Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Catatan Perjalanan Usahaku Bagian 4 (Berpetualang di Pasar Malam)

Halo teman-teman. ☺ 

Saya ingin bercerita ringan sejenak sebelum fokus pada topik utama. 

Saya sangat berterima kasih atas semua orderannya di toko online saya, yang beberapa hari yang lalu sempat menumpuk. Dan setelah beberapa hari berjibaku, alhamdulillah, akhirnya saya bisa mengirimkan semua orderan tersebut. 

Menurut pendapat saya, mengelola toko online jauh lebih merepotkan daripada menangani toko offline. 


Saya memiliki beberapa bisnis berupa toko offline (toko fisik) dengan nama 'RC Toys', dan juga toko online yang saya beri nama 'BangIzalToys'.

Untuk toko offline, saya memberikan kepercayaan kepada istri dan karyawan saya untuk mengelolanya. Proses transaksi di toko offline relatif lebih mudah dan cepat. Jadi setelah pembeli menemukan produk mainan yang dia inginkan (misalnya boneka), kemudian, karyawan saya mengetes mainan itu (menyala atau tidaknya). Setelah itu, pembeli kemudian membayar jumlah total pembelian. Selanjutnya boneka itu dibungkus ke dalam kantong plastik, dan sang pembeli membawa pulang mainan yang telah dibelinya. Selesai! Simpel!

 Artikel menarik lainnya: Catatan Perjalanan Usahaku Bagian 1 (Menjadi Tukang Jahit)

Nah, hal yang sangat jauh berbeda ketika mengurus toko online. Mengurus toko online relatif lebih rumit. Jika saya dapat menyerahkan urusan toko offline kepada istri saya (untuk mengelolanya), maka pada toko online harus saya yang turun tangan mengurusnya sendiri. Sebagai contoh; untuk layanan pelanggan (CS) dan bagian pengemasan (packing). Kedua bagian itu hanya saya yang bisa mengurusnya. 

Apa penyebabnya? 

Karena,,, 

Di bagian layanan pelanggan, hanya saya yang bisa menjawab setiap pertanyaan calon pembeli (dengan benar). Karena saya yang paling tahu (secara detail) deskripsi produk yang saya jual. 

Bagian lainnya adalah pengemasan (packing). 

Pengemasan termasuk pekerjaan berat, jadi bagian itu hanya bisa dilakukan secara optimal oleh seorang pria, sedangkan karyawan toko offline saya semuanya wanita. 

Hmmm ,,, mungkin Anda berpikir; "Kan ada istrinya bang!" ☺ 

Hhhhhh ,,,,, Memerintahkan istri saya untuk melakukan semua pekerjaan itu? Oww ... aduh ... aduh ... aku tidak bisa melakukan itu! Saya bukan tipe lelaki seperti itu. 

Sikap seperti itu (hanya mengandalkan wanita) dapat merusak martabat dan harga diri saya sebagai pria, yang seharusnya melindungi wanita! (sekedar intermezzo hehe ☺☺☺). 

Sekarang mari kita mulai fokus pada topik! 

Mulai berdagang di pasar malam (tahun 2003 - 2005).

Catatan Perjalanan Usahaku Bagian 4 (Berpetualang di Pasar Malam)
Ilustrasi pasar malam

Dalam artikel Catatan Perjalanan Usahaku Bagian 3 (Hijrah Total ke Jakarta) telah dikisahkan bahwa saya memutuskan untuk pindah rantau dari Pandeglang ke Jakarta. 

Setelah 3 bulan berjuang mencari lapak, pada suatu hari saya beristirahat di sebuah halte. Tanpa disengaja, ketika itu saya bertemu dengan salah seorang sahabat saya. Dia juga seorang pedagang, dan telah berpengalaman jualan di pasar malam. Namanya Iwan. 

Iwan ini adalah sahabat dan sekaligus mentor terbaik saya. Dia adalah orang yang pertama kali mengajari saya cara berdagang di pasar malam. 

Jika di masa sebelumnya saya hanya berdagang secara menetap di satu tempat (di pasar Pandeglang), nah ketika berdagang di pasar malam ini saya selalu berpindah-pindah. Jadi selain berdagang, kami (saya dan Iwan) juga seolah-olah sedang melakukan sebuah petualangan ☺. 

Fyi; Pasar malam pada era tahun 2000an itu adalah jenis pasar yang terbuka di malam hari. Di pasar ini, selain berisi pedagang juga mencakup berbagai jenis hiburan seperti korsel (lihat ilustrasi foto), atraksi 'roda gila', wahana 'ombak', permainan memancing ikan (di kolam air karet), dll. 

Pasar malam ini biasanya dalam bentuk grup (beberapa pedagang). Sekitar 50 pedagang umumnya mengikuti setiap grup. Setiap pedagang akan membayar biaya sewa stan/lapak kepada pengurus pasar malam. Harga setiap stan pedagang bervariasi sesuai dengan ukuran stan yang digunakan. Semakin besar ukuran stan, semakin tinggi sewa yang harus dibayar oleh pedagang. 

Pada waktu itu grup pasar malam yang saya ikuti bernama 'Mustika Jaya.'


Pemilik dan pemimpin kelompoklah yang bertugas untuk menemukan tanah atau lahan kosong di suatu daerah. Kemudian membayar sewa lahan dan mengurus izin dagang kepada pemerintah daerah setempat. Nah, nanti ketua grup akan menghitung semua total biaya. Kemudian menetapkan uang sewa stan, yang harus dibayar oleh setiap anggota grup/pedagang di pasar malam tersebut. 

Untuk pemilik stan besar seperti pedagang pakaian (menggunakan tenda), biaya sewa lapak ditetapkan/diukur per meter. Semakin besar ukuran tendanya, maka akan semakin mahal pedagang itu membayar sewanya. 

Pada saat itu saya tidak menggunakan tenda. Saya berusaha mencari sisa lahan kosong dan kebetulan belum ditempati oleh pedagang lain. Saya mencoba mencari dilokasi paling strategis (banyak orang lewat, dan akses jalannya mudah). Biasanya saya mengambil lahan kosong seluas 2 x 1 meter. Lalu permukaan tanahnya dilapisi dengan selembar terpal. Setelah itu, saya menyebar dan menyusun rapi semua kepingan DVD di atas terpal itu. 

Oleh pengurus pasar malam tersebut saya hanya diwajibkan untuk membayar biaya kebersihan dan listrik. Total sewa lapak saya per malamnya cukup murah, yaitu 15.000 rupiah ketika itu. Saya sangat bersyukur karena telah bertemu dengan sahabat saya itu (si Iwan). Karena dialah orang yang telah membantu memperkenalkan saya kepada pemimpin grup pasar malam itu, sehingga saya menjadi lebih mudah mendapatkan lapak. 

Artikel menarik lainnya : Catatan Perjalanan Usahaku Bagian 2 (Jualan kaset DVD di Pandeglang, Banten)

Sejak 'berpetualang' di pasar malam inilah mulai terjadi perubahan signifikan pada diri saya. Skill, pengalaman, dan ketajaman intuisi bisnis saya menjadi meningkat drastis.


Apa penyebabnya? 

Karena acara pasar malam ini selalu berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Bahkan pada hari-hari besar tertentu (seperti bulan puasa dan Idul Fitri), acara pasar malam ini diadakan di tingkat provinsi. Saya telah pernah berpartisipasi di berbagai acara pasar malam besar. Di antaranya yang pernah berlangsung di kota Cirebon, kota Lampung, area Pelabuhan ratu, dan Ancol. 

'Petualangan' inilah yang membuat pola pikir dan keterampilan saya semakin meningkat. ☺


Selain itu, saya juga jadi sering bertemu dengan berbagai pedagang. Yakni para pedagang dari berbagai latar belakang dan bermacam jenis dagangan. Dari situlah saya banyak belajar dari mereka tentang cara bernegosiasi, cara melobi, dan cara mengatur strategi dalam menghadapi persaingan. 

Sekadar informasi, persaingan di pasar malam sangat ketat dan lebih keras daripada persaingan dipasar Pandeglang (yang telah saya ceritakan di artikel; Catatan perjalanan usahaku bagian # 3). 

Perbedaannya adalah ...; di pasar malam ini, saya sudah tidak 'culun' lagi (seperti ketika pertama kali berkarir sebagai pedagang di pasar Pandeglang). Karena seiring waktu, saya terus belajar dari berbagai peristiwa pahit yang saya alami. Semua itu menjadi guru kehidupan, yang membuat pengalaman dan skill bisnis saya terus terasah secara alami. 

Saya juga terus berlatih dan selalu belajar tentang intrik dan strategi para pedagang yang saya temui (di setiap acara pasar malam tersebut). Bahkan saya juga mempelajari trik kongkalikong ('main  belakang') di pasar malam itu.

Namun, saya tidaklah meniru strategi dan cara kotor itu. Tujuan saya mempelajarinya adalah; jika saya memahami cara-cara kotor mereka, maka, jika suatu hari saya menjadi sasaran rencana licik mereka, maka saya sudah memiliki cara untuk melawan mereka.


Salah satu contoh dari strategi licik ini adalah seperti; 'Menggeser' lapak orang lain (yang ramai oleh pembeli) dengan trik politik uang (menyuap pemimpin kelompok). Jadi pedagang yang memiliki modal bisnis besar memberikan iming-iming sewa lebih tinggi kepada administrator pasar malam. Sehingga lapak yang ramai itu diberikan kepada mereka, dan menyuruh pedagang (pemilik lapak sebelumnya) itu pindah ke tempat lain. 

Salah satu cara terbaik untuk menangkal trik licik ini adalah; kita harus akrab (berteman dekat) dengan administrator dan pemimpin grup pasar malam tersebut. Apa alasannya? Karena jika Anda sudah kenal dekat, bahkan berteman dekat dengan pengurus/pemimpin pasar malam, maka tidak akan ada pedagang lain yang berani 'menggeser' posisi lapak Anda. 

Nah trik penangkal itulah yang saya terapkan. Terlebih lagi, sahabat saya (yaitu si Iwan) juga merupakan teman dekat dari administrator grup pasar malam tersebut, sehingga posisi saya menjadi lebih aman selama berdagang di pasar malam itu. 

Itulah yang disebut 'trik melobi'. Nah, skill inilah yang belum saya miliki ketika di awal karier sebagai pedagang (di pasar Pandeglang dulu). Makanya selama berdagang dipasar pandeglang itu saya menjadi orang cupu, yang lapaknya selalu menjadi korban 'digeser' oleh orang lain ke sana ke mari. He-he-he ☺ 

Intinya ; semua orang pasti memulai karirnya dari newbie terlebih dahulu. Tidak ada orang yang ujug-ujug langsung menjadi ahli dan expert di bidangnya. Setuju? 

Artikel menarik lainnya: Berkelana ke Kota Padang (My Story)

Saat-saat suka/menyenangkan selama berdagang di pasar malam.


Catatan Perjalanan Usahaku Bagian 4 (Berpetualang di Pasar Malam)


(Saya ingin menceritakan kepada Anda masa-masa sukanya terlebih dahulu. Nanti di seri artikel berikutnya akan saya ceritakan kisah sedihnya.) .☺

Acara pasar malam yang pertama kali saya ikuti ini berlokasi tidak jauh dari toko fisik saya sekarang (RC. Toys). Yakni di kelurahan Kalisari Jakarta timur. Acara pasar malam itu berlangsung di sebuah lapangan terbuka. Enam belas tahun yang lalu tanahnya masih terbuka lebar, belum dipenuhi semak-semak seperti sekarang. Sekarang, lapangan yang berlokasi tengah kelurahan Kalisari itu telah di pagari tembok beton di sekelilingnya. (Kalau ada di antara pembaca blog ini yang orang Kalisari, pasti paham lapangan yang saya maksud). ☺

Kembali fokus ke topik.

Apakah anda masih ingat? Tentang kisah awal pertemuan saya dengan si Iwan? (Bagi Anda yang belum tahu, silakan baca seri artikel bagian 3). Seperti yang saya tulis di alinea terakhir artikel itu, bahwa si Iwan adalah seorang pedagang yang telah berpengalaman di pasar malam.

Ketika di puncak upaya saya mencari kios/lapak ke berbagai pasar di Jakarta, tiba-tiba Tuhan mempertemukan saya dengan si Iwan. Inilah rekan sesama pedagang PKL yang kemudian menjadi sahabat saya. 

Si Iwan kemudian mengajak saya untuk ikut berdagang di pasar malam. Tanpa banyak berpikir panjang, pada hari berikutnya saya langsung ikut pergi ke pasar malam dengannya.

Seperti yang telah saya katakan di atas, pada waktu itu acara pasar malam berlangsung di sebuah lapangan di daerah Kalisari.

Apakah Anda tahu apa yang kemudian terjadi di sana?

Ternyata omset saya 'meledak!' Tanpa diduga, ternyata kepingan DVD saya laris terjual pada waktu itu!


Pada hari pertama berdagang dipasar malam Kalisari itu, saya masih ingat berhasil menjual sekitar 90an keping DVD (omset sekitar 300.000 rupiah). Ini merupakan omset yang sangat mencolok jika dibandingkan dengan ketika saya berdagang di pasar Pandeglang dulu. Ketika di pasar Pandeglang, saya hanya mampu menjual maksimal 20 keping DVD per hari.

Sejak saat itu, 'spirit baru' saya langsung bangkit! Saya pun langsung memutuskan untuk terus ikut serta dengan grup pasar malam itu, bareng teman baik saya, si Iwan.

Selain di Kalisari, acara pasar malam paling ramai yang pernah saya ikuti adalah di kawasan industri Jababeka Cikarang. Itu adalah sebuah acara besar pada saat bulan puasa dan Idul Fitri. Di Cikarang, acara pasar malam ini berlangsung selama satu bulan. Dimulai sejak minggu kedua bulan puasa, sampai acara berakhir pada minggu kedua setelah Idul Fitri.

Jadi bisa dibilang; Saya 'merayakan' Idul Fitrinya di acara pasar malam tersebut!


Saya hanya libur 1 hari pas dihari 'H' Idul Fitri. Karena saya mesti pulang ke rumah untuk bertemu kedua orang tua saya. Pada hari berikutnya saya langsung pergi lagi ke sana (pasar malam). 

Mungkin anda akan bertanya : "Kok buru-buru banget bang?" 

Yah,,, Harap maklum, saya lagi 'kejar setoran!' hehe ☺

Selama acara pasar malam di Jababeka Cikarang ini, saya mendapat omset kotor sekitar 10 juta rupiah.

Bila dipotong semua biaya operasional yang dikeluarkan selama acara (termasuk biaya makan dan transport), maka ketika itu saya masih mendapatkan laba bersih sekitar 4 juta rupiah.

Pasti ada di antara Anda yang mengatakan; Wah itu mah hasilnya lumayan bro! Karena untuk ukuran nilai rupiah pada tahun 2003, laba bersih sebesar Rp. 4 juta cukup besar! "

Yes!! Betul sekali! Pada era itu prospek jualan DVD masih bagus. Karena harga jualnya masih tinggi dan belum banyak pedagang yang menjatuhkan harga.

Tetapi masa-masa suka itu hanya bisa bertahan sampai akhir tahun 2003. Memasuki tahun 2004 situasi mulai sulit, karena banyak pedagang yang menjatuhkan harga.


Dari harga pasaran awal 10.000 rupiah per tiga keping DVD, maka pada tahun 2004 harga mulai bergeser menjadi 10.000 rupiah per 4 keping DVD. Bahkan pada tahun 2005 harga jual semakin jatuh bebas, yakni menjadi 5.000 rupiah per 3 keping DVD!

Pada saat inilah dimulainya masa-masa sulit saya selama berdagang di pasar malam.

Bagaimana kisah saya dalam menghadapi masa-masa sulit tersebut? Kisahnya telah saya tulis lengkap di artikel ini : Catatan Perjalanan Usahaku Bagian 5 (Persaingan Tidak Sehat di Pasar Malam)


Artikel ini ditulis dan diceritakan oleh Bang izal.
Bang izal
Bang izal Saya Seorang Praktisi Bisnis Mainan. Sangat hobi menulis dan suka berdiskusi. Saya ingin sekali saling berbagi ilmu, dan pengalaman, dengan teman-teman semua melalui blog ini.

Post a Comment for "Catatan Perjalanan Usahaku Bagian 4 (Berpetualang di Pasar Malam)"