Postingan Unggulan

Cara Menghasilkan Uang Dari Internet Dan Bisa Dikerjakan Dirumah

Catatan Perjalanan Usahaku Bagian 1 (Menjadi Tukang Jahit)

Ketika saya hendak menulis artikel ini, saya terdiam sejenak sambil berpikir sebentar. Ya! Saya sedikit merasa bingung untuk memilih topik apalagi yang akan ditulis.

Penyebabnya adalah : karena hampir semua ide dan topik penulisan telah dibahas pada artikel sebelumnya.

Akhirnya, muncul ide saya untuk menuliskan cerita tentang perjalanan bisnis saya.

Topik ini adalah tentang kisah-kisah pribadi, tapi semoga saja kisah ini dapat bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi Anda semuanya. 😊

Kisah perjalanan bisnis ini akan saya buat dalam format bersambung. Mungkin saya akan menuliskannya hingga sepanjang 10 seri.

Mengapa seri artikel ini cukup panjang?

Karena kisah yang akan saya ceritakan ini telah berlangsung selama lebih dari 25 tahun, yakni sejak tahun 1993.

Sebuah perjalanan membangun bisnis yang sangat panjang dan berliku. Penuh suka dan duka!

Nah, kisah perjalanan bisnis ini akan dimulai dari masa yang paling awal.

Yaitu:

Menjadi Penjahit Tailor (Periode tahun 1993 hingga 2002).


Catatan Perjalanan Usahaku Bagian 1 (Menjadi Tukang Jahit)


Ya! Saya pernah menjadi seorang penjahit tailor (menerima order pakaian formal/semi formal).

Profesi ini berlangsung sejak saya berusia 15 tahun (1993) hingga saya berusia 23 tahun (2002).

Jadi, selama hampir sepuluh tahun saya telah bekerja sebagai seorang penjahit tailor.

Keterampilan menjahit ini saya dapatkan dari ayah saya. Dan memang, profesi ini telah dijalani oleh keluarga besar saya, sejak zaman kakek buyut saya dulu. Semua kakek saya (baik dari pihak ibu ataupun dari pihak ayah) sama-sama berprofesi sebagai seorang penjahit. Unik bukan? hehe ☺

Ini bukanlah hal yang aneh, karena dahulu profesi penjahit memang sangat menjanjikan. Prospeknya terbilang bagus ketika itu. Karena pada era 60-70an itu sedang populer gaya pakaian semi-formal nan modis.

Coba perhatikan foto dibawah ini. Grup band koes plus ini merupakan salah satu idola anak muda pada masa itu. Sehingga gaya berpakaian mereka menjadi mode trendy yang wajib untuk ditiru (pada masa itu).


Catatan Perjalanan Usahaku Bagian 1 (Menjadi Tukang Jahit)
Koes Plus, salah satu band legendaris dari Indonesia dengan gaya pakaian semi formal.

Apakah mode setelan pakaian semi formal kala itu? Yakni setelan pakaian yang terbuat dari bahan katun. Biasanya perpaduan antara baju kemeja dan celana panjang (bergaya cut bray). 

Setelan pakaian semi formal di atas biasanya dibuat secara khusus (maksudnya mendetail/jahitannya rapi) oleh seorang penjahit tailor. Berbeda dengan pakaian yang terbuat dari bahan sintetis seperti T-shirt atau jeans yang pada umumnya dibuat secara konveksi dengan skala besar. Nah, di era 60-an hingga 70-an itu masih jarang ada industri konveksi, sehingga penjahit tailor mengalami masa-masa kejayaannya pada waktu itu. 

Sebagai bukti kejayaan penjahit tailor di era itu adalah : kedua kakek saya (dari pihak ibu dan ayah) mampu membangun 2 rumah besar di Riau dan Sumatra Barat. 

Pekerjaan sebagai penjahit juga sangat identik dimiliki oleh orang-orang yang berasal dari daerah Sumatera Barat. Di masa lalu, di pasar atau di sepanjang jalan raya yang ramai, pasti sangat mudah untuk menemukan bisnis penjahit tailor ini. 

