Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML Atas

Tantangan Berat Pedagang Mainan di Era Digital 4.0 dan Solusinya

Tantangan Berat Pedagang Mainan di Era Digital 4.0 - Sebagai pedagang mainan (yang operasional usahanya dijalani secara offline) saya telah melihat perubahan yang begitu sangat cepat belakangan ini. 

Yang saya maksud adalah perubahan cara berbelanja masyarakat yang tadinya biasa dilakukan secara offline (datang langsung ke toko), kini transaksinya telah banyak berubah, yakni dilakukan secara online.

Trend perubahan cara berbelanja itu semakin jelas saya rasakan sejak 3 tahun belakangan ini. 

Emak-emak muda yang 5 tahun lalu masih gaptek tentang cara berbelanja melalui online, sekarang rata-rata sudah mulai paham caranya. 

Yang jadi masalah, setelah tahu caranya, eh mereka malah jadi keranjingan berbelanja di pasar digital tersebut. Hhhh 😂

Apa pangkal pemicunya? 

Ya apalagi kalau bukan karena promo dan diskon gila-gilaan dari Marketplace besar yang terus saja 'bakar uang' itu.

Nah perilaku seperti diatas itu adalah bagian dari perubahan di era revolusi industri dan digital 4.0

Lalu, apa sih era revolusi industri dan digital 4.0 itu?


Tantangan Berat Pedagang Mainan di Era Digital 4.0 dan Solusinya
Ilustrasi. Foto by : Pxfuel.com


Penjelasan sederhananya, revolusi industri itu segala perilaku dan kegiatan (dalam hajat hidup manusia) yang lebih menitik beratkan penggunaan teknologi.

Jadi manusia di era revolusi industri modern (4.0) lebih banyak memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk memudahkan segala urusan dalam hidupnya.

Revolusi industri 4.0 ini tentunya dapat bermakna luas. Misalnya jika ada sebuah pabrik yang mulai banyak menggunakan teknologi mesin dalam produksinya (ketimbang tenaga manusia), maka itu adalah salah satu contoh dari era revolusi 4.0

Jika pada tahun 2010 ke bawah dulu tiket kereta api atau jalan tol masih menggunakan karcis, maka kini sudah tidak lagi. Sekarang sudah tidak ada lagi petugas yang stand by di pintu masuk stasiun atau jalan tol, karena sistemnya sudah diganti secara digital, yaitu cukup dengan cara menempelkan kartu saja.

Begitu pula halnya dengan perilaku dan cara berbelanja masyarakat Indonesia. Kini juga sudah berubah dengan sangat cepat. 

Jika dulu mall dan pasar tradisional adalah pusat aktivitas berbelanja setiap orang, kini telah banyak beralih ke Marketplace dan E-commerce.

Sehingga sudah bukan hal mengherankan lagi jika anda melihat banyak pasar tradisional sekarang ini sepi pengunjung.

Bahkan kini banyak mal-mal besar yang suasananya seperti kuburan. Kalau Anda yang punya mal atau pengelolanya, maka anda bisa main bola futsal didalam mal tersebut (saking sepinya).

Kabar sedihnya, begitu pula lah nasib yang beberapa tahun belakangan mulai di alami oleh pedagang mainan offline. Saya sendiri yang sudah lebih dari 15 tahun berkecimpung di bisnis mainan offline, mulai merasakan perubahan trend berbelanja itu.

Sebenarnya tanda-tanda perubahan itu sudah mulai terasa sejak tahun 2015an silam. Namun saat itu masih cukup banyak pelanggan setia yang tetap datang berbelanja ke toko saya.

Nah yang jadi masalah, seiring berjalannya waktu, tentu anak-anak dari pelanggan saya itu juga semakin besar. Sehingga mereka mulai tidak tertarik untuk membeli mainan lagi.  

Kenapa begitu?

Karena target pasar mainan adalah anak yang berumur 3 hingga 6 tahun. Kalau sudah lewat dari umur itu, mereka sudah tidak mau main mainan lagi. Mainan mereka sudah berganti secara digital, yaitu bermain game online di Android. 'Kan anak jaman now gitu lho! 😅

Di sisi lain, emak-emak muda jaman now juga sudah banyak yang melek teknologi. Mereka mulai paham cara berbelanja online melalui Marketplace terkemuka yang ada di Indonesia. Baik itu Marketplace yang berwarna oren, hijau, maupun yang berwarna merah marun.

Mereka juga tampaknya sudah sangat fasih dan hafal promo dan diskon besar-besaran yang ada di tiap pasar digital tersebut.

Tentu saja toko mainan offline akan kalah dari segala sisi jika dibandingkan dengan semua Marketplace itu. Terutama kalah dari sisi promosi, dan juga kalah dari sisi kemudahan dalam bertransaksi/berbelanja.

Belanja di Marketplace itu pembelinya gak perlu repot-repot datang ke toko. Gak perlu takut macet, gak perlu takut kena hawa panas terik atau kehujanan. Caranya hanya tinggal pencat-pencet di gadget mereka, pilih barang, lalu order. Selanjutnya tinggal menunggu sang kurir mengantarkan pesanan tersebut. 

Serba otomatis dan mudah!

Setelah melihat semua uraian diatas, pertanyaannya: Langkah apa yang harus di lakukan oleh toko mainan offline agar tetap bisa bertahan?

Ada beberapa langkah strategis yang bisa dilakukan oleh toko mainan offline, diantaranya:

1. Mulai Go-Online

Saran ini lebih diutamakan untuk toko mainan online yang bergerak di bidang retail (eceran). 

Kalau toko mainan grosir sebaiknya tetap bergerak secara offline saja, tujuannya agar ekosistem bisnis yang sehat dapat tetap terjaga.  Sebenarnya toko grosir boleh-boleh saja ikut berjualan secara online, asalkan caranya etis. 

Jadi maksudnya toko grosir online tetap menjual produk mainannya secara grosir. Jangan sampai seperti beberapa oknum pedagang yang jualan mainan secara ecer di Marketplace tapi harga jual per pcs nya dibanderol harga grosir (harga modal). 

Tentu saja tindakan seperti diatas itu akan merusak harga pasaran. Dan efek jangka panjangnya dapat mematikan prospek usaha pedagang mainan retail (offline).

2. Jika Ada Stok Mainan Yang Sudah Lama Yang Tidak Laku di Toko Offline, Maka Marketplace Dapat Menjadi Saluran 'Pembuangan' Yang Tepat.

Artinya kalau ada stok mainan di toko offline Anda jadi 'barang mati' (tidak kunjung laku), maka anda bisa menjualnya melalui media online.

Peluang produk lama itu untuk laku terjual di Marketplace tentu lebih besar. Sebab jangkauan Marketplace itu bisa mencapai seluruh wilayah Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri.

3. Anda Juga Bisa Menjual Murah (mengobral) Produk Yang Kurang Laku itu Di Toko Offline Anda.

Jadi maksudnya, di samping menjual murah di Marketplace, Anda juga bisa mengobral produk kurang laku itu di toko offline Anda. 

Dengan sekaligus melakukan kedua metode tersebut, maka perputaran produk mainan ditoko offline Anda akan jadi lebih cepat, sehingga tidak akan ada lagi stok mainan yang menumpuk.

Keuntungan lainnya, toko Anda akan mendapatkan image sebagai toko yang murah oleh pelanggan anda. Karena yang namanya produk obral tentu dijual dengan harga miring, dan ini akan menjadi poin positif bagi pelanggan setia Anda.

4. Selain mengobral murah stok mainan lama, Anda juga perlu mengobral jenis mainan baru yang sedang trend (lagi musim).

Kenapa ini perlu dilakukan?

Karena jika anda mengobral mainan yang sedang musim dengan harga cukup murah, tentu ini akan jadi momentum atau peluang besar bagi anda untuk mendapatkan calon pelanggan baru.

Sebab mainan baru yang sedang musim kalau dijual murah, akan sangat mudah memancing orang untuk datang berbelanja.

Namun harus diingat, dijual murah disini bukan berarti menjualnya dengan harga tidak wajar ya,,, karena hal itu tidak etis dilakukan. Sebab akan berpotensi merusak harga pasaran.

Batas nilai yang wajar untuk mengobrol produk mainan (eceran), yaitu mengambil margin di kisaran 30% hingga 40%. 

Jadi jangan sampai anda banting harga terlalu rendah di angka margin 5 atau 10% (misalnya). Sebab hal itu akan dapat memicu persaingan yang tidak sehat dengan pedagang mainan lainnya.

5. Selalu konsisten menjaga mutu, pelayanan, dan kepuasan pelanggan.

Bagian yang kelima ini menjadi kunci paling utama (sebagai penyempurna) dari keempat tips diatas.

Intinya selama Anda masih berkecimpung di bidang usaha mainan, maka kepuasan pelanggan harus selalu menjadi prioritas utama Anda.

Apa sebab?

Karena hal itulah yang akan menjadi poin plus toko mainan (offline) Anda. Sehingga Anda dapat bersaing dengan toko online (Marketplace).

Saya yakin pasti Anda semua sudah tahu bahwa toko online itu memiliki satu kelemahan utama, yaitu produknya tidak bisa di lihat, di cek dan di tes secara langsung.  

Sangat berbeda dengan produk yang ada di toko offline. Setiap pembeli dan pelanggan Anda dapat memeriksa, tes, dan cek kondisi produknya secara seksama.

Itulah sebabnya jarang sekali transaksi di toko offline yang di komplain oleh pembeli. Karena mereka sudah yakin dan sudah melihat langsung kondisi produknya yang memang bagus.
Berdasarkan pengalaman pribadi, ada sebagian pelanggan yang lebih suka berbelanja secara offline di toko mainan saya. Walaupun mungkin harga produk saya sedikit lebih mahal (daripada produk yang ada di toko online), tapi bagi mereka itu tidak menjadi masalah.

Apa alasannya?

Rata-rata jawaban pelanggan saya sbb: "Barang online itu memang murah, tapi kalau lagi ada masalah ribet ngurus komplainnya,,, mending saya beli di sini aja (ditoko saya maksudnya), lagipula harganya gak beda jauh kok,,,,". Demikian tuturnya. 

Itulah diatas beberapa upaya yang belakangan ini saya coba lakukan, demi untuk mengimbangi ganasnya persaingan pasar digital di era revolusi 4.0. Dan sampai saat ini semua upaya yang saya lakukan itu cukup berhasil menurut saya. 

Setidaknya usaha toko mainan saya masih tetap bisa berdiri dan mampu bertahan hingga saat ini. 

Dan hal tersebut tentu patut untuk saya syukuri. Sebab akhir-akhir ini cukup banyak toko mainan offline yang jauh lebih besar dari saya, justru tumbang dan telah menutup usahanya. Anda bisa baca artikelnya disini: Dampak Pandemi, 3 Toko Mainan Di Asemka Tutup

Semoga sharing ini dapat bermanfaat dan sampai jumpa lagi di artikel menarik selanjutnya.

Salam sukses! 🙏

Post a Comment for "Tantangan Berat Pedagang Mainan di Era Digital 4.0 dan Solusinya"