat dipuncak sedang laris manisnya, tiba-tiba keluar isu dari pihak yang terkait (SNI) yang menyatakan bahwa mainan gelang loom band itu diduga mengandung zat kimia berbahaya yang dapat menyebabkan kanker!

Seketika itu juga tiba-tiba tidak ada lagi konsumen (orang tua dan remaja putri) yang mau membeli mainan aksesoris itu lagi. Ya jelaslah mereka jadi takut!

Dan semua pedagang grosir dan eceran yang terlanjur membeli gelang loom band ini menderita banyak kerugian karena barang mereka banyak yang menumpuk dan 'mati seketika'.

- Masalah yang satu lagi gara-gara tersangkut masalah hukum.


Kalau bagian yang ini terjadi karena ke-awaman seseorang pada masalah hukum per-izinan (baca : hak paten/lisensi) pada sebuah mainan.

Contoh pada produk Bima X (superhero satria Bima Garuda). Yang memegang lisensi asli produk ini adalah produsen mainan asal Jepang, yaitu Bandai.

Nah, kasus ini bisa terjadi pada pedagang mainan pemula yang belanja stok produk Bima X palsu (Baca  : KW) terlalu banyak dan menjual secara terang-terangan ditokonya. (Sekedar untuk diketahui, kalau grosiran di Asemka itu menjual produk ini secara diam-diam, tidak dipajang secara terang-terangan).

Nah, kalau produk ini sampai ketahuan kita jual oleh yang punya merek asli, maka kita bisa kena tuntut. Minimal semua barang Bima X palsu itu bisa diangkut alias disita tanpa kompromi dan tanpa ganti rugi.

Nah repot kan?
Jadi gimana cara menjualnya?
Sedangkan kita sudah terlanjur terlalu banyak membeli produk mainan yang harus memiliki izin lisensi ini?

Nah, sekarang tibalah saatnya untuk saya jelaskan solusi dan jalan keluar dari semua permasalahan diatas.


Untuk mengatasi produk mainan yang tidak laku ini, ada 2 metode/cara Terbaik. Dan semua cara ini berdasarkan pengalaman nyata yang telah pernah saya praktekkan sendiri.

Cara #1. Menjual dengan harga miring pada market store/e-commerce.

Trik ini sering saya pergunakan, terutama pada mainan yang market/pangsa pasarnya tidak cocok untuk dijual pada area sekitar toko saya.

Seperti yang telah pernah saya jelaskan di artikel 'Cara memilih mainan yang paling laku di jual ditoko kita' bahwa market/pangsa pasar ditoko fisik (offline) amat jauh berbeda dengan pangsa pasar di toko online.

Pada toko offline ada produk yang cocok dan laku dijual, ada juga yang tidak laku. Sedangkan pada toko online, semua barang pasti laku, asal,,,, harganya miring!

Kenapa di toko online bisa 'masuk' pangsa pasarnya untuk semua jenis mainan? Karena toko online ini jangkauannya hampir tanpa batas! Jangkauan sampai ke seluruh Indonesia, bahkan dunia!

Nah, toko online-lah tempat 'buangan' terbaik untuk produk-produk yang 'mati' alias 'bikin mendem modal' di toko fisik (offline) itu!

Cara ini juga paling tepat untuk 'membuang' produk yang di isu-kan mengandung bahan berbahaya seperti loom band diatas.

"Tapi 'kan produknya berbahaya bang Izal? Kok masih kita jual di toko online? Dan apa mungkin tetap laku? Kan orang tua dan remaja putri sudah pada takut?"

Begini,,, kalau memang benar karet gelang loom band ini berbahaya, kenapa setelah beredar luas baru dikeluarkan isu-nya?
Dan kenyataannya banyak pula berita dan pernyataan lain yang menyatakan bahwa karet loom band itu aman digunakan. Jadi mana yang benar?

Dan bagaimana dengan orang-orang didaerah yang belum sampai berita (isu) ini kepada mereka, dan mereka telah terlanjur membeli dan tetap memakai gelang tersebut. Adakah beritanya kemudian mereka terkena penyakit kanker secara massal?

Yang jelas berita tentang zat berbahaya ini masih pro kontra, dan kita sebagai pedagang hanya menjadi korban karena ketidaksigapan pihak terkait mencegah mainan loom band ini masuk ke Indonesia sebelum isu ini menyebar.

Kita para pedagang 'kan tahunya hanya beli produk dan kemudian menjualnya kembali. Lah, kalau setelah barang terlanjur kami beli dan produknya telah menyebar kemana-mana, tiba-tiba ujug-ujug keluar isu yang langsung bikin produk kita 'mati' mendadak dan tidak ada yang mau beli lagi gara-gara isu itu? Hmmmh benar-benar 'ganas dan mematikan'! Apa salah kami?? Hhhhhhh 😅

Oleh karena itu, jalan satu-satunya yang bisa dilakukan untuk menghabiskan sisa produk itu dengan cara dijual secara online. Karena konsumen diluar wilayah Jakarta dan luar pulau Jawa relatif belum tahu tentang isu ini, sehingga merekalah konsumen yang bisa diharapkan untuk membeli sisa tumpukan stok loom band yang terlanjur dibuat 'mati' suri' itu

Begitu juga untuk kasus sepatu roda yang salah spekulasi. Ketika kita terlanjur berbelanja stok terlalu banyak, sedangkan tiba-tiba musimnya habis mendadak.

Apa sebab?

Karena anak-anak dan remaja disekitar toko kita semuanya telah membeli dan punya sepatu roda.

Jadi siapakah kira-kira yang belum punya?
Yaitu jutaan dari anak dan remaja lain yang ada di seluruh wilayah Indonesia. Dan untuk dapat menjangkau mereka hanya bisa dilakukan melalui toko online.

Nah dari semua keterangan diatas, apa kesimpulan lain yang dapat ditangkap?

Yaitu selain mempunyai toko fisik (offline), kita WAJIB harus punya toko online!

Dengan adanya toko online, kita menjadi punya 'tempat buangan' untuk produk kita (yang tidak jalan ditoko fisik).

Selain itu, sekarang ini zamannya era invasi online (baca : teknologi internet). Sehingga memang sudah menjadi keharusan bagi semua toko fisik harus mempunyai toko online.

Saya telah pernah membuat artikel menarik terkait masalah ini, boleh dibaca : INVASI TOKO ONLINE, TOKO OFFLINE HARUSKAH MATI (SURI)?

Itulah salah satu cara terbaik untuk 'membuang' mainan stok 'mati' ditoko kita.

Dan jangan lupa!
Cara diatas hanya akan work (berhasil) dengan syarat semua barang tersebut dijual ditoko online dengan harga miring.
Ambil margin sekitar 10% saja, anggap itu sebagai pengganti biaya transport selama kita belanja stok barang.

"Kalau cuma ambil untung 10% berarti kita rugi dong bang Izal?

Ya gak rugi donk he-he-he 😁

Daripada produk tersebut 'mendem', numpuk dan 'mati dalam waktu lama, mendingan kita jual murah (kembali modal).

Toh modal itu 'kan bisa kita putarkan lagi untuk membeli jenis barang lain yang jauh lebih laku. Sehingga membuka peluang untuk memperlengkap dan menambah jenis produk di toko kita agar lebih bervariasi.

Ketika toko kita lebih bervariasi dan lebih lengkap, apakah yang akan terjadi selanjutnya? Tentu saja peluang orang untuk berbelanja ditoko kita menjadi lebih besar!

Cara #2. Menjual dengan harga super miring (ambil margin 10%) disaat momen lebaran.

Cara ini adalah trik kreatif untuk merubah fungsi produk 'mati' itu menjadi alat yang 'menguntungkan' toko kita.

Gak mudeng ya teman-teman? He-he-he 😁

Begini,,,, momen lebaran itu 'kan hanya terjadi sekali setahun, dan selama masa puncak hari H lebaran yang biasanya selama 7 hari (hari H-1 sampai H-7) kita harus mampu menarik semua orang agar tertarik untuk datang ke toko kita!

Bagaimana caranya?

Yaitu buatlah suatu hal yang mampu menjadi magnet yang kuat untuk membuat mereka mau mampir dan datang berbelanja.

Apa magnet itu?

Yaitu harga yang super murah!
Misal diskon mulai dari 20% hingga 50%

Diskon 20% adalah untuk produk mainan yang kondisinya masih mulus, baik kotak kemasan maupun kondisi mainannya. Hanya saja mainan tersebut sangat lambat perputarannya di toko kita.

Sedangkan diskon 50% diberikan untuk produk mainan yang kotak kemasannya sudah rusak/remuk tergencet digudang, tapi kondisi mainannya masih bagus.

Atau kondisi sebaliknya, yaitu kemasannya masih bagus dan mulus, tapi mainannya ada 'rijek' atau cacat karena salah cetakan dari pabrik. Nah pada kedua kondisi mainan ini kita berikan diskon tinggi hingga 50%.

Lihat foto dibawah :

CARA MENGATASI PRODUK MAINAN YANG TIDAK LAKU
Produk yang di obral murah sebagai pemancing pembeli.

Dan saya juga membuat spanduk khusus, lihat foto dibawah :

CARA MENGATASI PRODUK MAINAN YANG TIDAK LAKU
Spanduk obral khusus.
Dengan memakai trik ini, saya mendapatkan kunjungan pembeli yang luar biasa ramai setiap lebaran. Karena diskon yang sangat murah tersebut menjadi magnet yang sangat kuat untuk membuat orang datang berbelanja.

Saya bocorkan satu lagi rahasia :
Sifat dasar manusia itu adalah rasa ingin tahu, nah ketika orang datang berbondong-bondong ke toko kita, maka orang lain yang lewat di depan toko tentu jadi ikut penasaran : " Ada apa sih rame-rame?"

Akhirnya yang bertanya ikut mampir deh.

Nah setelah orang yang berkumpul pertama kali sebelumnya selesai belanja, orang yang datang bertanya dan ikut berkumpul tadipun ikut milih-milih mainan. Nah, ada lagi orang lain yang lewat dijalan kembali melihat lagi, dan pengen tahu juga : "Ada apa sih kok rame banget orang ke toko ini?" Akhirnya mampir lagi dan ikutan, belanja,,, nanti orang lain yang dari jalanan melihat lagi dan penasaran lagi,,, begitulah seterusnya,,,,,,,, seperti foto dibawah ini :
CARA MENGATASI PRODUK MAINAN YANG TIDAK LAKU
Suasana pembeli toko saya saat lebaran 2017 kemarin

Semua gara-gara apa?

Gara-gara pancingan papan dan spanduk super murah diatas! ITU!

By the way ini ilmu rahasia yang saya bocorin nih he-he-he 😁😁😁

Dan, setiap hari lebaran semua produk mainan saya yang dihari biasa sulit laku, maupun yang rusak bawaan pabrik/'rijek', pasti selalu habis terjual ketika hari lebaran.

Nah, diakhir bulan Syawal saya kembali ke Asemka untuk beli restok produk mainan terbaru, yang lebih fresh!
Baik jenis maupun modelnya!

Bagaimana dengan produk 'mati' sebelumnya itu?
Sudah tiada, semua sudah habis ludes!
he-he-he 😁

Nah, bagaimana teman-teman?
Menarik bukan? Trik dan tipsnya? 😉

Semua cara diatas berdasarkan praktek nyata yang telah saya terapkan selama 7 tahun saya berbisnis toko mainan. Dan hari ini semuanya telah saya bocorkan disini. 😊

Besar harapan saya semoga semua tips ini dapat bermanfaat untuk teman-teman semua.

Oh iya, tips ini berlaku untuk semua jenis produk dan semua jenis usaha, karena sifatnya universal. Artinya bisa diterapkan untuk usaha apa saja, tidak hanya terbatas pada bisnis mainan.

Apabila teman-teman merasa tulisan ini bermanfaat, silahkan dishare ulang agar dapat memberikan manfaat pula untuk teman-teman yang lainnya.

Semoga semua ini dapat menjadi ilmu bermanfaat dan menjadi sumber amal jariyah bagi saya, Aammiin.

Baiklah teman-teman, sudah super lengkap tulisan kali ini saya tulis. Insya Allah akan saya lanjutkan diwaktu berikutnya dengan tulisan yang bermanfaat lainnya.

Semoga sukses selalu untuk teman-teman semuanya.

Salam.

Penulis by : Bang Izal.

Artikel Menarik Lainnya

Comments

  1. biyuh.. ulasannya jelas banget. selain utk pedagang mainan, sepertinya tips ini bisa digunakan utk pedagang jenis lainnya juga ya, mas.

    dua jempol utk Bang Izal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yupz!!
      Bener banget om,,, tips ini bisa diterapkan pada jenis usaha apa saja.

      Terima kasih sudah mampir diblog saya, semoga artikelnya dapat bermanfaat. 😊

      Delete
  2. mangap gan....

    kalau bisnis emak gue, cara penariknya menambah macam2 barang dan disalah satu barang dibuat murah dan yang lainnya tidak , menghindari harga mati karena bersaing sehat..

    mantap gan ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu sering di istilahkan sistem jual 'subsidi silang' om.

      Mantap om, mudah2an usaha ibunya tambah sukses ya 👍

      Delete
  3. Cukup cerdik dan jitu triknya Bang...Bakat Dagang Sepertinya sudah tertanam dijiwa Abang. Saya Salut Dech.......

    Kalau saya melamar Kerja di Toko Abang, diterima Ngk yach...heheh... :)

    Ngk Usah Di Gaji Dech... Kasih Makan 3 x sehari udah cukup .....hehe. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahahaha,,,, bisa aja nih si om kang nata 😁😁😁

      Btw kayaknya akhir-akhir ini om jarang update artikel terbaru,,, lagi sibuk urusan di dunia nyata ya om? 😊

      Delete
  4. Thanks artikelnya...saya penasaran juga lihat toko mainan yg jual berbagai macam mainan dan sempat bertanya tanya...itu kan ngak semuanya laku n kadang musiman...berani sekali tokonya...ternyata ada trik nya juga ya...sip..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bermanfaat ya om 😊

      Delete
  5. "Menjual dengan harga miring", pernah gak sampai jual rugi pak? ternyata begini ya berdagang, menarik juga dan banyak triknya. Ini ilmu pemasaran loh, belum tentu sarjana ekonomi bisa melakukan seperti sampeyan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo sampai jual rugi sih gak pernah mbak, paling mentok jual modal.

      Tapi itu jarang saya lakukan, terkecuali produk itu sudah benar2 'mati' alias sudah sangat sulit lakunya. Biasanya karena rijek (cacat pabriknya) cukup parah.

      Barang obralan umumnya masih saya ambil margin 10%, itu sebagai pengganti biaya transportasi dan operasional lainnya.

      Hehehehehe tau aja nih si mbak 😁 Memang benar,,,,kalo kita sudah terjun ke lapangan (dunia real/praktek), pasti akan banyak kita temukan ilmu2 yg tidak pernah diajarkan di bangku sekolah atau universitas. 😉

      Delete
  6. Pada intinya mah, bali modal itu sudah termasuk untung bagi para pedagang. Daripada mendem lama dan tidak laku. Laika-liku jadi pedagang, dimana-mana sama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yupp! Bener banget om hehehe :)

      Delete

Post a Comment

-Di izinkan untuk membagikan artikel/konten yang ada di blog Bang Izal Toy ini.
- Mohon maaf sebelumnya : no iklan, no spam, no titip link
Semua akan masuk folder spam
- Penjelasan aturan selengkapnya silahkan lihat T.O.S
Terimakasih atas kunjungan Anda.

POSTINGAN TERPOPULER

PUSAT GROSIR MAINAN ANAK DI JAKARTA Bagian 1 (Pasar Pagi Asemka)

BERAPAKAH MODAL AWAL BISNIS MAINAN?

PUSAT GROSIR MAINAN ANAK DI JAKARTA Bagian 3 (Pasar gembrong)

CARA MENGETAHUI HARGA GROSIR MAINAN TERMURAH DI ASEMKA

BEBERAPA JENIS USAHA MODAL KECIL DENGAN KEUNTUNGAN BESAR YANG PATUT ANDA COBA

Mau Berlangganan Artikel? Gratis!

Silahkan masukan e-mail anda dikotak, kemudian klik subscribe. Setelah itu jangan lupa anda cek link aktivasi yang kami kirimkan ke e-mail anda, kemudian klik dan aktifkan!

Delivered by FeedBurner