Menurut cerita kakek saya, di tahun 60-an dan 70-an, seorang pria yang berprofesi sebagai penjahit tailor adalah calon menantu idaman. Hehe ☺. 

Mungkin Anda merasa penasaran, lalu bertanya: "apa penyebabnya bang izal?" 

Alasannya sudah jelas : karena pada zaman itu seorang penjahit memiliki penghasilan yang tinggi! 😁 

Seperti yang saya sebutkan di atas, bahwa pada era 60-an dan 70an itu pakaian formal dan semi-formal menjadi trending bagi kawula muda pada saat itu. 

Cobalah lihat foto kakek Anda di era 60-70an dulu. Rata-rata mereka mengenakan kemeja lengan panjang dan celana panjang dengan mode cut bray. 

Nah, karena pakaian formal dan semi-formal menjadi mode trend pada saat itu, maka profesi penjahit tailor mengalami masa-masa kejayaannya. Apalagi ketika itu industri konveksi masih sangat sedikit, sehingga penjahit tailor tidak memiliki saingan yang berarti. 

Nah, karena penjahit tailor merupakan profesi yang dianggap menjanjikan pada masa itu, sehingga banyak orang tua yang menginginkan agar putranya dapat menjadi seorang penjahit profesional.

Demi mewujudkan cita-cita itu, maka banyak para orangtua yang 'menitipkan' putranya untuk belajar keterampilan menjahit kepada sang 'induk semang'. Yakni, berguru kepada seorang penjahit tailor profesional yang telah terkenal di daerahnya. 

Baca juga: Berkelana ke Kota Padang (My Story)

Selama proses belajar ini, anak titipan itu bagaikan orang yang sedang belajar seni bela diri dalam film kungfu klasik aktor Jacky Chan (Drunken Master). 😂 

Mungkin Anda sedikit merasa penasaran, dan bertanya: "Bagaimanakah proses penitipan sang anak dan metode belajar menjahitnya?" 

Jadi begini,,,,,, 

Di masa lalu, orang tua dari anak itu (biasanya) memberikan 'hadiah' berupa 3 koin (Rupiah) yang terbuat dari emas kepada sang guru (induk semang). Koin emas yang nilainya cukup besar itu diberikan sebagai imbalan 'uang jasa', sehingga diharapkan anaknya dapat diajari keterampilan menjahit hingga mahir. 

(FYI, di masa lalu Perusahaan Percetakan Umum Republik Indonesia (PERURI) pernah menghasilkan koin yang terbuat dari emas. Setahu saya, per keping bernilai 2,5 gram emas murni). 

Sepanjang tahun, selain belajar membuat pola dan keterampilan menjahit, anak didik itu juga harus rela membantu semua pekerjaan sang induk semangnya dalam kehidupan sehari-hari. Tugas-tugas wajib seperti membuka kios jahit pada jam 8:00 pagi, menyapu kios, pergi ke pasar untuk membeli bahan atau alat-alat jahitan, menyeterika pakaian, dan sebagainya harus rela dijalaninya. 

Melatih dan mengajar anak didik seperti ini umumnya dilakukan oleh penjahit tailor pada zaman itu. Tradisi ini telah berlangsung dari generasi ke generasi, telah ada sejak zaman kolonial Belanda. Karena tradisi ini telah berlangsung selama beberapa dekade, sehingga praktik semacam itu secara bertahap berubah menjadi sebuah DOKTRIN! Yaitu, sesuatu yang harus dilakukan oleh seorang anak didik! Sehingga anak didiknya itu seakan sudah menjadi seperti 'pembantu' gurunya. 

Sayangnya, praktik ini dari waktu ke waktu mulai bergeser menjadi mengeksploitasi anak sang penjahit itu sendiri. Hal ini mulai terjadi ketika masa kejayaan penjahit mulai menurun di tahun 80-an dan 90-an. Ketika sudah tidak ada lagi orang lain yang mau menitipkan anaknya untuk menjadi anak didik titipan, sehingga mulailah si penjahit tailor mewajibkan anak laki-lakinya sendiri untuk 'bekerja' menjadi 'pembantunya'.

Mengapa profesi penjahit mengalami kemunduran? 

Karena telah terjadi perubahan tren dan mode pakaian, pada tahun 80-an mulai trending pakaian jenis kasual dalam bentuk T-shirt dan celana jeans. Jenis pakaian ini biasanya diproduksi oleh industri konveksi. Karena itulah di era 80-90an mulai banyak berdiri industri konveksi pakaian jadi dimana-mana. 

Dan perubahan ini seperti sebuah efek domino dan bola salju, karena jenis pakaian seperti jeans dan T-shirt paling cocok untuk dijual di mal dan supermarket. Sehingga akibatnya semakin banyak pula berdiri supermarket dan mal di era tersebut. 

Semua perubahan di atas, membuat profesi penjahit tailor semakin 'mati suri'. 

Jika di era 60-70-an mereka bisa memanfaatkan anak titipan yang dipercayakan oleh orang lain sebagai 'pelayan' mereka, maka di tahun 80-an dan 90-an mereka sudah tidak bisa melakukan hal itu lagi. 

Apa penyebabnya? 

Karena sudah tidak ada lagi orang tua yang menitipkan anak-anaknya untuk diajari menjadi seorang penjahit. Karena profesi penjahit tailor tidak memiliki prospek yang bagus lagi. 

Akhirnya, siapakah yang menjadi 'korban' berikutnya? Yang menjadi 'pelayannya' setiap hari? 

Tepat jawaban Anda! Seperti yang telah saya katakan diatas : 'Korban' berikutnya adalah putra si penjahit tailor itu sendiri! 

Kejadian ini telah pernah terjadi dan dialami oleh ayah saya. Ayah pernah 'dipaksa' oleh kakek untuk membantu semua pekerjaannya. Dan ayah sayapun juga pernah menerapkan hal yang sama kepada saya. 

Kisah pahit yang menyedihkan itu telah pernah saya tulis di artikel berikut ini: Apakah Kesulitan Ekonomi Membuat Orang Tua Harus Mengeksploitasi Anak?

Tetapi saya masih bersyukur, karena rasa pedih akibat dari praktik 'eksploitasi anak' ini hanya ayah dan saya sendiri yang sempat mengalaminya. Generasi berikutnya tidak akan pernah mengalami lagi.

Apa penyebabnya? 

Karena era penjahit tailor pada saat ini sudah nyaris 'punah.' Era penjahit tailor telah berakhir karena tenggelam oleh perubahan zaman. Dan juga semakin tergerus oleh dominasi brutal raksasa konveksi dan industri garmen.

Dan saya telah mulai melihat tanda-tanda 'kepunahan' dari profesi penjahit ini ketika saya beranjak dewasa, yaitu pada pertengahan tahun 2002. Saat itu saya telah berusia 23 tahun. 

Saat itulah saya mulai memutuskan untuk berhenti menjadi seorang penjahit. Meninggalkan 'profesi warisan' yang telah saya jalani selama hampir sepuluh tahun. 

Pada akhir 2002, saya mulai merantau untuk mencari pengalaman sebagai pedagang. 

Karier pertama saya adalah sebagai penjual kepingan DVD di daerah Pandeglang, Provinsi Banten. Kisah ini akan diceritakan secara lengkap dalam seri artikel berikutnya. Berjudul : Catatan Perjalanan Usahaku Bagian 2 (Jualan kaset VCD di Pandeglang, Banten)

Salam sukses selalu untuk Anda semua. ☺ 

Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat, maka bagikanlah. Semoga pengalaman ini dapat bermanfaat bagi Anda dan rekan-rekan yang lainnya. 

Salam Hormat. 

Kisah ini ditulis dan diceritakan oleh Bang izal.

0 Response to "Catatan Perjalanan Usahaku Bagian 1 (Menjadi Tukang Jahit)"

Post a Comment

-Di izinkan untuk membagikan artikel/konten yang ada di blog Bang Izal Toy ini.
- Mohon maaf sebelumnya : no iklan, no spam, no titip link
Semua akan masuk folder spam
- Penjelasan aturan selengkapnya silahkan lihat T.O.S
Terimakasih atas kunjungan Anda.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel