Postingan Unggulan

Apa itu Passion? dan Bagaimana Cara Menemukannya?

Catatan Perjalanan Usahaku Bagian 2 (Jualan kaset DVD di Pandeglang, Banten)

Dalam artikel sebelumnya telah diceritakan tentang awal karir saya, yang dimulai ketika saya berusia 15 tahun. Karier pertama saya adalah sebagai seorang penjahit tailor (dari tahun 1993 - 2002). Bagi Anda yang belum membaca kisahnya, silakan klik di sini: Catatan Perjalanan Usahaku Bagian 1 (Menjadi Tukang Jahit) 

Dalam artikel itu, diceritakan bahwa saya (akhirnya) memutuskan untuk berhenti sebagai penjahit. 

Pada pertengahan 2002 saya mulai berkarier sebagai pedagang. 

Mungkin beberapa dari Anda bertanya kepada saya: "Apa alasan Anda tidak berkarir sebagai penjahit lagi bang izal?" 

Ya! Karena pada saat itu saya mulai melihat tanda-tanda penurunan prospek penjahit tailor di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk: 

# 1. Telah terjadi perubahan signifikan dalam trend dan gaya berpakaian, terutama di kalangan anak muda Indonesia.


Perubahan ini mulai terjadi sejak awal tahun 90an. Saat itu sudah sangat jarang ditemukan seorang anak muda yang mengenakan pakaian dari kain katun (baju kemeja dan celana bahan kain). Saat itu mayoritas remaja sudah mengenakan pakaian kasual (celana levis dan kaos). Setelan pakaian jenis baru ini dianggap lebih trendi dan modern saat itu. Sedangkan penggunaan pakaian yang terbuat dari bahan kain katun telah berubah fungsi untuk pakaian kantor, sekolah, dan acara-acara resmi lainnya. 

Pakaian yang terbuat dari kain katun merupakan sumber pendapatan utama bagi penjahit tailor. Karena penjahit tailor merupakan sebuah profesi yang spesialis menerima orderan pakaian formal dan semi formal. Jadi, jika pakaian dari katun telah jarang digunakan, maka riwayat penjahit tailor pun akan segera habis. Semakin lama semakin terkikis oleh waktu dan perubahan zaman. Orderan yang diterima oleh para penjahit tailor kian lama menjadi semakin sepi! 

Baca juga : Berkelana ke Kota Padang (My Story)

# 2. Makin banyak bisnis pakaian jadi (konveksi) yang bermunculan. Mereka memproduksi pakaian murah dalam jumlah besar.


Pakaian dari produk konveksi sangat berbeda dari hasil jahitan penjahit tailor. 

Perbedaannya antara lain: di industri konveksi tidak memperhatikan kerapian dari jahitan. Konveksi memprioritaskan produksi pakaian dengan jumlah besar (harga jual rendah). Sementara di penjahit tailor, mutu dan kualitas jahitan jauh lebih penting. Sehingga jumlah pakaian yang bisa diproduksi oleh penjahit tailor tidak-lah banyak. Selain itu waktu pemrosesan jahitan juga lebih lama. 

Ciri-ciri produk pakaian dari konveksi adalah: kepadatan jahitannya sangat 'longgar,' dan ritsletingnya mudah patah. Jadi perbedaan utama antara konvensi dan penjahit tailor adalah pada jenis kain dan kerapian jahitan. 

Jadi profesi penjahit tailor seolah sedang 'dihilangkan' secara perlahan oleh industri konveksi. Karena sudah jelas penjahit tailor kalah bersaing secara telak. Penyebabnya karena industri konvensi mampu menekan biaya produksi serendah mungkin (mereka membeli bahan baku dalam jumlah banyak langsung ke pabriknya, sehingga harganya jadi lebih miring), dan jumlah pakaian yang diproduksinya juga terbilang massal. 

Misalnya : setelan pakaian seragam sekolah mampu diproduksi oleh industri konveksi dengan harga jual yang murah, yakni senilai 100 ribu rupiah saja. 

Sementara di penjahit tailor, biaya upah untuk jasa menjahit celana sekolah adalah sekitar 85 ribu rupiah. (Biaya itu belum termasuk untuk membeli bahan kain, dan hanya untuk ongkos jahit celana saja). 

Jadi, jika seseorang ingin membuat pakaian menggunakan jasa penjahit tailor, maka membutuhkan total biaya sekitar 200 ribuan rupiah untuk satu setelan seragam sekolah. Perbedaan biayanya bisa 2 kali lipat antara penjahit tailor dengan hasil jahitan konveksi! 

Memang! Perbedaan biaya produksinya sangat jauh sekali dari konveksi. Jika diibaratkan dengan pertandingan tinju Mike Tyson VS Oscar De La Hoya, maka penjahit versus konveksi ini merupakan sebuah kompetisi yang tidak seimbang. 

Sehingga akibatnya profesi penjahit tailor secara perlahan-lahan mulai menghilang. Dan nyaris 'punah' karena dilindas zaman dan kerasnya persaingan.


Beberapa tanda-tanda di atas itulah dengan seksama mulai saya amati ketika pada tahun 2002 itu. 

Kesimpulannya: masa depan profesi sebagai penjahit akan segera berakhir! 

Dan saya harus berani memutuskan untuk berganti karier. Sekarang, apa pilihan yang paling tepat? 

Yes! Akhirnya, saya memilih pekerjaan sebagai pedagang! 

Tahukah anda apa bisnis pertama saya? 

Yakni:


Menjual kepingan DVD (Digital Versatile Disc) di pasar Pandeglang, Provinsi Banten, Jawa Barat. (tahun 2002 - 2003). Di situlah tempat pertama kalinya saya pergi merantau. 


Catatan Perjalanan Usahaku Bagian 2 (Jualan kaset VCD di Pandeglang, Banten)


Ya, sejak pertengahan tahun 2002 itu akhirnya saya memutuskan untuk pergi merantau, dan mulai meniti karir sebagai pedagang.

Artikel Menarik Lainnya : Anda Ingin Meraih Sukses? Cobalah Pergi Merantau!

Kenapa saya memilih untuk berjualan produk DVD pada saat itu? 


Alasannya karena pada waktu itu penjualan kepingan DVD sedang laris manis di pasaran. 

Oh iya, di daerah Pandeglang Banten itu juga ada paman saya. Dia sudah cukup lama berdomisili disana. Bisnis paman saya disana adalah berdagang kain dan alat-alat jahitan. 

Pada saat itu saya sedang pergi merantau untuk pertama kalinya. Jadi saya harus ikut dan belajar bisnis terlebih dahulu kepada paman saya. Tentu saja paman saya telah berpengalaman hidup di kota kecil tersebut, sehingga sangat patut dijadikan tempat rujukan (untuk belajar hidup diperantauan). 

Metode ini memang biasa dilakukan oleh semua perantau di Indonesia. 

Kenapa kita harus belajar/berguru terlebih dahulu kepada salah satu kerabat kita di perantauan? Alasannya adalah ; karena kerabat kita nanti akan berfungsi sebagai mentor kita. Sebab pada umumnya orang-orang yang baru pertama kali pergi merantau, biasanya masih merasa canggung dengan lingkungan baru mereka. Sehingga harus ada orang yang telah berpengalaman dirantau untuk membimbingnya.

Nah, di kota Pandeglang itu saya menjual piringan DVD di sebuah sisi trotoar jalan (di sekitar depan pasar). Saya membuat sebuah kios berdagang, modelnya berupa meja ukuran 3 x 1 meter. Atapnya terbuat dari terpal tebal. Jika turun hujan, disekeliling kios harus ditutupi dengan plastik. 

Ada kisah sedih dan menyentuh ketika saya berdagang di pasar Pandeglang itu. 

Begini ceritanya:


Karena saat itu adalah pertama kalinya saya pergi merantau, sehingga tentu saja saya belum pandai untuk melobi pengurus pasar Pandeglang tersebut. Sudah umum terjadi di pasar-pasar Indonesia, yaitu jika Anda ingin mendapatkan lokasi lapak yang strategis, maka Anda harus pandai melobi pengurus dipasar tersebut. 

Selain mesti pandai melobi, Anda juga harus memberikan 'uang pelicin' kepada pengurus/manajemen pasar agar urusan Anda bisa lebih lancar disana. 

Sekarang masalahnya adalah ==> keduanya (uang dan keterampilan melobi) itulah yang tidak saya miliki pada saat itu. 😅 

Pada akhirnya, saya pun mendapatkan kios di 'area mati'. Yaitu di sebuah gang sempit/jalan kecil (salah satu pintu masuk ke pasar). 

Jadi ilustrasi posisi kios saya adalah seperti ini : 


Para pedagang lain (yang telah lama berdagang dan memiliki lobi orang dalam di sana) bisa mendapatkan posisi kios strategis. Yaitu kios/lapak yang berlokasi tepat di sisi jalan (sehingga banyak orang yang lalu lalang). Maka lokasi kios saya adalah berada di belakang kios-kios pedagang lama itu. 

Sebuah 'kios mati'! Menyedihkan sekali. 😥 

Jadi, antara kios pedagang satu dengan kios pedagang lainnya itu ada ruang sekitar 2 meter. Ruang ini berfungsi sebagai pintu masuk ke pasar. Nah, di dalam gang itulah lokasi kios saya. Akibatnya, calon pembeli hanya akan datang berbelanja ke kios saya, jika produk DVD yang ia cari kebetulan sedang tidak ada di kios lain. Kesimpulannya: Saya hanya bisa mendapatkan sisa-sisa pelanggan mereka! 😭 

Kondisi pahit di atas berlangsung selama enam bulan. 

Berapa banyak jumlah DVD yang terjual per hari ketika itu? 

Saat itu saya hanya bisa menjual sebanyak 5-10 keping DVD per hari! 

Namun karena saya sadar pada saat itu saya baru pergi merantau, sehingga saya berusaha menjalani semua dengan tegar. Prinsip saya ketika itu hanya satu: yang penting saya bisa berdagang! ☺ 

Tapi ... ,, mungkin ini sudah menjadi keberuntungan saya. Ternyata (tidak lama setelah itu), ada kebijakan dari pemerintah daerah untuk menertibkan PKL.


Jadi pengelola pasar diharuskan menertibkan para pedagang kaki lima di daerahnya masing-masing. 

Termasuk pasar Pandeglang juga terkena kewajiban ini. 

Fyi, menurut aturan, PKL tidak bisa berjualan di pinggir jalan, karena menyebabkan kemacetan jalan. Lokasi yang diizinkan berdagang adalah dalam area pasar (lapak saya termasuk yang diperbolehkan untuk berdagang, karena berlokasi didalam gang pasar). 

Masalahnya; ada beberapa oknum pengurus pasar yang menyalahgunakan wewenang mereka. Mereka seringkali membiarkan pedagang kaki lima berjualan di jalanan, karena mereka mendapatkan suap dari para pedagang tersebut. 

Mungkin Anda akan bertanya: "Apakah faktor yang membuat PKL rela membayar sejumlah uang suap, agar bisa mendapatkan lokasi di pinggir jalan?" (meskipun itu melanggar aturan dan membuat kemacetan lalu lintas). 

Jawabannya adalah: Karena area di sisi jalan dianggap lebih strategis, sebab tentu saja banyak orang yang lalu lalang di pinggir jalan tersebut. 

Artikel Menarik Lainnya : 5 Kunci Rahasia Sukses

Kembali ke topik!


Apakah Anda masih ingat tentang perintah untuk menertibkan PKL sebelumnya diatas? (perintah dari pemerintah daerah). 

Nah, karena adanya penertiban tersebut, sehingga otomatis lokasi kios saya yang sebelumnya berada di 'area mati' (posisinya paling belakang), kini tiba-tiba berubah menjadi area paling strategis! (posisinya menjadi paling depan). Hal ini disebabkan karena semua pedagang lama (yang menutupi kios saya) kini telah diusir (ditertibkan) oleh pemerintah daerah dan pengurus pasar! 

Semua pedagang yang berada persis di hamparan pinggir jalan, harus dipindahkan ke sebuah tanah lapang kosong di belakang pasar! Dan karena lokasi kios saya berada didalam gang, sehingga tidak termasuk ke dalam area yang terkena penertiban. 

Setelah itu, situasinya tiba-tiba berubah menjadi 180 derajat. Jika sebelumnya saya hanya bisa menjual 5-10 keping DVD per hari, maka sejak penertiban itu saya bisa menjual hingga 50 keping DVD per hari! Alhamdulillah. ☺ 

Sejak saat itu saya dapat menyisihkan penghasilan bersih dari bisnis menjual DVD ini. Sehingga saya dapat terus memutarkan cashflow untuk mengembangkan bisnis saya lebih lanjut. Setiap laba bersih tersebut diakumulasikan, untuk kemudian kembali saya belanjakan lagi ke produk DVD yang baru. Terus diputar lagi, lagi dan lagi. Berputar terus seperti itu sepanjang waktu berlakunya penertiban PKL tersebut. 

Saya terus menjalankan metode di atas sebanyak mungkin. Karena saya sudah menebak, 'kios strategis' saya itu tidak akan bertahan lama. 

Dan dugaan saya ternyata benar! 

Empat bulan kemudian, semua para pedagang kaki lima tersebut kembali berdagang lagi ke pinggir jalan. Bagaimana mereka bisa dapat kembali berdagang di sana? Ya apalagi sebabnya, kalau bukan  karena mereka melakukan 'lobi khusus' kepada beberapa manajer pasar. 

Indonesia gitcue loh! Wkwkwkwkwk. ☺

Akhirnya kios saya kembali tertutup oleh lapak pedagang lain, dan akibatnya 'mati suri' lagi deh. 

Tetapi saya tetap bersyukur, sebab selama empat bulan berlakunya penertiban PKL itu, modal dan stok DVD saya telah meningkat drastis. Dan alhamdulillah saya juga telah berhasil menabung sebagian hasil bersihnya. 

Di kota Pandeglang itu, saya belajar dan menuntut ilmu sebagai pedagang selama sekitar satu tahun.


Setelah para pedagang yang kena penertiban itu kembali 'turun gunung' (baca: kembali berjualan ke pinggir jalan), maka menimbulkan efek yang cukup besar kepada saya. Kios saya kembali tertutup dan 'mati.' Saya mencoba untuk terus bertahan berdagang, meskipun kondisinya kembali terasa pahit. 

Omset rata-rata per hari setelah itu sangat minim dan turun drastis. Sedih! 

Dan akhirnya, ada sebuah kejadian besar yang akhirnya menjadi pemicu saya, untuk memutuskan melanjutkan perantauan ke kota Jakarta. Ya! Akhirnya saya hijrah total ke Jakarta.

Mungkin Anda merasa sedikit penasaran, dan bertanya: "Apa sih pemicunya bang izal?" 

Saya telah menulis jawabannya di seri artikel selanjutnya. Klik DI SINI 

Sampai jumpa lagi :-) 

Kisah ini ditulis dan diceritakan oleh Bang izal.

0 Response to "Catatan Perjalanan Usahaku Bagian 2 (Jualan kaset DVD di Pandeglang, Banten)"

Post a Comment

-Di izinkan untuk membagikan artikel/konten yang ada di blog Bang Izal Toy ini.
- Mohon maaf sebelumnya : no iklan, no spam, no titip link
Semua akan masuk folder spam
- Penjelasan aturan selengkapnya silahkan lihat T.O.S
Terimakasih atas kunjungan Anda.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel